Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3234 tentang Dialog Nabi dengan Allah tentang amalan penghapus dosa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan Imam At-Tirmidzi (no. 3234) dari Ibnu Abbas رضي الله عنه, berisi dialog Nabi ﷺ dengan Tuhannya dalam bentuk yang paling baik, dan penjelasan bahwa para malaikat mulia (al-mala' al-a'la) berselisih/berbicara tentang amalan-amalan yang mengangkat derajat: menyempurnakan wudhu, melangkah ke masjid, dan menunggu shalat. Hadits ini termasuk hadits tentang ru'yah (penglihatan) Nabi ﷺ dan keutamaan amalan-amalan tersebut. Para ulama berbeda dalam memahami lafaz "Tuhanku datang kepadaku dalam bentuk yang paling baik" — sebagian memahaminya sebagai mimpi, sebagian sebagai ru'yah yang khusus bagi Nabi ﷺ. Yang jelas, isi hadits ini mengajarkan amalan-amalan ringan yang besar pahalanya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. An-Najm [53]: 13-14

```

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ ۞ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ

```

"Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha."

QS. Al-Isra' [17]: 1

```

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

```

"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."

Hadits terkait:

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, dan Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa hadits ini hasan gharib dari jalur ini. Imam At-Tirmidzi juga menyebutkan adanya riwayat lain dari Mu'adz bin Jabal dan Abdurrahman bin 'A'isy رضي الله عنهما.

Kaitan dengan ulama:

  • Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (Tabi'in) adalah perawi dalam sanad hadits ini, dan beliau dikenal sebagai ahli tafsir dan hadits.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya membahas hadits-hadits tentang ru'yah Nabi ﷺ dan menyebutkan hadits ini dalam konteks pembahasan Surah Sad.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits-hadits serupa tentang ru'yah dan menjelaskan perbedaan pendapat ulama.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits-hadits tentang ru'yah dan adab-adabnya.
  • Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah membahas masalah ru'yah dan sifat-sifat Allah dengan pendekatan Ahlus Sunnah.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Tuhanku datang kepadaku dalam bentuk yang paling baik"

Para ulama dari daftar yang disebutkan memiliki beberapa pemahaman:

Pendapat pertama: Ini terjadi dalam mimpi. Sebagaimana dijelaskan bahwa Nabi ﷺ melihat Tuhannya dalam mimpi, karena penglihatan langsung di dunia tidak mungkin terjadi bagi manusia biasa. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami hadits ini sebagai mimpi, karena Nabi ﷺ bersabda "Tuhanku datang kepadaku" — dan ini bisa dipahami sebagai ru'yah dalam mimpi.

Pendapat kedua: Ini adalah ru'yah yang khusus bagi Nabi ﷺ, yang terjadi dalam keadaan terjaga, sebagai karunia khusus. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memiliki keistimewaan tertentu dalam ru'yah, dan hadits ini menunjukkan hal tersebut.

Pendapat ketiga: Yang dimaksud adalah kedatangan malaikat yang membawa wahyu, dan "bentuk yang paling baik" adalah bentuk malaikat Jibril. Namun pendapat ini lemah karena lafaz hadits secara jelas menyebut "Tuhanku" (رَبِّي).

Yang paling kuat — dan ini yang dipegang oleh Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, dan Ibnu Hajar — adalah bahwa ini adalah ru'yah yang terjadi dalam mimpi, karena Nabi ﷺ bersabda "Tuhanku datang kepadaku" dan ini terjadi dalam konteks mimpi, sebagaimana hadits-hadits lain tentang mimpi Nabi ﷺ. Wallahu a'lam.

2. Makna "Apa yang menjadi perdebatan para malaikat yang paling tinggi?"

Al-mala' al-a'la (الْمَلأُ الأَعْلَى) adalah para malaikat yang berada di tempat tertinggi, yaitu para malaikat mulia seperti Jibril, Mikail, Israfil, dan lainnya. Mereka "berselisih" atau "berbicara" tentang amalan-amalan yang dapat mengangkat derajat manusia.

Qatadah (perawi hadits ini) menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah para malaikat berbicara dan bertanya tentang amalan-amalan yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat.

