Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3247 tentang Doa adalah ibadah

Penjelasan Hadits: "Doa adalah Ibadah" (HR. At-Tirmidzi No. 3247)

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan inti dari ibadah kepada Allah. Nabi ﷺ menguatkan pernyataan ini dengan ayat Al-Qur'an yang menyebut orang yang sombong dari berdoa akan masuk neraka dalam keadaan hina. Maka meninggalkan doa—terutama doa ibadah—adalah tanda kesombongan terhadap Allah, sedangkan merutinkannya adalah tanda kehambaan dan ketundukan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ dalam hadits ini:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

QS. Ghafir [40]: 60

"Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonanmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari ibadah-Ku, mereka pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.'"

Hadits terkait:

Dari An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

"Doa adalah ibadah." (HR. At-Tirmidzi no. 3247, dan beliau berkata: hadits ini hasan shahih)

Hadits ini diriwayatkan melalui jalur Sufyan (yaitu Sufyan ats-Tsauri) dari Manshur dan Al-A'masy, dari Dzar, dari Yusai' Al-Hadhrami, dari An-Nu'man bin Basyir. Perawi Abdurrahman bin Mahdi—salah satu ulama dalam daftar rujukan—termasuk perawi hadits ini, dan beliau dikenal sebagai imam dalam hadits di zamannya.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih, artinya dapat dijadikan hujjah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil utama bahwa doa itu sendiri adalah ibadah, bukan sekadar sarana.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa para ulama sepakat menjadikan hadits "الدعاء هو العبادة" sebagai pokok dalam bab doa.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Ghafir [40]: 60 menjelaskan bahwa Allah memerintahkan berdoa dan menjanjikan pengabulan, serta mengancam orang yang sombong dari berdoa.

Penjelasan Rinci

Makna "Doa adalah Ibadah"

Secara bahasa, du'a berarti memanggil atau memohon. Secara syariat, doa mencakup dua hal:

  1. Doa ibadah (دعاء العبادة) — yaitu semua bentuk ibadah seperti shalat, puasa, dzikir, yang pada hakikatnya adalah bentuk penghambaan dan permohonan kepada Allah.
  2. Doa permintaan (دعاء المسألة) — yaitu meminta kebutuhan dunia dan akhirat kepada Allah.

Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan Allah Maha Pemurah: Dia memerintahkan hamba-Nya berdoa, lalu menjanjikan pengabulan. Maka meninggalkan doa berarti meninggalkan perintah, dan itu adalah kesombongan.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib menyebutkan bahwa doa adalah "senjata orang beriman" dan salah satu ibadah paling mulia, karena di dalamnya terkumpul pengakuan akan kelemahan diri dan keagungan Allah.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa orang yang meninggalkan doa karena merasa tidak butuh kepada Allah—bukan karena lupa—maka ia telah terjatuh dalam kesombongan yang diancam neraka.

Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa ayat "إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي" menunjukkan bahwa doa disebut ibadah secara langsung, sehingga meninggalkannya sama dengan meninggalkan ibadah.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda dalam memahami apakah "doa" di sini mencakup semua ibadah atau hanya doa permintaan. Namun jumhur (mayoritas) ulama—termasuk Imam Ahmad bin Hanbal, Ibn Taymiyyah, dan Ibn Qayyim—menegaskan bahwa doa mencakup keduanya, dan itulah yang paling kuat berdasarkan keumuman lafazh hadits dan ayat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri—seorang tabi'in yang dikenal zuhud dan ahli ibadah—pernah ditanya: "Mengapa orang yang berdoa tidak juga dikabulkan?" Beliau menjawab dengan tenang: "Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang terus mengetuk pintu-Nya. Jika engkau tahu bahwa doa itu sendiri adalah ibadah, engkau tidak akan bosan memohon, meski jawabannya tertunda."

Dalam riwayat lain, Sufyan ats-Tsauri—guru dari perawi hadits ini—mengatakan: "Doa adalah ibadah yang paling utama, karena di dalamnya seorang hamba mengakui kelemahannya dan menyerahkan urusannya kepada Allah." (Disebutkan secara makna dalam kitab-kitab salaf, seperti Az-Zuhd karya Imam Ahmad dan Al-Hilyah).

Hikmahnya: doa bukan sekadar alat untuk mendapatkan sesuatu, tetapi ia sendiri adalah bentuk penghambaan yang mendekatkan diri kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan doa sebagai kebiasaan harian, bukan hanya saat kesulitan. Karena doa adalah ibadah, meninggalkannya berarti meninggalkan ibadah.
  2. Jangan merasa sombong atau malas berdoa. Ayat ini mengancam orang yang sombong dari berdoa dengan neraka dalam keadaan hina.
  3. Berdoalah dengan penuh adab: memuji Allah, bershalawat kepada Nabi ﷺ, lalu menyampaikan hajat.
  4. Yakinlah pada pengabulan, meski bentuk dan waktunya berbeda dari yang kita harapkan—karena Allah Maha Mengetahui yang terbaik.
  5. Hindari ghuluw (berlebihan) dalam berdoa, seperti meminta hal yang tidak layak atau meninggalkan usaha setelah berdoa.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?