Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan rasa takut dan kewaspadaan mendalam yang dimiliki oleh para sahabat, khususnya Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu, ketika mendengar ayat tentang perselisihan di hadapan Allah pada Hari Kiamat. Beliau langsung bertanya kepada Nabi ﷺ, "Apakah perselisihan kita di dunia akan diulang kembali?" Nabi ﷺ menjawab, "Ya." Maka Az-Zubair pun berkata, "Kalau begitu, sungguh ini perkara yang sangat berat." Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak menganggap remeh perselisihan, kezaliman, dan permusuhan di dunia, karena semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Az-Zumar [39]: 31
ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ
"Kemudian, sesungguhnya kamu pada hari Kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu."
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dari Surah Az-Zumar, no. 3236. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih (حسن صحيح).
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan perselisihan antara orang-orang yang dizalimi dan orang-orang yang menzalimi di dunia. Semua akan dihadirkan di hadapan Allah untuk diadili dengan adil.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menafsirkan bahwa ayat ini adalah ancaman bagi orang-orang yang berbuat zalim dan hiburan bagi orang-orang yang dizalimi, karena Allah akan menegakkan keadilan-Nya pada hari itu.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman para sahabat terhadap Al-Qur'an. Ketika ayat ini turun, Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu tidak melewatinya begitu saja. Beliau langsung merenungkan konsekuensinya. Beliau bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Apakah perselisihan yang terjadi di antara kami di dunia akan diulang kembali di akhirat?" Jawaban Nabi ﷺ yang singkat namun tegas, "Ya," membuat Az-Zubair gemetar dan berkata, "Sungguh, ini adalah perkara yang sangat berat."
Pemahaman Ulama:
- Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai peringatan bahwa perselisihan yang terjadi di dunia, baik dalam masalah hak, harta, kehormatan, maupun darah, akan diadili kembali oleh Allah dengan keadilan yang sempurna. Tidak ada satu pun yang luput dari pengadilan Allah.
- Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) sendiri menilai hadits ini hasan shahih, menunjukkan bahwa sanadnya kuat dan dapat dijadikan hujjah.
- Syaikh As-Sa'di (w. 1376 H) menekankan bahwa ayat ini mengandung kabar gembira bagi orang yang dizalimi dan peringatan keras bagi orang yang menzalimi. Allah tidak akan melupakan kezaliman sedikit pun, meskipun hanya sebesar biji sawi.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali (w. 795 H) dalam kitabnya tentang hari kiamat menjelaskan bahwa rasa takut para sahabat terhadap hisab dan perselisihan di akhirat adalah bukti keimanan mereka yang kuat. Mereka lebih takut kepada Allah daripada mengejar kenikmatan dunia.
Pelajaran dari Rasa Takut Az-Zubair:
Az-Zubair adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Namun, beliau tetap merasa takut ketika mendengar ayat ini. Ini menunjukkan bahwa rasa takut kepada Allah tidak bertentangan dengan keyakinan akan surga. Justru, semakin tinggi iman seseorang, semakin besar rasa takutnya untuk berbuat zalim dan melanggar hak orang lain.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu sangat terpukul. Beliau adalah seorang yang gagah berani, pahlawan perang, dan salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ. Namun, ketika membayangkan harus berhadapan dengan orang-orang yang pernah berselisih dengannya di dunia di hadapan Allah, beliau berkata, "Sungguh, ini adalah perkara yang sangat berat."
Para ulama menyebutkan bahwa ketakutan Az-Zubair ini bukan karena beliau ragu akan keadilan Allah, tetapi karena beliau sangat memahami besarnya tanggung jawab dan beratnya hisab. Beliau lebih memilih untuk tidak memiliki perselisihan dengan siapa pun di dunia, agar ringan hisabnya di akhirat.
Hikmah dari kisah ini: Jika seorang sahabat yang dijamin surga saja merasa takut, maka kita yang penuh dengan dosa dan kesalahan seharusnya lebih takut lagi. Kita harus segera menyelesaikan perselisihan, meminta maaf, dan memaafkan sebelum datang hari di mana semua perselisihan diadili oleh Allah.
Kesimpulan Praktis
- Segera selesaikan perselisihan dengan sesama muslim sebelum datangnya hari di mana Allah akan mengadili semua perselisihan tersebut.
- Jangan menzalimi orang lain, baik dalam bentuk harta, kehormatan, maupun perbuatan, karena semua akan dipertanggungjawabkan.
- Bersegera meminta maaf ketika kita bersalah dan memaafkan ketika orang lain meminta maaf kepada kita.
- Rasa takut kepada Allah adalah tanda keimanan, sebagaimana rasa takut Az-Zubair ketika mendengar ayat ini.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai bahan renungan, bukan sekadar bacaan. Para sahabat merenungkan setiap ayat yang turun dan langsung mengambil pelajaran darinya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.