Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3290 tentang Penolakan takdir oleh orang musyrik dan turunnya ayat tentang qadar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa orang-orang musyrik Quraisy pernah mendebat Nabi ﷺ tentang takdir (qadar), lalu Allah menurunkan ayat QS. Al-Qamar [54]: 48–49 sebagai jawaban: mereka akan diseret ke neraka dan "merasakan sentuhan Saqar", karena Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran/takdir. Hadits ini menunjukkan bahwa qadar adalah perkara besar yang wajib diimani, dan bahwa mendebatnya dengan cara menolak adalah jalan orang musyrik. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Qamar [54]: 48–49

يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ ۝ إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Terjemahan ringkas: "Pada hari mereka diseret ke dalam neraka di atas wajah-wajah mereka (dikatakan): 'Rasakanlah sentuhan (azab) Saqar!' Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran (takdir)."

Hadits terkait

  • Hadits Abu Hurairah ini diriwayatkan Imam At-Tirmidzi (no. 3290, Kitab Tafsir, Bab Surah Al-Qamar), dari jalur Waki' dari Sufyan (ats-Tsauri) dari Ziyad bin Isma'il dari Muhammad bin 'Abbad bin Ja'far dari Abu Hurairah. At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."
  • Makna qadar juga ditegaskan dalam hadits Jibril tentang rukun iman, bahwa beriman kepada qadar baik dan buruk termasuk rukun iman (diriwayatkan Muslim dari Umar bin al-Khaththab).

Kaitan ulama dan kitab

  • Imam At-Tirmidzi memuatnya dalam Jami'-nya (Sunan at-Tirmidzi), Kitab Tafsir.
  • Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan ayat ini sebagai bantahan terhadap orang yang menolak qadar, dan menyebut sebab turunnya dari hadits ini.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari membahas bab iman kepada qadar dan bantahan terhadap Qadariyah (yang menolak takdir).
  • Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah banyak menjelaskan masalah qadar dalam kitab-kitab mereka, seperti Majmu' al-Fatawa dan Syifa' al-'Alil.
  • As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menafsirkan ayat ini: Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan takdir yang pasti.

Penjelasan Rinci

1. Sebab turunnya (asbab an-nuzul)

Abu Hurairah menceritakan bahwa orang-orang musyrik Quraisy datang berdebat dengan Nabi ﷺ tentang qadar. Mereka menolak dan mempermasalahkan takdir. Maka turunlah ayat 48–49 Surah Al-Qamar sebagai jawaban dan peringatan. Ibnu Katsir menyebut riwayat ini dalam tafsirnya ketika membahas ayat tersebut, dan menjadikannya dalil bahwa menolak qadar adalah ciri orang musyrik.

2. Makna ayat

  • "يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ" — pada hari mereka diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka. Ini gambaran kerasnya azab dan kehinaan bagi orang yang menentang kebenaran.
  • "ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ" — "Rasakanlah sentuhan Saqar." Saqar adalah nama salah satu tingkatan neraka. Kata "mas" (sentuhan) di sini bermakna azab yang menyengat, sebagaimana dijelaskan para mufassir seperti Ibnu Katsir dan As-Sa'di.
  • "إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ" — "Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan qadar." As-Sa'di menjelaskan: setiap makhluk diciptakan dengan ukuran, sifat, dan waktu yang telah ditentukan Allah; tidak ada yang keluar dari ketentuan-Nya.

3. Pemahaman ulama tentang qadar

  • Ibn Taymiyyah (dalam Majmu' al-Fatawa) menegaskan bahwa iman kepada qadar mencakup empat tingkatan: ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu, penulisan takdir, kehendak Allah yang pasti terjadi, dan penciptaan Allah atas segala sesuatu termasuk perbuatan hamba. Menolak salah satunya berarti menolak qadar.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah (dalam Syifa' al-'Alil fi Masa'il al-Qadha' wa al-Qadar) menjelaskan bahwa qadar tidak menjadi alasan bagi hamba untuk meninggalkan kewajiban atau berbuat dosa; manusia tetap memiliki kehendak dan pilihan, namun semuanya berada di bawah ilmu dan ketentuan Allah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fath al-Bari) menyebut bahwa para salaf membenci perdebatan qadar yang dilakukan untuk menolak, namun mereka membahasnya untuk menetapkan iman dan menjawab syubhat.
  • Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menegaskan bahwa beriman kepada qadar adalah wajib, dan perdebatan yang menolak takdir adalah bid'ah yang tercela.

4. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar

Tidak ada perbedaan pokok di antara ulama daftar tentang wajibnya iman kepada qadar. Yang ada hanyalah perbedaan cara menjelaskan: sebagian (seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim) menekankan empat tingkatan qadar secara rinci, sebagian lain (seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi) menekankan bantahan terhadap Qadariyah dan adab dalam membahasnya. Yang paling kuat adalah pendirian Ahlus Sunnah: qadar wajib diimani, dan perdebatan untuk menolaknya adalah tercela.

5. Adab dalam masalah qadar

Para ulama di daftar mengajarkan agar kita tidak berdebat qadar dengan cara yang menolak, tetapi menerimanya dengan iman dan tawakal. Ibn Qayyim menasihatkan agar hati berhenti mencari-cari rahasia qadar yang tidak mungkin dijangkau, dan fokus pada ketaatan serta memperbaiki amal.

Story Telling

Dikisahkan dalam hadits ini bahwa orang-orang musyrik Quraisy datang kepada Nabi ﷺ bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk berdebat dan menolak qadar. Mereka mempertanyakan takdir dengan nada menentang. Maka Allah menurunkan ayat yang keras: mereka akan diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka dan dikatakan, "Rasakanlah sentuhan Saqar!" Lalu Allah menegaskan, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan qadar."

Hikmahnya: qadar bukan perkara main-main untuk diperdebatkan dengan kesombongan, melainkan perkara iman yang menuntut ketundukan. Nabi ﷺ dan para sahabat menerima takdir dengan iman, sabar, dan tawakal, bukan dengan menolak atau mempertanyakan. (Riwayat ini disebutkan At-Tirmidzi dan dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.)

Kesimpulan Praktis

  • Iman kepada qadar adalah bagian dari iman; jangan menolak atau memperdebatkannya dengan cara orang musyrik.
  • Yakinlah bahwa segala sesuatu yang terjadi berada dalam ilmu, kehendak, dan penciptaan Allah.
  • Jangan jadikan qadar sebagai alasan meninggalkan kewajiban atau berbuat dosa; tetap berusaha dan bertawakal.
  • Hindari perdebatan qadar yang menimbulkan kebingungan; cukup imani dan fokus pada ketaatan.
  • Perbanyak doa agar hati tetap teguh di atas takdir yang baik dan ridha terhadap ketentuan Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?