Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang membaca dzikir tauhid tertentu ketika berada di pasar, yaitu pengakuan bahwa Allah Maha Esa, Maha Hidup, Maha Berkuasa, dan segala kebaikan di tangan-Nya. Bagi yang membacanya, Allah menjanjikan catatan seribu juta kebaikan, penghapusan seribu juta keburukan, dan pembangunan rumah di surga. Namun Imam at-Tirmidzi sendiri memberi catatan bahwa jalur sanad hadits ini diperbincangkan sebagian ahli hadits, sehingga keutamaannya diharapkan dan diamalkan, tetapi tidak dijadikan patokan yang pasti tanpa memeriksa jalur lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat yang sangat relevan dengan makna dzikir ini adalah perintah berdzikir dan keutamaan kalimat tauhid:
QS. Al-Ahzab [33]: 41
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak."
Juga QS. Al-Baqarah [2]: 152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Terjemahan: "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."
Adapun hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Kitab Doa, Bab Apa yang Dikatakan Ketika Masuk Pasar, dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه). Imam at-Tirmidzi setelah menyebutkannya memberi catatan bahwa 'Amr bin Dinar (perawi dalam jalur ini) adalah syaikh Bashrah yang diperbincangkan sebagian ahli hadits, dan hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain melalui Yahya bin Sulaim ath-Tha'ifi dari Imran bin Muslim dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ, tanpa menyebut "dari Umar".
Penjelasan Rinci
Makna dzikir dalam hadits ini adalah penegasan tauhid yang sangat lengkap:
- "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ" — tidak ada yang berhak disembah selain Allah, Dia Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Ini adalah inti dakwah para nabi, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an.
- "لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ" — kerajaan dan segala pujian hanya milik Allah. Ini menunjukkan kesempurnaan rububiyah dan uluhiyah-Nya.
- "يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ" — Dia yang menghidupkan dan mematikan, sedangkan Dia sendiri Maha Hidup dan tidak akan mati. Ini membedakan-Nya dari semua makhluk yang pasti mati.
- "بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ" — segala kebaikan di tangan-Nya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ini menanamkan tawakal dan rasa bergantung hanya kepada Allah.
Para ulama dalam daftar yang menjelaskan keutamaan dzikir dan tauhid antara lain:
- Imam an-Nawawi dalam kitab-kitab beliau tentang dzikir menegaskan bahwa kalimat tauhid adalah dzikir yang paling utama, karena mengandung penetapan keesaan Allah dan penafian segala sekutu.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib menjelaskan bahwa dzikir memiliki pengaruh besar bagi hati, dan dzikir di tempat-tempat ramai seperti pasar memiliki keutamaan tersendiri karena menegakkan tauhid di tengah kelalaian manusia.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam at-Tirmidzi sendiri memberi perhatian pada sisi sanad, sehingga kita memahami bahwa keutamaan besar ini perlu disikapi dengan ilmu: mengamalkan isinya sambil menyadari catatan ahli hadits tentang jalurnya.
Mengenai angka "seribu juta" (أَلْفَ أَلْفِ), para ulama memahaminya sebagai ungkapan besarnya pahala yang Allah berikan, dan Allah-lah yang mengetahui hakikatnya. Yang penting adalah isinya mendorong seorang hamba untuk berdzikir dengan ikhlas dan penuh keyakinan.
Perlu dicatat: dalam daftar ulama yang menjadi rujukan, tidak semua memberi komentar tegas khusus tentang hadits ini. Yang tegas memberi catatan adalah Imam at-Tirmidzi dalam kitabnya sendiri. Karena itu, kita jujur mengatakan bahwa penjelasan rinci tentang derajat hadits ini sebaiknya dirujuk kepada ulama hadits terpercaya yang meneliti jalur-jalurnya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa para salaf sangat menjaga dzikir di pasar. Sebagian mereka mengatakan bahwa pasar adalah tempat kelalaian manusia, maka siapa yang berdzikir tauhid di sana, ia seperti menyalakan cahaya di tengah kegelapan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib menuturkan bahwa dzikir adalah makanan hati; jika hati kosong dari dzikir, ia menjadi lemah dan mudah dikuasai syaitan. Maka seorang mukmin yang mengingat Allah saat berjualan, membeli, atau berjalan di pasar, ia sedang menjaga hatinya dari kelalaian. Hikmahnya: tempat dan keadaan apa pun bisa menjadi ladang pahala bagi orang yang hatinya terhubung dengan Allah.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah dzikir ini ketika masuk atau berada di pasar dengan penuh keyakinan dan ikhlas, karena isinya adalah tauhid yang agung.
- Pahami maknanya, bukan hanya melafalkan; tauhid yang dipahami akan menjaga hati dari syirik dan kelalaian.
- Ketahuilah bahwa Imam at-Tirmidzi memberi catatan pada jalur hadits ini, maka amalkan dengan harapan pahala dan jangan memastikan derajatnya tanpa merujuk penelitian ulama hadits terpercaya.
- Jadikan pasar tempat berdzikir, bukan hanya tempat berdagang, karena dzikir di tengah ramainya manusia menunjukkan kuatnya iman.
- Jangan berlebihan (ghuluw) dalam menetapkan angka pahala; cukup meyakini bahwa Allah Maha Adil dan Maha Pemberi karunia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.