Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan adab dan tawadhu' (kerendahan hati) Nabi ﷺ. Ketika seseorang memanggil beliau dengan gelar "sebaik-baik makhluk" (خَيْرَ الْبَرِيَّةِ), beliau tidak langsung membenarkan untuk dirinya, melainkan mengarahkannya kepada Nabi Ibrahim عليه السلام. Ini bukan berarti Nabi ﷺ lebih rendah, tetapi bentuk tawadhu' dan pengagungan beliau terhadap Nabi Ibrahim sebagai bapak para nabi dan kekasih Allah (khalilullah).
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Tafsir, dan beliau menilainya hasan shahih. Perawi sahabat: Anas bin Malik رضي الله عنه, melalui jalur Al-Mukhtar bin Fulful, dari Sufyan (ats-Tsauri), dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Muhammad bin Basysyar.
Hadits ini berkaitan erat dengan firman Allah:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ
QS. Ali 'Imran [3]: 68
" Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya, dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman. Dan Allah adalah pelindung orang-orang mukmin."
Juga firman Allah tentang kedudukan Nabi Ibrahim:
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
QS. An-Nisa [4]: 125
"Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai kekasih (khalil)."
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام memiliki kedudukan istimewa sebagai imam, bapak para nabi, dan kekasih Allah. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa tawadhu' Nabi ﷺ adalah akhlak yang paling mulia, dan beliau tidak suka dipuji secara berlebihan di hadapan orang lain.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Tawadhu' Nabi ﷺ. Ketika seorang lelaki memanggil beliau dengan "يَا خَيْرَ الْبَرِيَّةِ" (wahai sebaik-baik makhluk), beliau tidak serta-merta menerima pujian itu untuk dirinya. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa tawadhu' adalah sifat orang beriman yang paling tinggi, dan Nabi ﷺ adalah teladan utamanya.
Kedua: Kedudukan Nabi Ibrahim عليه السلام. Nabi ﷺ mengarahkan pujian tersebut kepada Ibrahim karena Ibrahim adalah:
- Bapak para nabi (أبو الأنبياء)
- Kekasih Allah (خليل الله)
- Yang membangun Ka'bah bersama Ismail
- Yang disebut Allah sebagai imam bagi manusia
Imam Qatadah dan Mujahid dalam tafsir mereka menyebutkan bahwa Ibrahim adalah figur yang paling dekat dengan Nabi Muhammad ﷺ dalam hal risalah dan dakwah tauhid.
Ketiga: Bukan berarti Nabi ﷺ lebih rendah. Para ulama seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir dan paling utama secara mutlak (afdhalul anbiya'). Namun, dalam konteks hadits ini, beliau sedang mengajarkan adab agar tidak memuji seseorang secara berlebihan di hadapannya, dan mengalihkan pujian kepada Ibrahim sebagai bentuk penghormatan.
Keempat: Perbedaan pendapat ulama. Sebagian ulama seperti Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah bentuk tawadhu' Nabi ﷺ. Sebagian lain seperti Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bisa jadi Nabi ﷺ menyebut Ibrahim karena pertanyaan itu datang dalam konteks tertentu, atau karena Ibrahim memang disebut "khalilullah" yang secara khusus dipuji Allah. Namun yang paling kuat adalah bahwa ini adalah bentuk tawadhu' dan pengagungan Nabi ﷺ terhadap Ibrahim.
Story Telling
Dikisahkan oleh Anas bin Malik رضي الله عنه, seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata dengan penuh kekaguman: "Wahai sebaik-baik makhluk!" Mendengar itu, Nabi ﷺ yang sedang duduk bersama para sahabat tidak tersenyum bangga, tidak mengangguk membenarkan. Beliau justru menundukkan pandangan dan berkata dengan lembut: "Itu adalah Ibrahim."
Para sahabat yang mendengar pun terdiam. Mereka tahu bahwa Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia, tetapi beliau mengajarkan bahwa pujian bukan untuk diraih, melainkan untuk diarahkan kepada yang berhak. Ibrahim عليه السلام, yang telah berjuang sendirian melawan raja Namrud, yang dilempar ke api namun tidak terbakar, yang diperintahkan menyembelih putranya lalu diganti dengan domba — dialah yang disebut Allah sebagai kekasih-Nya.
Hikmahnya: Seorang pemimpin sejati tidak mencari pujian, tetapi mengarahkan penghormatan kepada yang lebih berhak. Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak silau dengan pujian, dan tetap rendah hati meski memiliki kedudukan tinggi.
Kesimpulan Praktis
- Tawadhu' adalah akhlak mulia. Jangan mencari pujian, dan jika dipuji, arahkan kepada Allah dan orang yang berhak.
- Hormati para nabi dan rasul. Nabi Ibrahim عليه السلام memiliki kedudukan istimewa sebagai khalilullah dan bapak para nabi.
- Jangan memuji berlebihan. Pujian yang berlebihan bisa menjerumuskan pada ghuluw (berlebihan dalam agama).
- Teladani Nabi ﷺ. Beliau adalah manusia paling mulia, namun tetap rendah hati dan mengarahkan pujian kepada yang berhak.
- Pelajari tafsir dan hadits dengan pemahaman ulama. Seperti yang dijelaskan Ibn Katsir, An-Nawawi, Ibn Rajab, dan Ibn Hajar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.