Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3289 tentang Terbelahnya bulan sebagai mukjizat Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan mukjizat besar Nabi ﷺ, yaitu terbelahnya bulan menjadi dua bagian sebagai tanda kenabian yang nyata. Kaum musyrikin Quraisy yang menyaksikannya justru menuduh Nabi ﷺ menyihir mereka, namun sebagian dari mereka sendiri menyadari bahwa sihir tidak mungkin memengaruhi seluruh manusia. Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai dalil kuat atas kebenaran kenabian Muhammad ﷺ dan kebenaran berita Al-Qur'an.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

QS. Al-Qamar [54]: 1

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

Terjemahan: "Telah dekat hari kiamat dan telah terbelah bulan."

QS. Al-Qamar [54]: 2

وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ

Terjemahan: "Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: '(Ini adalah) sihir yang terus menerus.'"

Hadits terkait:

Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 3289 dari Jubair bin Mut'im radhiyallahu 'anhu, sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari jalur Ibnu Mas'ud, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Jubair bin Mut'im radhiyallahu 'anhum.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa peristiwa terbelahnya bulan adalah mukjizat yang terjadi di Makkah sebelum hijrah, dan menjadi bukti kebenaran Nabi ﷺ.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa hadits ini mutawatir maknanya karena banyak jalur periwayatan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa terbelahnya bulan adalah mukjizat yang disaksikan banyak orang dan tidak dapat disanggah.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Jubair bin Mut'im radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa pada masa Nabi ﷺ masih di Makkah, bulan terbelah menjadi dua bagian yang jelas terpisah — satu bagian di atas sebuah gunung dan bagian lain di atas gunung yang lain. Peristiwa ini disaksikan oleh kaum Quraisy. Namun, alih-alih beriman, mereka menuduh Nabi ﷺ menyihir mereka. Sebagian dari mereka yang masih memiliki sedikit akal sehat berkata: "Jika Muhammad menyihir kita, dia tidak akan mampu menyihir seluruh manusia." Artinya, mereka sadar bahwa sihir tidak mungkin memengaruhi semua orang di muka bumi, sehingga peristiwa itu pasti nyata.

Pemahaman para ulama:

  1. Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat "Iqtarabatis-sā'atu wansyaqqal-qamar" turun berkaitan langsung dengan peristiwa ini. Beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat (ijma') bahwa terbelahnya bulan benar-benar terjadi pada zaman Nabi ﷺ.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat, di antaranya Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas, dan Jubair bin Mut'im. Beliau menegaskan bahwa banyaknya jalur periwayatan menunjukkan kepastian terjadinya peristiwa tersebut.
  3. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mukjizat ini termasuk tanda-tanda kenabian yang paling jelas, karena terjadi di langit dan disaksikan oleh banyak orang, bukan hanya pengikut Nabi ﷺ.
  4. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa menyatakan bahwa mukjizat terbelahnya bulan adalah bukti nyata bahwa Nabi ﷺ adalah utusan Allah, dan bahwa Al-Qur'an benar-benar wahyu dari Allah.
  5. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini mengabarkan peristiwa besar yang menjadi tanda dekatnya kiamat, dan sekaligus mukjizat yang menakjubkan bagi Nabi ﷺ.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah peristiwa ini terjadi sekali atau dua kali. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir — adalah bahwa peristiwa ini terjadi satu kali di Makkah dan merupakan mukjizat yang pasti.

Hikmah:

  • Mukjizat tidak selalu membuat orang beriman, karena hati manusia bisa tertutup oleh kesombongan dan kedengkian.
  • Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya, namun hidayah hanya milik Allah.
  • Orang yang berpikir sehat akan mengenali kebenaran meskipun ada yang menolaknya.

Story Telling

Diceritakan bahwa ketika bulan terbelah, Nabi ﷺ bersabda kepada kaum Quraisy: "Saksikanlah!" (HR. Al-Bukhari). Namun mereka tetap menolak. Sebagian dari mereka yang berpikir jernih berkata: "Jika Muhammad menyihir kita, dia tidak akan mampu menyihir seluruh manusia." Ini menunjukkan bahwa akal sehat mereka mengakui kebenaran, tetapi hawa nafsu dan kesombongan menahan mereka dari beriman.

Hikmah: Terkadang manusia mengetahui kebenaran, tetapi menolaknya karena gengsi dan kedudukan. Kita harus berlindung dari sifat seperti ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Percaya pada mukjizat Nabi ﷺ sebagai bagian dari iman kepada kenabian.
  2. Merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di langit dan bumi untuk menambah keimanan.
  3. Tidak menolak kebenaran hanya karena gengsi atau mengikuti mayoritas yang salah.
  4. Berdoa agar Allah menetapkan hati di atas hidayah dan menjauhkan kita dari sifat sombong seperti kaum Quraisy.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?