Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3244 tentang As-Sur adalah tanduk yang ditiup malaikat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan makna As-Sur (الصُّوْر) yang disebut dalam Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ menafsirkannya secara singkat dan jelas: As-Sur adalah sebuah tanduk (qarn) yang akan ditiup ke dalamnya. Penafsiran ini selaras dengan pemahaman para sahabat dan ulama salaf bahwa As-Sur adalah alat yang ditiup oleh Malaikat Israfil sebagai tanda datangnya hari kiamat dan hari kebangkitan.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Dalil Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

"Dan ditiuplah sangkakala (As-Sur), maka matilah segala yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (kebangkitan)."

(QS. Az-Zumar [39]: 68)

2. Hadits Terkait:

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dari Surah Az-Zumar, no. 3244. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan (baik).

3. Kaitan dengan Ulama:

Penjelasan bahwa As-Sur adalah "tanduk" merupakan pemahaman yang masyhur di kalangan ulama tafsir. Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menukil perkataan para ulama salaf tentang hal ini. Beliau menyebutkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri dan Qatadah termasuk di antara ulama yang menafsirkan As-Sur dengan makna tanduk, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat tafsir.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa kata As-Sur (الصُّور) dalam bahasa Arab bermakna tanduk (القرن). Ini adalah makna bahasa yang dikenal. Namun, hakikat bentuk dan ukurannya hanya diketahui oleh Allah dan Rasul-Nya.

Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa As-Sur adalah tanduk yang ditiup. Beliau menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri bahwa As-Sur adalah tanduk. Demikian pula Qatadah berkata: "As-Sur adalah tanduk yang ditiup." Ini menunjukkan bahwa penafsiran ini telah menjadi konsensus pemahaman ulama salaf.

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa meniup As-Sur ini terjadi dalam beberapa tahapan sesuai kehendak Allah. Ada tiupan yang menyebabkan kepanikan (faza'), tiupan yang menyebabkan kematian (sha'iq), dan tiupan kebangkitan (qiyam). Semua ini adalah perkara ghaib yang wajib kita imani tanpa mempertanyakan bagaimana bentuknya secara detail.

Hadits dari Abdullah bin Amr ini memberikan faedah penting: Rasulullah ﷺ sendiri yang menjelaskan makna As-Sur. Maka tidak ada ruang bagi kita untuk menakwilkan atau menafsirkan As-Sur dengan makna lain yang tidak sesuai dengan penjelasan beliau. Ini adalah bentuk ittiba' (mengikuti) kepada Rasulullah ﷺ dalam masalah aqidah.

Para ulama juga menegaskan bahwa mengimani As-Sur termasuk bagian dari iman kepada hari akhir. Siapa yang mengingkarinya atau menafsirkannya dengan penafsiran yang menyimpang, maka ia telah menyimpang dari pemahaman salaf.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma adalah seorang sahabat yang sangat bersemangat dalam menuntut ilmu dan menghafal hadits. Suatu hari, seorang Arab Badui yang lugu datang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang As-Sur yang disebut dalam Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa pertanyaan tentang perkara ghaib adalah hal yang wajar dan tidak tercela, selama tujuannya untuk menambah keimanan dan pemahaman.

Rasulullah ﷺ menjawab dengan jawaban yang singkat namun sangat jelas: "Tanduk yang ditiup ke dalamnya." Beliau tidak memperpanjang jawaban karena memang hakikatnya adalah perkara ghaib yang tidak perlu diperinci lebih jauh. Cukuplah kita mengetahui bahwa ia adalah tanduk yang ditiup, dan kita mengimani bahwa Allah akan memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniupnya.

Hikmah dari kisah ini: Janganlah kita memperdalam pertanyaan tentang hal-hal yang tidak perlu diperinci oleh syariat. Cukup kita imani apa yang diberitakan oleh Rasulullah ﷺ, dan kita serahkan hakikat sepenuhnya kepada Allah. Ini adalah adab seorang muslim dalam menyikapi perkara ghaib.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani As-Sur sebagai tanduk yang ditiup, sebagaimana penjelasan Rasulullah ﷺ dalam hadits ini.
  2. Jangan memperdalam hal-hal yang tidak dijelaskan secara rinci oleh Al-Qur'an dan Sunnah, karena itu hanya akan membuka pintu kesesatan dan perdebatan yang tidak bermanfaat.
  3. Jadikan pertanyaan tentang perkara ghaib sebagai sarana menambah iman, bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu yang berlebihan.
  4. Rujuklah penafsiran ayat-ayat tentang hari akhir kepada ulama yang memahami Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, seperti yang telah kami sebutkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?