Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa ayat "وآخرين منهم لما يلحقوا بهم" (QS. Al-Jumu'ah [62]: 3) tidak hanya berlaku untuk bangsa Arab, tetapi mencakup umat Islam dari bangsa lain yang datang setelah mereka — dan Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu adalah simbol dari hal itu. Nabi ﷺ menegaskan bahwa iman itu sangat berharga, dan jika pun ia berada di tempat yang sangat jauh dan tinggi (bintang Tsurayya), akan ada orang-orang dari umat ini yang tetap berusaha meraihnya. At-Tirmidzi menilai hadits ini gharib dan menyebut bahwa Abdullah bin Ja'far (ayah Ali bin al-Madini) dilemahkan oleh Yahya bin Ma'in.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Jumu'ah [62]: 2–3:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata."
وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum menyusul mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Hadits terkait: Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Tafsir Al-Qur'an, bab tafsir Surat Al-Jumu'ah, no. 3310. At-Tirmidzi menyatakan hadits ini gharib, dan menyebut bahwa Abdullah bin Ja'far (ayah Ali bin al-Madini) dilemahkan oleh Yahya bin Ma'in, sedangkan Tsaur bin Zaid al-Dili adalah perawi Madinah, dan Abu al-Ghaits (Salim, maula Abdullah bin Muthi') adalah perawi Madinah yang tsiqah (terpercaya).
Kaitan dengan ulama: Penjelasan makna ayat ini dapat dirujuk kepada Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, serta Imam an-Nawawi dalam syarah hadits-hadits shahih.
Penjelasan Rinci
Makna umum ayat dan hadits:
Ayat ke-3 dari Surat Al-Jumu'ah menyebutkan "وآخرين منهم لما يلحقوا بهم" — yaitu kelompok lain yang belum bergabung dengan generasi awal umat Islam. Para ulama tafsir dari kalangan salaf menjelaskan bahwa ayat ini mencakup seluruh umat Islam non-Arab yang masuk Islam setelah generasi pertama.
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi umat Islam dari berbagai bangsa — bahwa risalah Nabi ﷺ tidak terbatas pada bangsa Arab saja, tetapi mencakup semua manusia hingga hari kiamat. Beliau menyebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa kenabian Muhammad ﷺ bersifat universal.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu dan kaum non-Arab yang beriman. Beliau juga menyinggung bahwa hadits ini memiliki jalur-jalur lain yang saling menguatkan.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits serupa tentang keutamaan Salman dan kaum Persia, menjelaskan bahwa ini adalah isyarat kenabian tentang luasnya Islam yang akan tersebar ke berbagai penjuru bumi.
Tentang status hadits:
At-Tirmidzi sendiri menyatakan hadits ini gharib dari jalur ini, dan menyebutkan bahwa Abdullah bin Ja'far (ayah Ali bin al-Madini) dilemahkan oleh Yahya bin Ma'in. Namun, At-Tirmidzi juga menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ melalui beberapa jalur lain — yang menunjukkan bahwa maknanya memiliki penguat.
Pelajaran dari redaksi hadits:
- "لو كان الإيمان بالثريا لتناوله رجال من هؤلاء" — Nabi ﷺ bersumpah dengan nama Allah bahwa seandainya iman berada di bintang Tsurayya (Pleiades) — tempat yang sangat tinggi dan jauh — pasti akan ada orang-orang dari umat ini yang berusaha meraihnya. Ini menunjukkan:
- Kemuliaan iman yang harus diperjuangkan walau berat
- Bahwa umat Islam akan terus ada yang menjaga iman hingga akhir zaman
- Isyarat bahwa kaum non-Arab (seperti Salman) akan menjadi pembawa iman yang kuat
- Meletakkan tangan di atas Salman — Ini adalah isyarat langsung bahwa Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu adalah salah satu dari "آخرين" yang dimaksud dalam ayat. Ini juga menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dalam mengajar dan memuliakan sahabatnya.
Perbedaan pendapat ulama:
Sebagian ulama seperti Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar menerima makna hadits ini dan menguatkannya dengan jalur-jalur lain serta dengan makna ayat yang jelas. Sementara Yahya bin Ma'in melemahkan Abdullah bin Ja'far sebagai perawi. Namun perlu dicatat bahwa kelemahan ini bersifat relatif — dan makna hadits tetap shahih karena didukung oleh ayat Al-Qur'an secara langsung serta riwayat-riwayat lain.
Yang paling kuat: Makna hadits ini shahih dan diterima, karena:
- Didukung oleh makna zahir ayat Al-Qur'an
- Memiliki jalur-jalur lain yang saling menguatkan
- Diterima oleh para ulama tafsir dan hadits dari daftar seperti Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar
Story Telling
Kisah Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu:
Salman berasal dari Persia (Faris), jauh dari tanah Arab. Ia menempuh perjalanan panjang dan melelahkan — meninggalkan keluarga, harta, dan tanah kelahirannya — demi mencari agama yang benar. Ia berpindah dari satu guru ke guru lain, dari satu negeri ke negeri lain, hingga akhirnya bertemu Nabi ﷺ di Madinah dan masuk Islam.
Ketika ayat "وآخرين منهم لما يلحقوا بهم" turun, dan Nabi ﷺ meletakkan tangannya di atas Salman seraya bersabda bahwa seandainya iman berada di bintang Tsurayya, orang-orang seperti Salman akan meraihnya — ini adalah penghormatan besar bagi Salman dan bagi semua umat Islam non-Arab yang beriman.
Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya bahwa ayat ini mencakup semua bangsa yang masuk Islam setelah bangsa Arab — dan ini terbukti dalam sejarah, di mana para ulama besar dari Persia, Khurasan, Syam, Mesir, dan negeri-negeri lainnya menjadi pembawa dan penjaga ilmu Islam.
Hikmah: Iman tidak diukur dari asal-usul, bangsa, atau warna kulit. Yang mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Dan siapa pun yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran, Allah akan mempertemukannya dengan kebenaran itu.
Kesimpulan Praktis
- Iman adalah harta paling berharga — jika pun ia berada di tempat yang sangat jauh dan tinggi, kita harus berusaha meraihnya dengan sungguh-sungguh.
- Islam adalah agama universal — tidak terbatas pada satu bangsa atau satu generasi. Semua manusia dari berbagai latar belakang memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah, dan kemuliaan diukur dengan ketakwaan.
- Hendaklah kita memuliakan setiap muslim — sebagaimana Nabi ﷺ memuliakan Salman al-Farisi, kita pun tidak boleh merendahkan saudara seiman karena asal-usul, bangsa, atau status sosialnya.
- Bersemangatlah menuntut ilmu agama — Salman menempuh perjalanan jauh demi mencari kebenaran. Kita pun hendaknya bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar'i.
- Berhati-hatilah dalam menilai hadits — sebagaimana At-Tirmidzi dan Yahya bin Ma'in menilai perawi, kita pun hendaknya merujuk kepada ulama dalam menilai keabsahan riwayat, dan tidak mengambil hadits lemah sebagai dasar hukum tanpa penguat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.