Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3281 tentang Melihat Allah dengan hati dalam peristiwa mikraj

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ benar-benar melihat Allah ﷻ pada malam Isra' Mi'raj, namun dengan hati beliau, bukan dengan mata kepala. Ini adalah pemahaman dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab tafsirnya. Masalah melihat Allah ini adalah perkara ghaib yang wajib kita imani sebagaimana kabar dari Al-Qur'an dan hadits shahih, tanpa mempertanyakan caranya, karena akal kita tidak mampu menjangkaunya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Najm [53]: 11:

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَىٰ

"Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya."

Hadits:

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dan Dari Surat An-Najm, no. 3281. Dari jalur 'Ikrimah, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata tentang ayat "Maa kadzabal fu-aadu maa ra-aa": "Ia (Nabi ﷺ) melihat-Nya (Allah) dengan hatinya." Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan.

Kaitan dengan Ulama:

Pemahaman ini juga dikuatkan oleh riwayat lain yang serupa. Dalam Shahih Muslim, dari Ibnu 'Abbas juga, beliau berkata: "Allah telah membaginya (melihat Allah) menjadi dua: maka Dia berkata: 'Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya' dan 'Sungguh, dia telah melihatnya pada kali yang lain' (QS. An-Najm: 13). Maka Ibnu 'Abbas berkata: 'Sesungguhnya Nabi ﷺ telah melihat-Nya dengan hatinya sebanyak dua kali.'"

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah berbeda pendapat mengenai apakah Nabi ﷺ melihat Allah ﷻ dengan mata kepalanya pada malam Isra' Mi'raj. Namun, pendapat yang masyhur dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma—yang merupakan turjumanul Qur'an (penerjemah Al-Qur'an)—adalah bahwa beliau melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan matanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan dalam Majmu' Fatawa-nya bahwa perselisihan ini terjadi di kalangan para sahabat dan tabi'in. Namun, beliau menegaskan bahwa yang benar menurut kebanyakan ulama adalah pendapat Ibnu 'Abbas, yaitu Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya. Adapun melihat dengan mata kepala di dunia, maka itu adalah sesuatu yang mustahil bagi manusia, karena Allah ﷻ berfirman kepada Nabi Musa 'alaihissalam:

لَنْ تَرَانِي

"Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku." (QS. Al-A'raf [7]: 143)

Ini menunjukkan bahwa melihat Allah dengan mata kepala di dunia tidak mungkin terjadi, bahkan bagi para nabi sekalipun. Yang bisa terjadi adalah melihat dengan hati, dan itulah yang Allah karuniakan kepada Nabi kita Muhammad ﷺ sebagai keistimewaan.

Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah bantahan terhadap orang-orang musyrik yang menuduh Nabi ﷺ berdusta. Allah mengabarkan bahwa hati Nabi ﷺ tidak mendustakan apa yang dilihatnya. Hati beliau menyaksikan kebenaran dengan penuh keyakinan, dan penglihatan hati itu adalah penglihatan yang paling benar dan kuat.

Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan beberapa riwayat dari para salaf tentang masalah ini. Beliau menukil perkataan 'Aisyah radhiyallahu 'anha yang mengingkari siapa saja yang mengaku bahwa Muhammad ﷺ melihat Rabb-nya dengan mata kepala. Beliau juga menukil perkataan Ibnu 'Abbas yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat-Nya dengan hatinya.

Yang penting untuk dipahami oleh kita sebagai orang awam adalah: kita wajib mengimani bahwa Nabi ﷺ benar-benar melihat Allah ﷻ pada malam Isra' Mi'raj, sebagaimana yang dikabarkan dalam Al-Qur'an dan hadits shahih. Namun, kita tidak perlu memperdebatkan apakah itu dengan mata atau dengan hati secara mendalam, karena itu adalah perkara ghaib yang hanya Allah yang tahu hakikatnya. Yang terpenting adalah kita membenarkan kabar tersebut dan tidak mengingkarinya.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang keteguhan seorang sahabat dalam membenarkan kabar Isra' Mi'raj. Ketika Nabi ﷺ menceritakan perjalanan malamnya kepada orang-orang Quraisy, mereka mendustakan dan menantang beliau untuk menggambarkan Baitul Maqdis. Saat itu, Allah memperlihatkan Baitul Maqdis kepada Nabi ﷺ sehingga beliau bisa menggambarkannya dengan detail.

Namun, yang lebih menarik adalah sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Ketika orang-orang Quraisy datang kepadanya dan berkata, "Apakah kamu membenarkan bahwa temanmu itu pergi ke Baitul Maqdis dan kembali dalam satu malam?" Abu Bakar menjawab dengan tegas: "Jika dia mengatakannya, maka sungguh dia telah benar." Mereka bertanya lagi, "Apakah kamu juga membenarkan bahwa dia pergi ke langit dan kembali dalam satu malam?" Abu Bakar kembali menjawab: "Jika dia mengatakannya, maka sungguh dia telah benar."

Karena keteguhan imannya itulah, Abu Bakar dijuluki Ash-Shiddiq (yang sangat membenarkan). Beliau tidak mempertanyakan bagaimana caranya, tidak meragukan kabar tersebut, tetapi langsung membenarkan dengan sepenuh hati. Ini adalah pelajaran bagi kita: dalam perkara ghaib, tugas kita hanyalah membenarkan kabar dari Allah dan Rasul-Nya, bukan mempertanyakan bagaimana caranya.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani bahwa Nabi ﷺ benar-benar melihat Allah ﷻ pada malam Isra' Mi'raj, sebagaimana dikabarkan dalam Al-Qur'an dan hadits shahih.
  2. Jangan memperdebatkan cara melihat tersebut secara mendalam, karena itu perkara ghaib. Cukup yakini bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  3. Ambil pelajaran dari keteguhan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam membenarkan kabar Nabi ﷺ tanpa ragu.
  4. Fokuskan perhatian kita pada ibadah dan ketaatan, bukan pada hal-hal yang tidak membawa manfaat bagi keimanan kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?