Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3414 tentang Doa saat terbangun malam dan keutamaannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang terbangun di malam hari, lalu mengucapkan serangkaian kalimat tauhid, tasbih, tahmid, takbir, dan hauqalah, kemudian memohon ampun kepada Allah. Jika ia berdoa, doanya dikabulkan; dan jika ia berwudhu lalu shalat, shalatnya diterima. Ini menunjukkan betapa mulianya waktu malam bagi seorang mukmin untuk mendekat kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Jami' At-Tirmidzi (no. 3414), dari sahabat 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, dan dinilai oleh At-Tirmidzi sebagai hasan shahih gharib. Sanadnya: Al-Walid bin Muslim → Al-Awza'i → 'Umair bin Hani' → Junadah bin Abi Umayyah → 'Ubadah bin Ash-Shamit.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan bangun malam dan dzikir, di antaranya:

QS. Al-Isra' [17]: 79

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

QS. As-Sajdah [32]: 16

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."

QS. Al-Baqarah [2]: 152

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."

Hadits ini juga memiliki syahid (penguat) dari Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang semakna, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

Makna "Ta'arra" (تَعَارَّ): Para ulama bahasa menjelaskan bahwa kata ini berarti terbangun dari tidur dengan sadar dan sengaja, bukan sekadar bergerak atau berbalik badan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa "ta'arra" artinya bangun dari tidur lalu terjaga dengan penuh kesadaran.

Kalimat-kalimat yang diucapkan:

  1. Kalimat tauhid — Lā ilāha illallāh, waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai'in qadīr. Ini menegaskan keesaan Allah, kekuasaan-Nya yang mutlak, dan pujian hanya bagi-Nya.
  2. Tasbih, tahmid, takbir — Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar. Ini adalah empat kalimat yang dalam hadits lain disebut sebagai kalimat yang dicintai Allah, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah.
  3. Hauqalah — Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. Ini adalah pengakuan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.
  4. Istighfar — Rabbighfirlī (Ya Tuhanku, ampunilah aku).

Faedah dari hadits ini menurut para ulama:

Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa dzikir-dzikir ini disunnahkan diucapkan ketika seseorang terbangun di malam hari, dan ini merupakan pintu masuk untuk berdoa serta shalat malam. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan bangun malam dan besarnya pahala bagi yang mengamalkannya.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa doa yang dilakukan setelah dzikir-dzikir ini lebih dikabulkan, karena dzikir tersebut merupakan wasilah (perantara) yang mendekatkan hamba kepada Allah.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kepada umatnya untuk memulai bangun malam dengan dzikir tauhid, karena tauhid adalah pondasi seluruh ibadah. Beliau juga menjelaskan bahwa urutan dalam hadits ini — dzikir, istighfar, doa, wudhu, shalat — menunjukkan adab yang berurutan dalam beribadah kepada Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang bangun malam menunjukkan bahwa orang-orang beriman yang bangun malam adalah mereka yang hatinya hidup dan rindu kepada Allah.

Perbedaan pendapat di antara ulama: Sebagian ulama seperti Al-Awza'i (yang merupakan salah satu perawi dalam sanad hadits ini) dan Sufyan ats-Tsauri berpendapat bahwa dzikir ini diucapkan sebelum berwudhu dan shalat. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam riwayat yang masyhur berpendapat bahwa dzikir ini diucapkan setelah bangun, sebelum melakukan apapun. Namun kesimpulannya, urutan yang disebutkan dalam hadits — dzikir, istighfar, doa, wudhu, shalat — adalah yang paling kuat dan sesuai dengan zhahir hadits.

Catatan tentang status hadits: At-Tirmidzi menyebut hadits ini hasan shahih gharib. Gharib di sini bukan berarti lemah, tetapi menunjukkan bahwa ada keunikan dalam sanadnya. Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi menilai hadits ini shahih.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat Anshar yang ikut dalam Perang Badar, adalah salah satu sahabat yang sangat menjaga shalat malam. Beliau meriwayatkan hadits ini langsung dari Rasulullah ﷺ, menunjukkan bahwa beliau sendiri mengamalkan apa yang beliau riwayatkan.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang tabi'in yang terkenal dengan zuhud dan ibadahnya, pernah berkata tentang orang-orang yang bangun malam: "Mereka adalah orang-orang yang hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah, sehingga mereka tidak bisa tidur nyenyak di malam hari." Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat menjaga shalat malam dan dzikir.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, seorang imam besar dalam hadits dan fiqih, pernah ditanya tentang amalan yang paling utama. Beliau menjawab: "Bangun di malam hari dan berdzikir kepada Allah, karena itu adalah amalan para salafus shalih."

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan dzikir ini ketika terbangun di malam hari, meskipun hanya sebentar, karena keutamaannya sangat besar.
  2. Ucapkan dengan penuh kesadaran dan khusyuk, bukan sekadar lisan, karena ini adalah momen istimewa antara hamba dan Rabb-nya.
  3. Lanjutkan dengan istighfar dan doa, karena doa setelah dzikir ini dijanjikan dikabulkan.
  4. Jika mampu, berwudhu dan shalatlah — meskipun hanya dua rakaat — karena shalat setelah bangun malam memiliki keutamaan yang besar.
  5. Jangan remehkan amalan kecil ini, karena bisa menjadi sebab diampuninya dosa-dosa dan diterimanya shalat.
  6. Ajarkan kepada keluarga dan orang-orang terdekat, karena ini adalah sunnah yang banyak dilupakan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?