Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan makna "al-lamam" dalam QS. An-Najm [53]: 32, yaitu dosa-dosa kecil yang kadang terlanjur dilakukan seseorang, bukan dosa besar yang dilakukan terus-menerus. Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak merasa suci, karena setiap hamba pasti pernah tergelincir dalam dosa kecil, dan hanya ampunan Allah yang Maha Luas yang bisa menutupinya. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk berprasangka baik kepada sesama muslim yang masih melakukan dosa kecil, selama ia menjauhi dosa-dosa besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Najm [53]: 32:
اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَ ۚ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۗ
" (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya."
Hadits:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dari Surah An-Najm, no. 3284. Dalam sanadnya terdapat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari gurunya 'Atha' bin Abi Rabah (salah satu ulama tabi'in yang masuk dalam daftar rujukan kami).
Kaitan dengan Ulama:
- Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib.
- Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits ini, menafsirkan al-lamam dengan dosa kecil, dan beliau membacakan doa Nabi ﷺ yang menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang terbebas dari dosa kecil.
- Al-Hasan Al-Bashri dan Mujahid bin Jabr (keduanya dari kalangan tabi'in) juga menafsirkan al-lamam sebagai dosa-dosa kecil yang kadang terjadi, bukan dosa besar yang dilakukan dengan sengaja dan terus-menerus. Ini sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa kata al-lamam dalam ayat ini memiliki beberapa makna, namun yang paling kuat dan didukung oleh banyak riwayat adalah dosa-dosa kecil. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Al-Hasan Al-Bashri, Mujahid, Qatadah, dan Sa'id bin Al-Musayyib — semuanya dari kalangan tabi'in yang menjadi rujukan.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ketika menafsirkan ayat ini, beliau membacakan doa Nabi ﷺ:
"إِنْ تَغْفِرِ اللَّهُمَّ تَغْفِرْ جَمَّا وَأَىُّ عَبْدٍ لَكَ لاَ أَلَمَّا"
"Ya Allah, jika Engkau mengampuni, maka ampunan-Mu sangat luas. Dan hamba mana pun milik-Mu yang tidak pernah melakukan dosa kecil?"
Doa ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang terbebas dari dosa kecil. Oleh karena itu, ayat ini tidak berarti membolehkan dosa kecil, tetapi ia menunjukkan bahwa dosa kecil yang kadang terjadi, jika pelakunya menjauhi dosa besar, maka ia berada di bawah naungan ampunan Allah yang luas.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Mereka yang menjauhi dosa-dosa besar seperti syirik, zina, membunuh tanpa hak, dan memakan harta anak yatim, maka dosa-dosa kecil yang kadang terlanjur mereka lakukan akan diampuni oleh Allah karena keimanan dan ketakwaan mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa al-lamam adalah dosa yang kadang terjadi tanpa direncanakan, atau dosa kecil yang tidak dianggap besar oleh pelakunya. Namun, jika seseorang terus-menerus melakukan dosa kecil, maka ia bisa terangkat menjadi dosa besar karena keisengajaan dan meremehkannya.
Pelajaran penting dari hadits ini:
- Tidak ada manusia yang maksum dari dosa kecil. Semua orang pasti pernah berbuat salah. Ini mengajarkan kita untuk tidak merasa lebih suci dari orang lain.
- Ampunan Allah sangat luas. Selama seseorang menjauhi dosa besar dan bertobat dari dosa kecil, maka rahmat Allah akan menaunginya.
- Jangan menghakimi orang lain. Jika melihat seorang muslim melakukan dosa kecil, kita tidak boleh langsung menuduhnya sebagai ahli maksiat atau menganggapnya hina, karena bisa jadi ia adalah orang yang bertakwa yang kadang tergelincir, lalu ia bertobat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri — seorang tabi'in yang sangat zuhud dan banyak menangis karena takut kepada Allah — pernah ditanya tentang makna al-lamam. Beliau menjawab: "Dosa kecil yang kadang terjadi dari seorang hamba, lalu ia menyesal dan beristighfar. Itulah al-lamam."
Kemudian beliau membacakan firman Allah: "Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya." Beliau berkata: "Maka perbanyaklah istighfar, karena ampunan Allah lebih luas daripada dosa-dosamu."
Hikmah dari kisah ini: Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Dosa kecil yang diikuti dengan penyesalan dan istighfar akan diampuni, selama kita menjauhi dosa-dosa besar dan tidak meremehkan dosa kecil.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi dosa-dosa besar seperti syirik, zina, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan memakan harta haram.
- Jangan meremehkan dosa kecil. Meskipun kecil, ia tetap dosa. Perbanyak istighfar dan tobat setiap kali tergelincir.
- Jangan merasa suci. Setiap hamba pasti pernah berbuat salah. Yang membedakan adalah siapa yang segera bertobat dan kembali kepada Allah.
- Berbaik sangka kepada sesama muslim. Jika melihat saudara kita berbuat dosa kecil, doakan ia, jangan menghinanya.
- Yakinlah ampunan Allah sangat luas. Selama kita menjauhi dosa besar dan bertobat, maka rahmat Allah akan menaungi kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.