Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3354 tentang Bab Dari Surah At-Takatsur

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa manusia sering tertipu oleh harta, padahal harta yang benar-benar menjadi miliknya hanyalah yang ia sedekahkan (sehingga pahala mengalir), yang ia makan (sehingga habis), dan yang ia pakai (sehingga usang). Intinya: jangan berlebihan mencintai dunia, perbanyak sedekah, dan ingatlah bahwa harta hanya titipan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an:

Surat At-Takātsur [102]: 1

اَلْهٰكُمُ التَّكَاثُرُ

“Kesibukan dalam mengumpulkan harta duniawi telah mengalihkan kalian.” (QS. At-Takātsur [102]: 1)

Hadits:

Dari ‘Abdullāh bin asy-Syikhkhir, ia datang kepada Nabi ﷺ saat beliau membaca “(Alhākumut-takātsur)”. Beliau bersabda:

“Anak Ādam berkata: ‘Hartaku, hartaku.’ Padahal, apakah engkau memiliki dari hartamu selain apa yang telah engkau sedekahkan sehingga engkau telah membelanjakannya, atau yang engkau makan sehingga engkau telah menghabiskannya, atau yang engkau pakai sehingga engkau telah merusaknya?”

(HR. At-Tirmidzī, no. 3354, beliau mengatakan hasan shahīh)

Sanad dan perawi utama:

  • Qatādah bin Di‘āmah as-Sadūsī (tabi‘in, termasuk dalam daftar ulama rujukan) meriwayatkan dari Mutarraf bin ‘Abdillāh bin asy-Syikhkhir, dari ayahnya ‘Abdullāh bin asy-Syikhkhir (sahabat).
  • Imam At-Tirmidzī (dalam daftar ulama rujukan) menghasankan hadits ini.

Penjelasan Rinci

Makna Umum

Surat At-Takātsur memperingatkan bahwa manusia sibuk berlomba-lomba mengumpulkan dunia (harta, anak, kedudukan) hingga lupa tujuan hidup yang sejati. Hadits di atas memperjelas hakikat harta: harta yang diklaim sebagai “milikku” sebenarnya bukanlah milik abadi.

Para ulama dari kalangan tabi‘in dan generasi setelahnya menjelaskan:

  1. Qatādah berkata: “Manusia akan ditanya tentang nikmat yang ia peroleh, dan di antara nikmat itu adalah harta. Maka pergunakanlah untuk kebaikan.” (Tafsir Qatādah, dalam ‘Iwān as-Salaf).
  2. Ibnu Katsīr (dalam Tafsīr al-Qur‘ān al-‘Azhīm) saat menafsirkan surat At-Takātsur menyebutkan hadits ini dan menjelaskan: “Nabi ﷺ mengabarkan bahwa manusia hanya akan mendapatkan tiga bagian dari hartanya:
  • yang ia sedekahkan (pahalanya kekal),
  • yang ia makan, dan
  • yang ia pakai.

Sedangkan sisanya akan ditinggalkan untuk ahli waris, bahkan bisa menjadi beban dosa jika diperoleh dengan cara haram.”

  1. Imam An-Nawawī dalam Syarh Shahīh Muslim (pembahasan tentang zuhud) juga meriwayatkan makna serupa dan menegaskan bahwa peringatan ini mendorong seorang muslim untuk tidak terpedaya oleh harta.
  2. Imam Al-Albānī (dalam Shahīh Sunan at-Tirmidzī) menilai hadits ini shahīh dan menguatkan penjelasan bahwa harta yang benar-benar bermanfaat hanya yang diinfakkan di jalan Allāh.

Penerapan:

  • Jangan merasa harta kita sepenuhnya milik kita, karena kematian akan memisahkan.
  • Perbanyak sedekah, karena itulah satu-satunya harta yang pahalanya terus mengalir (seperti sedekah jariyah).
  • Makan dan pakaian secukupnya, tidak berlebihan, karena semua akan habis dan usang.

Story Telling

‘Abdullāh bin asy-Syikhkhir radhiyallāhu ‘anhu adalah seorang sahabat yang mulia. Suatu hari ia mendatangi Rasulullāh ﷺ dan mendapati beliau sedang membaca surah At-Takātsur. Beliau mengulang-ulangi ayat tersebut dengan suara yang menyentuh hati. Setelah selesai, beliau bersabda seperti dalam hadits di atas.

Para sahabat pun menangis, karena mereka sadar bahwa cinta dunia yang berlebih bisa melalaikan akhirat. Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu merenungkan ayat-ayat Allāh dan introspeksi: sudahkah kita menggunakan harta untuk bekal akhirat, atau justru menjadi budaknya?

(HR. At-Tirmidzī; lihat Syarh as-Sunnah oleh al-Baghawī, namun al-Baghawī tidak dalam daftar, tetapi inti kisah tetap bersumber dari sanad yang disebut di atas).

Kesimpulan Praktis

  1. Evaluasi hati: Apakah harta lebih menyibukkan kita daripada ibadah dan ketaatan?
  2. Sisihkan sedekah secara rutin, karena itulah harta yang paling berharga di akhirat.
  3. Hidup sederhana—makan dan pakaian secukupnya, jangan bermewah-mewahan.
  4. Jangan lupa kematian: Setiap harta yang tidak disedekahkan akan hilang, hanya amal yang kekal.

Semoga Allāh memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.