Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3271 tentang Kemuliaan sejati adalah takwa, bukan harta

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa kemuliaan yang diukur dari harta benda (al-hasab) hanyalah ukuran duniawi yang rendah, sedangkan kemuliaan sejati (al-karam) adalah ketakwaan kepada Allah. Jadi, orang yang paling mulia bukan yang paling kaya, melainkan yang paling bertakwa. Ini sejalan dengan firman Allah di akhir Surah Al-Hujurat bahwa kemuliaan di sisi Allah hanya diukur dengan takwa.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Hujurat [49]: 13

وَيَاقَوْمِ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

Mohon maaf, untuk ayat yang paling relevan (QS. Al-Hujurat [49]: 13) saya tidak mencantumkan teks Arab lengkapnya di sini karena saya tidak ingin keliru dalam menuliskan harakatnya. Berikut rujukannya secara aman:

  • Surah: Al-Hujurat [49]: 13
  • Terjemahan ringkas: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."

Hadits terkait:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3271), dari jalur Samurah bin Jundab رضي الله عنه, melalui Qatadah dan Al-Hasan al-Bashri. At-Tirmidzi menilai: hasan sahih gharib.
  • Hadits senada juga dikenal dalam riwayat lain tentang makna al-hasab dan al-karam, yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menafsirkan Surah Al-Hujurat, dan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika membahas bab tentang ketakwaan.

Kaitan ulama:

  • Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (tabi'in, perawi hadits ini) dikenal sebagai mufassir yang menjelaskan makna ayat dengan ringkas dan tegas.
  • Al-Hasan al-Bashri (tabi'in, perawi dari Samurah) banyak berbicara tentang zuhud dan hakikat kemuliaan.
  • Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kemuliaan hakiki bukan pada nasab atau harta, tetapi pada takwa.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung dua istilah penting:

1. Al-Hasab (الْحَسَبُ)

Dalam hadits ini Nabi ﷺ bersabda: "Al-Hasab adalah harta." Artinya, apa yang biasa dijadikan ukuran kebanggaan manusia di dunia — yaitu harta dan kekayaan — itulah yang disebut hasab dalam pandangan manusia. Sebagian orang menyangka banyaknya harta adalah tanda kemuliaan.

2. Al-Karam (الْكَرَمُ)

Nabi ﷺ bersabda: "Al-Karam adalah takwa." Maksudnya, kemuliaan yang sejati dan diakui di sisi Allah adalah ketakwaan, bukan harta, bukan nasab, bukan kedudukan.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  • Al-Hasan al-Bashri menjelaskan bahwa manusia sering tertipu oleh harta dan kedudukan, padahal Allah tidak melihat bentuk tubuh, harta, atau nasab seseorang, melainkan melihat hati dan amalnya. Beliau menekankan bahwa orang yang bertakwa itulah yang mulia, meskipun ia miskin dan tidak terkenal.
  • Qatadah menegaskan bahwa kemuliaan yang hakiki adalah ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya. Harta bisa menjadi ujian, bukan ukuran kemuliaan.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap Surah Al-Hujurat menjelaskan bahwa Allah memberitahukan bahwa kemuliaan bukan pada nasab atau harta, tetapi pada takwa. Beliau menyebutkan hadits-hadits yang semakna, termasuk makna al-hasab dan al-karam.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hasab kadang dipakai untuk menyebut kemuliaan yang diwarisi (nasab), dan kadang untuk harta. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengarahkan perhatian bahwa semua itu bukan ukuran di sisi Allah; ukurannya adalah takwa.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang Jami' al-'Ulum wal-Hikam (makna umum) menegaskan bahwa kemuliaan duniawi bersifat sementara, sedangkan kemuliaan takwa bersifat abadi.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama memahami hasab sebagai nasab/keturunan, sebagian sebagai harta. Namun hadits ini secara tegas menyebut al-hasab adalah harta, sehingga yang dimaksud di sini adalah harta. Tidak ada pertentangan yang tajam di antara ulama daftar; semuanya sepakat bahwa inti hadits adalah: kemuliaan sejati = takwa.

Kesimpulan ilmiah: Yang paling kuat adalah pemahaman bahwa harta dan nasab tidak menjadikan seseorang mulia di sisi Allah; yang menjadikannya mulia adalah takwa, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang kemuliaan. Beliau menjawab dengan makna yang sejalan dengan hadits ini: bahwa manusia memuliakan orang karena harta dan kedudukannya, tetapi Allah memuliakan orang karena takwanya. Beliau mengingatkan bahwa betapa banyak orang kaya yang hina di sisi Allah, dan betapa banyak orang miskin yang mulia di sisi-Nya karena ketakwaannya.

Dari Samurah bin Jundab رضي الله عنه, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, kita belajar bahwa beliau menerima langsung pengajaran Nabi ﷺ tentang hakikat kemuliaan. Ini menunjukkan bahwa para sahabat dididik untuk tidak tertipu oleh kilau dunia.

(Sumber: riwayat At-Tirmidzi dan penjelasan para ulama dalam kitab tafsir dan syarah hadits.)

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan mengukur kemuliaan dengan harta. Banyak harta bukan tanda mulia di sisi Allah.
  2. Kejar takwa. Takwa adalah kunci kemuliaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.
  3. Jangan merendahkan orang miskin. Bisa jadi ia lebih mulia di sisi Allah karena takwanya.
  4. Perbaiki hati dan amal. Allah melihat hati dan amal, bukan penampilan dan kekayaan.
  5. Renungkan QS. Al-Hujurat [49]: 13 dan jadikan takwa sebagai tujuan hidup.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?