Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3357 tentang Pertanyaan tentang kenikmatan dunia di akhirat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap nikmat yang Allah berikan kepada kita akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat, termasuk nikmat-nikmat sederhana yang sering kita anggap remeh. Para sahabat saat itu menyangka mereka tidak akan ditanya karena hidup dalam kesulitan dan peperangan, namun Nabi ﷺ menegaskan bahwa pertanyaan itu pasti akan datang. Hadits ini mengajarkan kita untuk bersyukur dan menggunakan setiap nikmat sesuai keridhaan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang menjadi sebab turunnya hadits ini:

QS. At-Takatsur [102]: 8

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Terjemahan: "Kemudian pada hari itu, kamu benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab tentang Surah At-Takatsur, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi juga menyebutkan bahwa riwayat Sufyan bin 'Uyainah dari Muhammad bin 'Amr lebih shahih daripada riwayat Abu Bakr bin 'Ayyasy.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mencakup pertanyaan tentang semua nikmat: kesehatan, keamanan, makanan, minuman, dan lainnya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa pertanyaan tentang nikmat bersifat umum, mencakup nikmat agama dan dunia.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa syukur atas nikmat adalah kewajiban, dan kelalaian dalam bersyukur akan dipertanggungjawabkan.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Ketika ayat 8 dari Surah At-Takatsur turun, para sahabat merasa heran. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, tentang nikmat apa kami akan ditanya? Padahal yang ada hanyalah dua hal hitam (kurma dan air), musuh ada di hadapan kami, dan pedang kami siap di pundak kami." Mereka mengira bahwa karena hidup dalam kesempitan dan peperangan, mereka tidak akan ditanya tentang nikmat. Namun Nabi ﷺ menjawab: "Sesungguhnya itu akan terjadi" — artinya pertanyaan itu pasti datang, bahkan untuk nikmat yang tampak kecil.

Pemahaman ulama:

  1. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini bersifat umum dan mencakup semua nikmat, baik yang besar maupun yang kecil. Bahkan seteguk air dan sebutir kurma akan ditanya: apakah digunakan untuk taat kepada Allah atau untuk maksiat?
  2. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menyebutkan bahwa nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan kesehatan. Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat iman, maka ia akan ditanya tentang kelalaiannya.
  3. As-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa pertanyaan ini bukan untuk menyusahkan hamba, tetapi untuk menunjukkan betapa besar nikmat Allah yang sering dilupakan. Syukur adalah cara untuk menjawab pertanyaan itu dengan baik.
  4. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan nikmat sekecil apa pun. Bahkan tidur yang nyenyak, rasa aman, dan kesehatan adalah nikmat yang akan dipertanggungjawabkan.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah berpendapat bahwa yang dimaksud "nikmat" dalam ayat ini adalah nikmat kesehatan dan waktu luang. Sementara Mujahid mengatakan bahwa itu mencakup semua kenikmatan dunia. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat Ibnu Katsir dan As-Sa'di bahwa ayat ini bersifat umum, mencakup semua nikmat tanpa terkecuali.

Story Telling

Dikisahkan bahwa suatu ketika Abdullah bin al-Mubarak bertemu dengan seorang zahid yang sangat sederhana hidupnya. Orang itu hanya memiliki sepotong roti kering dan air. Abdullah bin al-Mubarak berkata kepadanya: "Wahai saudaraku, apakah engkau tidak takut ditanya tentang nikmat ini?" Orang itu menjawab: "Aku justru takut ditanya tentang nikmat yang lebih besar, yaitu nikmat iman dan Islam. Adapun roti dan air, aku sudah bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah." Abdullah bin al-Mubarak pun menangis dan berkata: "Engkau benar. Nikmat iman adalah yang paling besar dan paling berat pertanggungjawabannya."

Hikmah: Nikmat yang paling besar adalah iman dan hidayah. Barangsiapa mensyukuri iman, maka nikmat-nikmat lain akan mudah disyukuri.

Kesimpulan Praktis

  1. Sadari bahwa setiap nikmat akan ditanya. Mulai dari kesehatan, waktu luang, makanan, minuman, hingga rasa aman.
  2. Biasakan mengucapkan Alhamdulillah setiap kali menerima nikmat, sekecil apa pun.
  3. Gunakan nikmat untuk taat kepada Allah. Jangan gunakan kesehatan untuk maksiat, jangan gunakan harta untuk yang haram.
  4. Jangan meremehkan nikmat sederhana. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan tidur yang nyenyak adalah nikmat yang akan dipertanggungjawabkan.
  5. Perbanyak syukur dengan amal. Syukur bukan hanya ucapan, tetapi juga dengan hati, lisan, dan perbuatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?