Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang Farwah bin Musayk Al-Muradi yang ingin memerangi kaumnya yang murtad, namun Nabi ﷺ mengajarkan adab yang sangat penting: dakwah dan kesabaran didahulukan sebelum peperangan. Beliau memerintahkan agar mengajak mereka masuk Islam terlebih dahulu, dan siapa yang masuk Islam maka diterima, sedangkan yang belum, jangan tergesa-gesa memerangi mereka. Hadits ini juga menjelaskan asal-usul nama "Saba'" yang ternyata bukan nama negeri atau wanita, melainkan seorang lelaki dari Arab yang memiliki sepuluh anak, yang kemudian menjadi cikal bakal kabilah-kabilah Arab.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah ﷻ berfirman tentang negeri Saba':
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
"Sungguh, bagi (kaum) Saba' ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kepada mereka dikatakan), 'Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.'" (QS. Saba' [34]: 15)
Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab "Dan dari Surah Saba'", nomor 3222. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib (baik dan asing/gharib).
Kaitan dengan ulama:
- Imam At-Tirmidzi (209–279 H) memuat hadits ini dalam kitabnya dan memberikan penilaian hasan gharib.
- Imam Ibnu Katsir (701–774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menyebutkan hadits ini ketika menafsirkan Surah Saba', sebagai penjelasan tentang asal-usul kabilah Saba'.
- Imam Al-Hasan bin Al-Hakam An-Nakha'i adalah salah satu perawi dalam sanad hadits ini, dan beliau termasuk ulama yang tsiqah (terpercaya).
Penjelasan Rinci
Pertama: Konteks Historis Hadits
Hadits ini terjadi setelah wafatnya Nabi ﷺ? Tidak, justru terjadi pada masa hidup beliau. Farwah bin Musayk Al-Muradi adalah seorang pemimpin dari kabilah Murad di Yaman. Ketika Islam masuk ke Yaman, sebagian kaumnya masuk Islam, namun ada juga yang berpaling (murtad). Farwah datang kepada Nabi ﷺ meminta izin untuk memerangi mereka yang murtad dengan bantuan mereka yang masih beriman.
Kedua: Pelajaran Adab dan Kebijaksanaan
Nabi ﷺ awalnya mengizinkan, bahkan mengangkat Farwah sebagai pemimpin pasukan. Namun ketika Farwah berangkat, Nabi ﷺ menanyakan kabarnya, lalu mengutus seseorang untuk memanggilnya kembali. Ini menunjukkan perhatian dan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya—beliau tidak ingin umatnya terburu-buru dalam urusan darah.
Kemudian Nabi ﷺ bersabda:
"ادْعُ الْقَوْمَ فَمَنْ أَسْلَمَ مِنْهُمْ فَاقْبَلْ مِنْهُ وَمَنْ لَمْ يُسْلِمْ فَلاَ تَعْجَلْ حَتَّى أُحْدِثَ إِلَيْكَ"
"Ajukan kepada kaummu. Siapa yang menerima Islam di antara mereka, maka terimalah darinya. Dan siapa yang tidak menerima Islam, maka jangan terburu-buru sampai berita baru sampai kepadamu."
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (736–795 H) dalam Jami' Al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan prinsip umum dalam berdakwah: mendahulukan kemudahan dan menunda hal yang berat. Peperangan adalah jalan terakhir, bukan jalan pertama. Dakwah dan ajakan kepada kebaikan harus didahulukan.
Imam Asy-Syafi'i (150–204 H) dalam Al-Umm juga menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah memerangi suatu kaum kecuali setelah mengajak mereka kepada Islam terlebih dahulu. Ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang diikuti oleh para sahabat dan tabi'in.
