Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah jawaban indah dari Nabi ﷺ untuk seorang sahabat yang merasa kewalahan dengan banyaknya syariat Islam. Beliau tidak menyuruhnya menghafal banyak hal, tetapi cukup satu amalan yang ringan namun sangat besar pahalanya: menjadikan lidah selalu basah dengan dzikir kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa dzikir adalah amalan yang bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, tanpa memberatkan, dan menjadi kunci untuk menolong seorang hamba dalam menjalankan seluruh syariat lainnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:
Teks hadits yang Anda berikan sudah lengkap dengan sanadnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa dari Rasulullah ﷺ, Bab Keutamaan Dzikir, no. 3375. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dari jalur ini.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya."
(QS. Al-Ahzab [33]: 41)
Ayat ini memerintahkan kaum mukminin untuk berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang banyak, yang sejalan dengan sabda Nabi ﷺ dalam hadits di atas agar lidah senantiasa basah oleh dzikir.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan bahwa dzikir adalah amalan yang paling mudah namun paling utama. Beliau menukil kesepakatan ulama tentang dianjurkannya memperbanyak dzikir dalam segala keadaan.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dzikir yang banyak adalah dzikir yang dilakukan dengan hati dan lisan, baik berupa tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan doa-doa syar'i lainnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki makna yang sangat dalam dan menjadi obat bagi setiap muslim yang merasa berat menjalankan ibadah.
1. Konteks Pertanyaan Sahabat
Sahabat Abdullah bin Busr radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi ﷺ dan mengeluh, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak sekali bagiku." Ini adalah keluhan yang jujur dari seorang yang ingin beramal namun merasa kewalahan dengan banyaknya aturan dan ibadah dalam Islam. Ini bukan berarti dia ingin meninggalkan syariat, tetapi dia ingin mendapatkan satu pegangan yang bisa membuatnya istiqamah.
2. Jawaban Nabi ﷺ yang Menakjubkan
Nabi ﷺ tidak menjawab dengan perintah yang berat, tetapi dengan satu kalimat yang ringkas: "Janganlah lidahmu berhenti berdzikir kepada Allah."
Para ulama menjelaskan bahwa jawaban ini memiliki hikmah yang agung:
- Dzikir adalah amalan yang paling ringan karena tidak memerlukan wudhu, tidak terikat waktu tertentu, dan bisa dilakukan sambil bekerja, berjalan, atau berbaring.
- Dzikir adalah sumber kekuatan hati. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Dzikir bagi hati seperti air bagi ikan. Jika ikan keluar dari air, bagaimana keadaannya?" Maksudnya, hati seorang mukmin akan hidup dan kuat dengan dzikir, dan dengan kekuatan hati itu ia akan mampu menjalankan seluruh syariat lainnya dengan ringan.
- Dzikir adalah kunci segala kebaikan. Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Wabil Ash-Shayyib menjelaskan bahwa dzikir adalah pondasi dari segala amalan. Siapa yang lisannya basah dengan dzikir, maka hatinya akan terang, dan dengan cahaya hati itu ia akan dimudahkan untuk beramal shalih lainnya.
3. Makna "Lidah Basah"
Ungkapan "rathan" (basah) adalah kiasan yang indah. Lidah yang basah adalah lidah yang tidak kering dari dzikir. Ini menunjukkan kesinambungan dan kontinuitas. Bukan hanya dzikir sesekali, tetapi dzikir yang terus-menerus. Sebagaimana air membasahi lidah, maka dzikir harus senantiasa membasahi lisan seorang mukmin.
4. Penerapan dalam Kehidupan
Hadits ini tidak berarti kita hanya berdzikir dan meninggalkan amalan lain. Akan tetapi, dzikir adalah pintu masuk dan penguat untuk semua amalan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa dzikir yang dimaksud di sini adalah dzikir yang disyariatkan, seperti tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (laa ilaaha illallah), takbir (allahu akbar), istighfar, shalawat, dan doa-doa harian. Semua ini bisa dilakukan di mana saja.
Story Telling
Ada kisah yang sangat masyhur tentang seorang salaf yang bernama Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Beliau pernah ditanya oleh seseorang, "Wahai Abu Sa'id, aku merasa berat untuk beribadah. Apa obatnya?"
Al-Hasan Al-Bashri menjawab dengan bijak, "Perbanyaklah dzikir kepada Allah. Karena dzikir itu akan membuat hatimu hidup, dan hati yang hidup akan merasa ringan untuk beribadah. Sebaliknya, hati yang lalai akan merasa berat untuk taat."
Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf memahami betul pesan hadits ini. Mereka menjadikan dzikir sebagai terapi hati agar ibadah terasa ringan dan menyenangkan.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Jadikan dzikir sebagai kebiasaan harian, bukan hanya saat selesai shalat. Dzikirlah saat berjalan, bekerja, menunggu, atau di sela-sela aktivitas.
- Mulai dengan dzikir yang mudah, seperti subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, allahu akbar, dan astaghfirullah.
- Jangan remehkan dzikir yang sedikit tapi rutin. Dzikir yang sedikit namun terus-menerus lebih baik daripada banyak namun hanya sesekali.
- Niatkan dzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar gerakan lisan tanpa kehadiran hati.
- Jika merasa berat beribadah, perbanyaklah istighfar dan dzikir, karena itu akan melapangkan hati dan memudahkan kita untuk taat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.