Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3227 tentang Matahari meminta izin sujud sebelum terbit dari barat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa matahari setelah terbenam pergi bersujud dan meminta izin kepada Allah, lalu diizinkan kembali terbit dari tempat terbitnya. Namun pada suatu waktu nanti, ia akan diperintahkan terbit dari arah barat sebagai tanda besar datangnya Kiamat. Ini termasuk perkara ghaib yang wajib kita imani, dan menjadi dalil bahwa matahari adalah makhluk yang tunduk kepada perintah Allah, bukan tuhan yang disembah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ dalam hadits ini (menurut bacaan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu):

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا

Terjemahan: "Dan matahari berjalan menuju tempat tetapnya." (QS. Yasin [36]: 38 — menurut qira'ah Abdullah bin Mas'ud, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini)

Adapun bacaan dalam mushaf yang masyhur:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Terjemahan: "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui." (QS. Yasin [36]: 38)

Hadits terkait — dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Jami' at-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab Surah Yasin, no. 3227. Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dengan lafaz yang semakna, sehingga para ulama menetapkannya sebagai hadits yang tsabit (kokoh).

Keterkaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini sebagai dalil bahwa matahari berjalan pada garis edarnya yang telah ditetapkan Allah, dan bahwa tempat peredarannya (mustaqarr) mencakup tempat sujudnya di bawah 'Arsy.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits ini dan menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna "sujud" matahari — apakah hakiki atau majazi — dan beliau menguatkan bahwa maknanya hakiki sesuai zahir hadits, karena tidak ada dalil yang memalingkannya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini termasuk berita ghaib yang wajib diimani tanpa menakwilkan secara berlebihan.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa matahari tunduk kepada perintah Allah, dan peredaran serta sujudnya adalah bukti kehambaan seluruh makhluk kepada-Nya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Matahari adalah makhluk yang beribadah kepada Allah.

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa matahari setelah terbenam "pergi meminta izin untuk sujud." Ini menunjukkan bahwa matahari memiliki bentuk ibadah yang khusus, dan bahwa ia tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah. Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya bahwa matahari sujud di bawah 'Arsy, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain yang shahih.

Kedua: Adab bertanya dan menjawab.

Ketika Nabi ﷺ bertanya kepada Abu Dzarr, beliau menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Ini adalah adab yang diajarkan Islam — ketika ditanya tentang perkara ghaib, kita mengembalikan ilmu kepada Allah dan Rasul-Nya. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah adab yang seharusnya dimiliki setiap Muslim dalam menyikapi perkara yang tidak diketahui.

Ketiga: Tanda besar Kiamat — matahari terbit dari barat.

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa pada suatu waktu, matahari akan diperintahkan untuk terbit dari arah barat. Ini adalah salah satu tanda besar Kiamat yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih lainnya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa terbitnya matahari dari barat adalah tanda yang menandakan tertutupnya pintu taubat, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain.

Keempat: Perbedaan qira'ah.

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ membaca ayat dengan lafaz "وذلك مستقر لها" yang merupakan bacaan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Ini menunjukkan bahwa ada qira'ah yang berbeda dalam membaca ayat ini, dan Nabi ﷺ sendiri membacanya sesuai dengan bacaan yang beliau ajarkan. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa perbedaan ini adalah perbedaan qira'ah yang dikenal dalam ilmu qira'at, bukan pertentangan makna.

Kelima: Penilaian Imam at-Tirmidzi.

Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Para ulama hadits seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi juga menguatkan keshahihan hadits ini, sehingga tidak ada keraguan tentang keabsahannya.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama menakwilkan "sujud" matahari sebagai majaz (kiasan) — yaitu ketundukannya kepada perintah Allah secara umum. Namun yang lebih kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa sujud itu hakiki sesuai zahir hadits, karena tidak ada dalil yang memalingkan maknanya, dan ini termasuk perkara ghaib yang wajib diimani.

Story Telling

Diceritakan bahwa Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu masuk ke masjid ketika matahari sedang terbenam. Nabi ﷺ sedang duduk, dan beliau bertanya: "Wahai Abu Dzarr, apakah kamu tahu ke mana matahari ini pergi?"

Abu Dzarr menjawab dengan penuh adab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."

Maka Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya bahwa matahari pergi untuk bersujud dan meminta izin kepada Allah, lalu diizinkan kembali. Dan beliau mengabarkan bahwa suatu saat nanti, matahari akan diperintahkan untuk terbit dari arah barat — sebagai tanda datangnya Kiamat.

Abu Dzarr mendengarkan dengan penuh perhatian, dan beliau tidak bertanya lebih jauh, karena beliau tahu bahwa ini adalah perkara ghaib yang hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui. Inilah teladan dalam menyikapi berita ghaib — menerima dengan iman, tanpa menolak dan tanpa berlebihan.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani perkara ghaib — matahari sujud dan meminta izin kepada Allah adalah berita yang wajib diimani, meskipun kita tidak menyaksikannya secara langsung.
  2. Jangan menyembah matahari — matahari adalah makhluk yang tunduk kepada Allah, bukan tuhan yang berhak disembah.
  3. Adab bertanya — ketika ditanya tentang perkara yang tidak diketahui, jawablah dengan "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."
  4. Ingat tanda Kiamat — terbitnya matahari dari barat adalah tanda besar yang menandakan dekatnya Kiamat, dan hendaknya kita bersiap dengan amal shaleh.
  5. Rujuk ulama terpercaya — dalam memahami hadits-hadits ghaib, kembalilah kepada penjelasan ulama Ahlus Sunnah seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan an-Nawawi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?