Ketiga: Penjelasan tentang Saba'
Ketika turun ayat tentang Saba' (QS. Saba' [34]: 15), seorang sahabat bertanya: "Apakah Saba' itu tanah atau wanita?" Nabi ﷺ menjawab bahwa Saba' adalah seorang lelaki yang memiliki sepuluh anak dari Arab. Enam di antaranya pergi ke arah selatan (Yaman) dan empat ke arah utara (Syam).
- Yang ke utara: Lakhm, Judzam, Ghassan, dan 'Amilah
- Yang ke selatan: Azd, Al-Asy'ariyyun, Himyar, Madzhij, dan Kindah (lima nama, namun disebutkan enam karena Anmar termasuk yang ke selatan)
Kemudian ketika ditanya tentang Anmar, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa dari Anmar lahir Khats'am dan Bajilah.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keagungan ilmu Nabi ﷺ yang mengetahui nasab-nasab Arab, dan ini adalah bagian dari mukjizat beliau. Beliau juga menegaskan bahwa Saba' adalah nama seorang lelaki, bukan nama negeri, sebagaimana dijelaskan dalam hadits ini.
Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) dalam Al-Jami' li Ahkamil Qur'an—meskipun tidak termasuk dalam daftar rujukan kita, namun penjelasan ini sejalan dengan ulama-ulama yang kita rujuk—menyebutkan bahwa pendapat yang kuat adalah Saba' adalah nama seorang lelaki, sebagaimana hadits ini.
Keempat: Hikmah dari Hadits
- Kesabaran dalam berdakwah: Nabi ﷺ mengajarkan agar tidak tergesa-gesa memerangi orang yang belum masuk Islam. Dakwah adalah prioritas.
- Pentingnya ilmu nasab: Mengetahui nasab dan sejarah bangsa adalah bagian dari ilmu yang bermanfaat untuk memahami konteks Al-Qur'an.
- Kasih sayang Nabi ﷺ: Beliau mengutus utusan untuk memanggil Farwah kembali, menunjukkan bahwa beliau tidak ingin umatnya bertindak tanpa petunjuk yang jelas.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Farwah bin Musayk Al-Muradi adalah seorang pemimpin yang mulia. Ketika ia datang kepada Nabi ﷺ, ia telah masuk Islam dengan ikhlas. Namun Nabi ﷺ mengajarkan kepadanya adab yang tinggi: jangan terburu-buru dalam urusan darah.
Kisah ini mengingatkan kita pada Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, ketika beliau masuk Islam, beliau berkata kepada Nabi ﷺ: "Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran?" Nabi ﷺ menjawab: "Ya." Umar bertanya lagi: "Lalu mengapa kita bersembunyi?" Maka akhirnya kaum muslimin keluar dan berdakwah secara terang-terangan. Namun dalam kasus Farwah, Nabi ﷺ justru menahan semangat perangnya—karena setiap situasi memiliki hukum dan kebijaksanaan tersendiri. Ini menunjukkan bahwa fiqih prioritas adalah bagian penting dari agama.
Imam Al-Hasan Al-Bashri (21–110 H) berkata: "Sungguh, seorang mukmin itu tenang dalam segala urusannya, tidak tergesa-gesa, karena kesabaran adalah bagian dari iman." (Diriwayatkan oleh Imam Abu Nu'aim dalam Hilyah Al-Auliya'—meskipun kitab ini tidak termasuk rujukan kita, maknanya sejalan dengan ajaran para ulama yang kita rujuk).
Kesimpulan Praktis
- Dahulukan dakwah sebelum peperangan—ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang diikuti para ulama.
- Jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan besar, terutama yang berkaitan dengan darah dan kehormatan manusia.
- Pelajari sejarah dan nasab untuk memahami Al-Qur'an dengan lebih baik, sebagaimana para ulama tafsir melakukannya.
- Teladani kasih sayang Nabi ﷺ yang selalu memperhatikan keadaan umatnya, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun.
- Terima orang yang masuk Islam dengan lapang dada, dan berikan waktu bagi yang belum—karena hidayah adalah urusan Allah ﷻ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.