Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ — yang dosanya telah diampuni — tetap beristighfar 70 kali (bahkan dalam riwayat lain 100 kali) setiap hari. Ini menjadi teladan bagi kita agar tidak pernah merasa cukup dalam beristighfar, sekaligus menunjukkan bahwa istighfar seorang pemimpin hendaknya juga mencakup doa untuk kaum mukminin, sebagaimana isyarat ayat Surah Muhammad [47]: 19.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Muhammad [47]: 19
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
"Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan untuk (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal."
Hadits terkait:
- Hadits riwayat Al-Bukhari dari Abu Hurairah رضي الله عنه: Nabi ﷺ bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (Shahih Al-Bukhari)
- Hadits riwayat Muslim dari Al-Agharr bin Yasar Al-Muzani رضي الله عنه: Nabi ﷺ bersabda, "Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari." (Shahih Muslim)
- Hadits riwayat At-Tirmidzi dari Abu Hurairah رضي الله عنه (hadits yang sedang kita bahas), dan At-Tirmidzi menilai: "Hadits ini hasan shahih."
Kaitan dengan ulama:
- Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) adalah perawi dalam sanad hadits ini — seorang tabi'in yang menjadi rujukan utama dalam hadits dan sirah.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa istighfar Nabi ﷺ bukan karena adanya dosa, melainkan bentuk penghambaan, kerendahan diri, dan pengajaran bagi umat.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa istighfar Nabi ﷺ adalah bentuk tawadhu' dan syukur, bukan karena beliau berdosa.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ beristighfar kepada Allah sebanyak 70 kali dalam sehari. Dalam riwayat lain disebutkan 100 kali. Angka-angka ini menunjukkan mubalaghah (kesungguhan dan banyaknya), bukan pembatasan angka secara kaku. Sebagian ulama menjelaskan bahwa angka 70 dan 100 menunjukkan intensitas dan kesinambungan, bukan sekadar hitungan matematis.
Bagaimana para ulama memahami hadits ini:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa istighfar Nabi ﷺ meskipun beliau telah diampuni dosanya (baik yang lalu maupun yang akan datang), adalah bentuk:
- Kesempurnaan penghambaan kepada Allah
- Syukur atas nikmat yang diberikan
- Teladan bagi umat agar tidak meninggalkan istighfar
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama sepakat istighfar Nabi ﷺ bukan berarti beliau memiliki dosa, tetapi sebagai bentuk kerendahan diri di hadapan Allah dan pengajaran bagi umatnya.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Muhammad [47]: 19 menjelaskan bahwa Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk beristighfar untuk dirinya dan untuk kaum mukminin. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin hendaknya mendoakan dan memohon ampunan bagi rakyatnya.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa istighfar memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam, dan Nabi ﷺ yang ma'shum (terjaga dari dosa) pun tidak pernah meninggalkannya. Ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya untuk orang berdosa, tetapi merupakan makanan ruhani bagi setiap hamba.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk beristighfar bagi diri sendiri dan kaum mukminin, dan bahwa Nabi ﷺ mengamalkannya secara nyata sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.
Perbedaan riwayat 70 vs 100 kali:
Sebagian ulama menjelaskan bahwa keduanya bisa jadi menunjukkan waktu yang berbeda — 70 kali pada suatu waktu, dan 100 kali pada waktu lain. Atau bisa juga menunjukkan bahwa angka tersebut adalah mubalaghah (ungkapan banyak). Yang jelas, keduanya shahih dan tidak bertentangan. Sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi, yang penting adalah semangat dan kesinambungannya.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه — seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits — bahwa beliau mendengar langsung dari Nabi ﷺ tentang istighfar ini. Abu Hurairah sendiri dikenal sebagai sahabat yang sangat tekun beribadah dan menjaga hafalan hadits.
Al-Hasan al-Bashri — seorang tabi'in yang terkenal dengan kezuhudan dan nasihatnya — pernah mengatakan bahwa istighfar adalah makanan bagi hati, sebagaimana makanan bagi tubuh. Beliau mengajak umat untuk tidak pernah meninggalkan istighfar, karena seorang hamba yang beristighfar akan selalu dekat dengan Allah.
Fudail bin 'Iyadh — seorang ulama besar yang terkenal dengan kelembutan hatinya — juga menekankan pentingnya istighfar sebagai sarana pembersih hati dan pendekatan diri kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak istighfar setiap hari — minimal 70–100 kali, sebagaimana teladan Nabi ﷺ. Ini bukan angka yang memberatkan, tetapi bentuk kesungguhan.
- Jangan merasa cukup dengan amal — Nabi ﷺ yang ma'shum saja beristighfar, apalagi kita yang penuh dosa.
- Doakan kaum mukminin — sebagaimana ayat Surah Muhammad [47]: 19 memerintahkan istighfar untuk diri sendiri dan kaum mukminin laki-laki dan perempuan.
- Jadikan istighfar sebagai kebiasaan harian — di waktu pagi, petang, sebelum tidur, dan di sela-sela aktivitas.
- Pahami bahwa istighfar bukan hanya untuk dosa — tetapi juga bentuk syukur, tawadhu', dan penghambaan kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.