Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan cara bershalawat kepada Nabi ﷺ yang diajarkan langsung oleh beliau ketika ditanya oleh Bashir bin Sa'd. Lafazh shalawat yang diajarkan adalah "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad..." sebagaimana yang kita baca dalam tasyahud. Hadits ini menjadi dalil utama tentang wajibnya bershalawat kepada Nabi ﷺ beserta keluarganya, dan hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Ahzab [33]: 56
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Terjemahan: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 3220) dari Abu Mas'ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, dalam Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab tentang Surah Al-Ahzab. Imam At-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini hasan shahih."
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ka'b bin 'Ujrah, dan oleh Muslim dari Abu Humaid As-Sa'idi, dengan lafazh shalawat yang serupa.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa shalawat kepada keluarga Nabi ﷺ (ahlul bait) disyariatkan dalam shalawat.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama sepakat tentang disyariatkannya shalawat dalam tasyahud, dan lafazh yang paling utama adalah yang diajarkan dalam hadits ini.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Ahzab [33]: 56 menyebutkan bahwa ayat ini memerintahkan kaum mukminin untuk bershalawat dan bersalam kepada Nabi ﷺ, dan cara pelaksanaannya dijelaskan dalam hadits-hadits seperti ini.
Penjelasan Rinci
Latar belakang hadits:
Rasulullah ﷺ datang ke majelis Sa'd bin 'Ubadah radhiyallahu 'anhu. Di sana hadir para sahabat. Bashir bin Sa'd bertanya tentang bagaimana cara bershalawat, karena Allah telah memerintahkan dalam QS. Al-Ahzab [33]: 56. Pertanyaan ini menunjukkan pemahaman sahabat bahwa perintah Allah harus ditanyakan tata caranya kepada Nabi ﷺ.
Sikap Nabi ﷺ yang diam:
Nabi ﷺ diam sejenak. Para sahabat sampai merasa menyesal mengapa pertanyaan itu diajukan, karena khawatir Nabi ﷺ tidak suka atau karena beratnya wahyu yang mungkin turun. Ini menunjukkan adab para sahabat yang sangat hati-hati dan hormat kepada Nabi ﷺ.
Lafazh shalawat yang diajarkan:
Nabi ﷺ mengajarkan lafazh: "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama shallaita 'ala ali Ibrahim, wa barik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama barakta 'ala ali Ibrahim fil 'alamin, innaka hamidun majid." Dan untuk salam: "Assalamu 'alaika..." sebagaimana yang telah diajarkan dalam tasyahud.
Pemahaman ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa lafazh shalawat ini adalah yang paling afdhal (utama) untuk dibaca dalam shalat, dan para ulama menganjurkan untuk membacanya dalam tasyahud akhir.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa shalawat kepada keluarga Nabi ﷺ (ali Muhammad) adalah bagian yang tidak terpisahkan dari shalawat kepada Nabi ﷺ. Beliau juga menjelaskan bahwa "ali Muhammad" mencakup seluruh keluarga beliau yang beriman, baik dari keturunan maupun istri-istri beliau.
- Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat 56 dari Surah Al-Ahzab menunjukkan kemuliaan Nabi ﷺ, di mana Allah sendiri bershalawat kepadanya, dan memerintahkan hamba-Nya untuk bershalawat. Cara bershalawat yang paling benar adalah yang diajarkan dalam hadits ini.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa shalawat dari Allah berarti pujian dan rahmat-Nya, sedangkan shalawat dari malaikat dan manusia berarti doa dan permohonan ampunan untuk Nabi ﷺ.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin menjelaskan bahwa shalawat kepada Nabi ﷺ dalam tasyahud hukumnya wajib menurut sebagian ulama, dan lafazh yang paling utama adalah yang terdapat dalam hadits ini.
Perbedaan pendapat:
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalawat dalam tasyahud:
- Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat wajib, berdasarkan perintah dalam hadits ini dan hadits "Shallu 'alayya" (bershalawatlah kepadaku).
- Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat sunnah, meskipun tetap sangat dianjurkan.
Pendapat yang paling kuat adalah wajibnya shalawat dalam tasyahud, berdasarkan perintah tegas dalam hadits ini dan hadits-hadits lain yang shahih.
Story Telling
Diceritakan bahwa suatu ketika Imam asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku tidak suka meninggalkan shalawat kepada Nabi ﷺ dalam tasyahud, karena Allah telah memerintahkannya dalam kitab-Nya, dan Rasulullah ﷺ telah mengajarkan lafazhnya secara jelas." Beliau juga mengajarkan kepada murid-muridnya untuk membaca shalawat dengan lafazh yang diajarkan dalam hadits Abu Mas'ud ini.
Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang lafazh shalawat yang paling utama, beliau menjawab: "Yang diajarkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits Abu Mas'ud dan Ka'b bin 'Ujrah." Beliau sangat menekankan pentingnya mengikuti lafazh yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ, dan tidak menambah-nambah atau mengurangi.
Hikmahnya: Para ulama salaf sangat berhati-hati dalam beribadah, dan selalu mengikuti tuntunan Nabi ﷺ secara persis, terutama dalam hal yang berkaitan dengan shalawat, karena ini adalah ibadah yang langsung diperintahkan Allah.
Kesimpulan Praktis
- Bershalawat kepada Nabi ﷺ adalah perintah Allah dalam QS. Al-Ahzab [33]: 56, dan cara pelaksanaannya diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ.
- Lafazh shalawat yang paling utama adalah: "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama shallaita 'ala ali Ibrahim, wa barik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama barakta 'ala ali Ibrahim fil 'alamin, innaka hamidun majid."
- Membaca shalawat dalam tasyahud adalah bagian dari shalat, dan menurut pendapat yang kuat hukumnya wajib.
- Menyertakan keluarga Nabi ﷺ (ali Muhammad) dalam shalawat adalah bagian yang tidak terpisahkan, sebagaimana diajarkan dalam hadits ini.
- Mengikuti lafazh yang diajarkan Nabi ﷺ lebih utama daripada membuat lafazh sendiri atau mengikuti lafazh yang tidak ada dasarnya.
- Perbanyaklah bershalawat kepada Nabi ﷺ di luar shalat juga, karena ini adalah bentuk cinta dan penghormatan kepada beliau.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.