Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan makna firman Allah dalam Surah An-Najm [53]: 9, yaitu bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam wujud aslinya yang memiliki enam ratus sayap. Jarak antara Nabi ﷺ dengan Jibril saat itu digambarkan seperti "dua busur panah atau lebih dekat." Hadits ini dinilai hasan gharib shahih oleh Imam At-Tirmidzi, dan menjadi dalil bahwa Nabi ﷺ benar-benar melihat Jibril dalam bentuk aslinya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. An-Najm [53]: 8–9:
فَاسْتَوَىٰ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ
"Lalu dia (Jibril) mendekat, kemudian bertambah dekat, sehingga jaraknya kira-kira dua busur panah atau lebih dekat lagi."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 3277) dari jalur Asy-Syaibani, dari Zirr bin Hubaish, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai: "Hadits ini hasan gharib shahih."
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abdullah bin Mas'ud, dengan lafaz yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril memiliki enam ratus sayap.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang ru'yah (penglihatan) Nabi ﷺ terhadap Jibril dalam bentuk aslinya.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang dilihat Nabi ﷺ pada malam Isra', namun pendapat yang kuat adalah Jibril.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan Jibril memiliki enam ratus sayap.
Penjelasan Rinci
Makna umum ayat dan hadits:
Surah An-Najm ayat 8–9 menggambarkan peristiwa agung ketika Jibril mendekat kepada Nabi ﷺ. Para ulama dari daftar yang disebutkan memahami ayat ini dalam konteks ru'yah Jibril dalam wujud aslinya, bukan sekadar wahyu yang turun.
Penjelasan Ibnu Katsir:
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini berkaitan dengan peristiwa ketika Nabi ﷺ melihat Jibril dalam bentuk aslinya. Beliau menguatkan pendapat ini dengan hadits-hadits shahih, termasuk hadits Ibnu Mas'ud yang sedang kita bahas. Ibnu Katsir menegaskan bahwa Jibril memiliki enam ratus sayap, dan saat itu Nabi ﷺ melihatnya memenuhi ufuk langit.
Penjelasan Imam an-Nawawi:
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil kuat bahwa Nabi ﷺ benar-benar melihat Jibril dalam wujud aslinya. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama sepakat bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia, tetapi yang dilihat adalah Jibril.
Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani:
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami "caba qausain" (dua busur panah) sebagai ungkapan tentang kedekatan yang sangat dekat, bukan jarak fisik yang sebenarnya. Beliau juga menukil pendapat bahwa yang dimaksud adalah kedekatan Jibril kepada Nabi ﷺ saat menyampaikan wahyu.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
- Sebagian ulama memahami bahwa yang dilihat Nabi ﷺ adalah Jibril (pendapat Ibnu Mas'ud, Ibnu Katsir, an-Nawawi).
- Sebagian lain berpendapat bahwa Nabi ﷺ melihat Allah, namun pendapat ini lemah menurut jumhur ulama karena bertentangan dengan hadits shahih yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril.
Pendapat yang paling kuat:
Pendapat yang paling kuat adalah yang disebutkan dalam hadits ini, yaitu bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dengan enam ratus sayap. Ini dikuatkan oleh riwayat Imam Muslim dan penjelasan Ibnu Katsir serta Imam an-Nawawi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ dan dikenal sebagai ahli tafsir Al-Qur'an, pernah ditanya tentang makna ayat "fakana caba qausain au adna." Beliau menjawab dengan penuh keyakinan bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dengan enam ratus sayap.
Zirr bin Hubaish, seorang tabi'in yang meriwayatkan hadits ini, adalah murid setia Ibnu Mas'ud. Beliau bertanya langsung kepada gurunya tentang makna ayat yang agung ini, dan mendapatkan jawaban yang jelas dan tegas. Ini menunjukkan betapa para sahabat dan tabi'in sangat memperhatikan makna Al-Qur'an dan tidak berbicara tanpa ilmu.
Hikmah: Para salafus shalih, seperti Ibnu Mas'ud dan Zirr bin Hubaish, mengajarkan kita untuk bertanya kepada ahlinya dan tidak menafsirkan Al-Qur'an dengan hawa nafsu. Mereka juga menunjukkan adab dalam bertanya dan menjawab, yaitu dengan dalil yang jelas dari Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Meyakini bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam wujud aslinya dengan enam ratus sayap, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih.
- Memahami bahwa ayat "caba qausain au adna" adalah gambaran kedekatan Jibril kepada Nabi ﷺ saat menyampaikan wahyu, bukan jarak fisik yang hakiki.
- Mengambil pelajaran dari adab para salaf dalam bertanya dan menjawab tentang masalah agama, yaitu dengan merujuk kepada dalil Al-Qur'an dan hadits.
- Tidak menafsirkan Al-Qur'an dengan hawa nafsu, tetapi merujuk kepada penjelasan para ulama yang terpercaya, seperti Ibnu Katsir, Imam an-Nawawi, dan Ibnu Hajar al-Asqalani.
- Menjauhi perdebatan yang tidak berlandaskan dalil tentang ru'yah (penglihatan) Nabi ﷺ, dan cukup mengikuti pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.