Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita adab penting dalam setiap perkumpulan atau majelis. Jika suatu kelompok berkumpul tanpa mengingat Allah dan tanpa bershalawat kepada Nabi ﷺ, maka majelis tersebut akan menjadi sebab penyesalan (hasrah) dan kerugian bagi mereka di hari Kiamat. Ini adalah peringatan lembut agar kita senantiasa menghidupkan majelis kita dengan dzikir dan shalawat, sekaligus menunjukkan kasih sayang Allah yang Maha Kuasa untuk mengampuni atau menghukum sesuai kehendak-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa dari Rasulullah ﷺ, Bab Tentang Orang-orang yang Duduk dan Tidak Menzikir Allah, nomor 3380. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih (baik dan sahih).
Teks Hadits (sebagaimana yang Anda sertakan):
مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ
Makna Ringkas: "Tidaklah suatu kaum duduk di suatu majelis yang mereka tidak mengingat Allah di dalamnya dan tidak bershalawat kepada Nabi mereka, melainkan majelis itu akan menjadi penyesalan (tirah) bagi mereka. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengazab mereka, dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuni mereka."
Penjelasan Ulama tentang Makna "Tirah" (تِرَةً):
Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya menjelaskan, "Makna perkataan beliau 'tirah' adalah penyesalan (hasrah) dan kehilangan (nadamah)." Beliau juga menukil bahwa sebagian ulama bahasa Arab berpendapat, "At-tirah adalah ats-tsa'r (dendam/balas)." Ini menunjukkan bahwa majelis yang kosong dari dzikir akan menjadi sumber kerugian yang nyata bagi pelakunya.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Hakikat Majelis dan Dzikir: Hadits ini menegaskan bahwa setiap perkumpulan manusia, baik itu pertemuan formal, obrolan santai, atau bahkan majelis ilmu, memiliki nilai di sisi Allah. Jika majelis tersebut diisi dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan maksiat, maka ia akan menjadi "tirah" (penyesalan). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya sering menekankan bahwa dzikir adalah makanan hati dan ruh. Majelis yang kosong dari dzikir adalah majelis yang kering dan akan melahirkan penyesalan.
- Makna "Tirah" (Penyesalan): Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Al-Wabilus Shayyib menjelaskan bahwa penyesalan di hari Kiamat akan terasa sangat berat bagi mereka yang menyia-nyiakan waktunya di dunia, termasuk waktu-waktu dalam majelis. Beliau mengibaratkan orang yang tidak berdzikir seperti orang yang kehilangan harta paling berharga tanpa ia sadari. Penyesalan ini muncul karena mereka menyadari betapa banyaknya pahala dan kebaikan yang luput dari mereka.
- Keseimbangan Antara Harapan dan Rasa Takut: Frasa "Jika Dia menghendaki, Dia akan mengazab mereka, dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuni mereka" menunjukkan bahwa perkara ini berada di bawah kehendak mutlak Allah. Ini mengajarkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, namun juga tidak merasa aman dari azab-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sering menekankan pentingnya khauf (takut) dan raja' (harap) dalam beribadah. Kita harus takut jika majelis kita sia-sia, dan berharap Allah mengampuni kekurangan kita.
- Perintah Shalawat: Hadits ini secara eksplisit menggandengkan dzikir kepada Allah dengan shalawat kepada Nabi ﷺ. Imam Al-Qurthubi (yang sejalan dengan pemahaman ulama dalam daftar) menjelaskan bahwa shalawat adalah bentuk penghormatan dan pengakuan atas kenabian, serta doa untuk kemuliaan beliau. Dengan bershalawat, seorang hamba terhubung dengan Rasulullah ﷺ dan mendapatkan syafaatnya.
- Peringatan dari Majelis yang Lalai: Imam Al-Barbahari dalam Syarhus Sunnah mengingatkan agar seorang muslim menjaga waktunya dan tidak duduk dalam majelis yang melalaikan. Majelis seperti itu adalah majelis yang akan menjadi "ats-tsa'r" (dendam) yang menuntut balas di hari Kiamat, karena ia adalah tempat hilangnya waktu yang seharusnya digunakan untuk ketaatan.
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama besar dari kalangan Tabi'in, bahwa beliau sangat menjaga waktunya dan membenci majelis yang kosong dari dzikir. Suatu ketika, beliau melewati sekelompok orang yang sedang tertawa terbahak-bahak di sebuah majelis. Al-Hasan berhenti dan berkata kepada mereka dengan lembut, "Sungguh, Allah telah menjadikan waktu sebagai titipan. Jika kalian gunakan untuk hal yang sia-sia, maka kalian akan menyesal di hari di mana penyesalan itu tidak berguna. Isilah majelis kalian dengan dzikir dan shalawat, karena itu adalah sebaik-baik perniagaan."
Perkataan Al-Hasan ini menyentuh hati mereka. Ini mengajarkan kita bahwa para salafus shalih sangat memperhatikan nilai waktu dan isi dari setiap perkumpulan. Mereka tidak membiarkan majelis berlangsung tanpa ada manfaat duniawi dan ukhrawi.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Biasakan Membuka Majelis dengan Dzikir: Mulailah setiap pertemuan, baik di rumah, kantor, atau masjid, dengan membaca basmalah, hamdalah, dan shalawat kepada Nabi ﷺ.
- Isi Waktu Senggang dengan Dzikir: Jika kita sedang menunggu atau dalam perjalanan, gunakan waktu tersebut untuk berdzikir, membaca Al-Qur'an, atau bershalawat.
- Tutup Majelis dengan Kebaikan: Biasakan untuk menutup majelis dengan doa kaffaratul majelis (doa penutup majelis) yang diajarkan Nabi ﷺ, seperti "Subhanaka Allahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik" (Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).
- Jauhi Majelis yang Sia-sia: Berusahalah untuk tidak menghabiskan waktu terlalu lama dalam obrolan yang tidak bermanfaat. Jika terpaksa, maka ingatlah Allah di dalam hati dan perbanyak istighfar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.