3. Amalan-amalan yang disebutkan

Nabi ﷺ menyebutkan empat amalan utama:

  1. Ad-darajat (الدَّرَجَات) — derajat-derajat tinggi di surga, yang dicapai melalui amal saleh.
  2. Al-kaffarat (الْكَفَّارَات) — penghapus dosa, yaitu amalan-amalan yang menghapus kesalahan.
  3. Naqlul aqdam ilal jama'at (نَقْلِ الأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَات) — melangkahkan kaki menuju shalat berjamaah.
  4. Isbaghul wudhu fil makruhat (إِسْبَاغِ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَات) — menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai (seperti cuaca dingin, sakit, atau kesulitan).
  5. Intizharus shalati ba'das shalah (انْتِظَارِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ) — menunggu shalat setelah shalat.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa amalan-amalan ini adalah amalan yang tampak ringan tetapi besar pahalanya, karena melibatkan kesabaran dan keistiqamahan.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa amalan-amalan ini termasuk mukaffirat (penghapus dosa) dan muqarribat (pendekat diri kepada Allah).

4. Makna "Dosanya seperti pada hari ibunya melahirkannya"

Ini adalah ungkapan bahwa dosa-dosanya diampuni seluruhnya, sehingga ia kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah karunia besar dari Allah bagi orang yang menjaga amalan-amalan tersebut.

5. Kedudukan hadits

Imam At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan gharib dari jalur ini. Gharib berarti jalur periwayatannya sedikit atau hanya dari satu jalur tertentu. Namun hadits ini memiliki penguat dari riwayat lain, sehingga para ulama menerimanya.

Syeikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai hadits ini shahih dengan jalur-jalurnya yang saling menguatkan.

Story Telling

Diceritakan bahwa Ibnu Abbas رضي الله عنه, sahabat yang mulia dan ahli tafsir, meriwayatkan hadits ini dari Nabi ﷺ. Ibnu Abbas dikenal sebagai turjumanul Qur'an (penerjemah Al-Qur'an) karena doa Nabi ﷺ untuknya: "Ya Allah, ajarkanlah dia hikmah dan takwil Al-Qur'an."

Suatu ketika, Qatadah bin Di'amah as-Sadusi — seorang Tabi'in yang buta matanya tetapi hatinya penuh cahaya ilmu — meriwayatkan hadits ini dari Abu Qilabah, dari Khalid bin Al-Lajlaj, dari Ibnu Abbas. Qatadah adalah ulama yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits dan tafsir. Beliau dikenal sebagai ahli tafsir yang pendapat-pendapatnya banyak dikutip oleh Ibnu Katsir dan At-Tabari.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang hadits ini, dan beliau menerimanya sebagai bagian dari hadits-hadits ru'yah. Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menerima hadits, tetapi beliau menerima hadits ini karena memiliki jalur yang kuat.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa amalan-amalan sederhana — seperti berwudhu dengan sempurna, melangkah ke masjid, dan menunggu shalat — memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Beliau mengingatkan bahwa seorang Muslim hendaknya tidak meremehkan amalan kecil, karena bisa jadi amalan kecil itulah yang menyelamatkannya di hari kiamat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan meremehkan amalan kecil. Menyempurnakan wudhu, melangkah ke masjid, dan menunggu shalat adalah amalan yang dicintai Allah dan dapat menghapus dosa.
  2. Jaga shalat berjamaah. Melangkahkan kaki menuju jamaah adalah amalan yang disebutkan dalam hadits ini sebagai amalan yang diperbincangkan para malaikat mulia.
  3. Bersabarlah dalam kesulitan beribadah. Menyempurnakan wudhu dalam keadaan dingin atau sulit adalah tanda keimanan yang kuat.
  4. Istiqamah dalam menunggu shalat. Duduk di masjid menunggu shalat berikutnya adalah amalan yang mengangkat derajat.
  5. Berbaik sangka kepada Allah. Hadits ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah, sampai-sampai dosa orang yang menjaga amalan ini diampuni seperti bayi yang baru lahir.
  6. Tawadhu dalam memahami sifat Allah. Para ulama berbeda pendapat tentang makna ru'yah dalam hadits ini, dan kita hendaknya mengikuti pemahaman Ahlus Sunnah yang menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menolak, dan tanpa menakwilkan secara berlebihan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?