Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan seorang sahabat Anshar yang sangat miskin, namun tetap mengutamakan tamunya melebihi kebutuhan dirinya dan anak-anaknya. Karena perbuatan mulia itu, Allah menurunkan ayat Al-Qur'an yang memuji sifat itsar (mendahulukan orang lain). Hadits ini mengajarkan bahwa kemuliaan akhlak dan pengorbanan untuk tamu adalah sebab turunnya pujian Allah, dan bahwa iman yang benar melahirkan sikap mendahulukan orang lain meski dalam kesempitan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Hasyr [59]: 9
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Terjemahan ringkas: "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka, mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tidak menyimpan keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri dalam kekurangan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Hadits terkait
Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Jami' At-Tirmidzi no. 3304, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab tentang Surah Al-Hasyr. At-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini hasan shahih."
Kaitan dengan ulama
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan perbuatan seorang Anshar yang mengutamakan tamunya meski keluarganya sendiri kelaparan, dan beliau memuji sikap itsar tersebut sebagai puncak kemuliaan akhlak.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan kitab-kitab adabnya menegaskan keutamaan memuliakan tamu dan mendahulukan orang lain dalam hal yang dibolehkan syariat.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif dan Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa itsar adalah derajat iman yang tinggi, namun tidak boleh sampai menelantarkan kewajiban keluarga.
- As-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa itsar yang dipuji adalah yang lahir dari kelapangan jiwa dan bebas dari sifat kikir.
Penjelasan Rinci
Makna hadits
Seorang lelaki Anshar kedatangan tamu yang menginap. Ia hanya memiliki makanan seukuran kebutuhan dirinya dan anak-anaknya. Ia lalu memerintahkan istrinya: tidurkan anak-anak agar mereka tidak melihat makanan, padamkan lampu agar tamu tidak merasa sungkan, dan sajikan makanan yang ada untuk tamu. Maka turunlah ayat 9 Surah Al-Hasyr yang memuji sikap itsar.
Pemahaman para ulama
- Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini mencakup pujian bagi kaum Anshar secara umum, dan peristiwa sahabat ini menjadi contoh nyata penerapannya. Beliau menegaskan bahwa itsar adalah sifat yang hanya lahir dari hati yang bersih dari kikir.
- Imam an-Nawawi dalam Riyadh ash-Shalihin (bab memuliakan tamu) menyebutkan bahwa memuliakan tamu adalah sunnah yang ditekankan, dan hadits ini menunjukkan betapa para sahabat mendahulukan tamu meski dalam kesulitan.
- Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa itsar memiliki tingkatan: yang tertinggi adalah mendahulukan orang lain dalam hal yang tidak wajib, sementara kebutuhan pokok keluarga tetap harus dijaga. Beliau juga mengingatkan bahwa syuhh (kikir) adalah penyakit hati yang harus dijauhi.
- As-Sa'di menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bukan pada banyaknya harta, tetapi pada kelapangan jiwa dan kesediaan berkorban.
Catatan penting
Para ulama sepakat bahwa itsar yang dipuji adalah dalam hal yang mubah atau sunnah, bukan dalam menelantarkan kewajiban. Jika seseorang mengorbankan hak wajib keluarga (seperti nafkah pokok) demi tamu, maka itu tidak dibenarkan. Namun dalam kasus sahabat ini, ia tetap berusaha memberi makan keluarganya, hanya saja ia mendahulukan tamu pada malam itu dengan cara yang bijak (menidurkan anak, memadamkan lampu).
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang lelaki Anshar bernama Abu Thalhah (menurut sebagian riwayat) atau seorang Anshar lainnya, kedatangan tamu. Ia hanya punya sedikit makanan untuk anak-anaknya. Ia berkata kepada istrinya, Ummu Sulaim: "Tidurkanlah anak-anak, padamkan lampu, dan sajikan makanan ini untuk tamu." Mereka duduk dalam gelap, berpura-pura makan, agar tamu merasa nyaman dan makan sampai kenyang. Tamu itu pun makan hingga kenyang, sementara tuan rumah dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, Nabi ﷺ mengetahui hal itu dan bersabda bahwa Allah kagum (atau memuji) perbuatan mereka, lalu turunlah ayat: "Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam kekurangan." (HR. At-Tirmidzi, hasan shahih)
Hikmah: Pengorbanan yang lahir dari iman akan selalu dicatat oleh Allah, bahkan menjadi sebab turunnya wahyu yang dibaca hingga hari kiamat.
Kesimpulan Praktis
- Muliakan tamu sesuai kemampuan, tanpa berlebihan dan tanpa menelantarkan kewajiban keluarga.
- Latih sifat itsar (mendahulukan orang lain) dalam hal-hal yang dibolehkan, karena itu tanda iman yang kuat.
- Jauhi sifat kikir (syuhh) karena ia menghalangi keberkahan dan kebahagiaan.
- Jaga keseimbangan: dahulukan tamu, tetapi tetap perhatikan nafkah dan kebutuhan pokok keluarga.
- Yakinlah bahwa setiap pengorbanan karena Allah akan diganti dengan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.