Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa kata الْبِضْعُ (al-bid'u) dalam Al-Qur'an bermakna bilangan antara tiga sampai sembilan. Rasulullah ﷺ menegur Abu Bakar radhiyallahu 'anhu karena terlalu yakin dalam taruhan (muanahabah) dengan orang Quraisy tentang kemenangan Romawi, tanpa berhati-hati terhadap makna kata tersebut. Pelajaran utamanya adalah pentingnya kehati-hatian dalam memahami Al-Qur'an dan tidak tergesa-gesa dalam perkara yang belum pasti.
---
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Ar-Rum [30]: 1-4 (potongan yang relevan):
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الٓمٓ غُلِبَتِ الرُّومُ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ فِي بِضْعِ سِنِينَ
"Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat, dan mereka setelah kekalahan mereka akan menang, dalam beberapa tahun (bid'u sinin)."
Hadits terkait:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dari Surah Ar-Rum, no. 3191. At-Tirmidzi mengatakan: "Hadits ini gharib dari hadits Az-Zuhri dari 'Ubaidillah dari Ibnu 'Abbas."
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa makna al-bid'u menurut para ulama bahasa adalah bilangan antara tiga sampai sembilan. Beliau menukil perkataan para ahli tafsir dari kalangan sahabat dan tabi'in.
- Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits ini saat menjelaskan kisah taruhan Abu Bakar dengan kaum Quraisy, dan menegaskan bahwa teguran Nabi ﷺ ini menunjukkan pentingnya memahami makna kata dalam Al-Qur'an sebelum berargumentasi.
---
Penjelasan Rinci
Latar Belakang Kisah
Kisah ini terjadi pada masa awal kenabian di Makkah. Kaum Quraisy saat itu sangat membenci dakwah Nabi ﷺ. Ketika terjadi peperangan antara Persia dan Romawi, Persia menang. Kaum musyrik Makkah bergembira karena Persia adalah kaum yang tidak beriman kepada kitab suci, sementara Romawi adalah Ahlul Kitab (Nasrani). Mereka berkata kepada kaum Muslimin: "Kami akan mengalahkan kalian sebagaimana Persia mengalahkan Romawi."
Maka turunlah firman Allah dalam surah Ar-Rum ini yang mengabarkan bahwa Romawi akan menang kembali dalam bid'u sinin (beberapa tahun). Mendengar ayat ini, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu sangat yakin dan langsung menantang kaum Quraisy untuk bertaruh (muanahabah) bahwa Romawi akan menang dalam waktu kurang dari tiga tahun. Ternyata kemenangan Romawi terjadi setelah lebih dari tiga tahun, sehingga Abu Bakar hampir kalah taruhan.
Makna Teguran Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Bakar:
"أَلَا احْتَطْتَ يَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّ الْبِضْعَ مَا بَيْنَ الثَّلَاثِ إِلَى التِّسْعِ"
"Mengapa kamu tidak berhati-hati wahai Abu Bakar? Sesungguhnya al-bid'u adalah bilangan antara tiga sampai sembilan."
Maksudnya: Nabi ﷺ menegur Abu Bakar karena ia menetapkan batas waktu tiga tahun, padahal kata bid'u dalam ayat itu bersifat umum, bisa tiga, empat, lima, hingga sembilan tahun. Seandainya Abu Bakar berhati-hati dengan tidak memastikan batas waktu tertentu, ia tidak akan terdesak dalam taruhan itu.
Penjelasan Ulama tentang Makna Al-Bid'u
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa al-bid'u menurut bahasa Arab adalah bilangan antara tiga sampai sembilan. Beliau menukil perkataan Mujahid dan Qatadah yang menyatakan bahwa al-bid'u berarti tiga sampai sembilan. Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf telah memahami makna ini dengan baik.
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di juga menjelaskan bahwa bid'u sinin artinya antara tiga sampai sembilan tahun, dan ini adalah kabar ghaib yang Allah beritakan dan terbukti terjadi.
Pelajaran dari Hadits Ini
- Kehati-hatian dalam memahami Al-Qur'an – Abu Bakar adalah orang yang paling paham Al-Qur'an di kalangan sahabat, namun tetap ditegur oleh Nabi ﷺ karena kurang teliti dalam memahami makna kata. Ini menunjukkan bahwa memahami Al-Qur'an butuh ilmu dan ketelitian.
- Larangan tergesa-gesa dalam perkara yang belum pasti – Dalam urusan dunia maupun agama, seorang mukmin hendaknya tidak memastikan sesuatu yang belum jelas, apalagi jika berkaitan dengan kabar ghaib.
- Kisah ini juga menunjukkan mukjizat Al-Qur'an – Allah mengabarkan kemenangan Romawi dalam bid'u sinin, dan itu benar-benar terjadi. Ini memperkuat keimanan kita terhadap kebenaran Al-Qur'an.
---
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah peristiwa ini, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu belajar dari teguran Nabi ﷺ. Beliau tidak marah atau merasa direndahkan, justru menerima nasihat dengan lapang dada. Ini adalah akhlak mulia para sahabat: mereka tidak pernah merasa cukup ilmu, dan selalu terbuka menerima koreksi dari Nabi ﷺ.
Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa setelah Romawi benar-benar menang, Abu Bakar menerima kemenangan taruhan tersebut dan membawa hasilnya kepada Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ memerintahkannya untuk bersedekah dengan harta tersebut. Ini menunjukkan bahwa taruhan (judi) tidak dibenarkan dalam Islam, dan kemenangan dari hal yang haram harus disedekahkan atau dibuang.
Hikmahnya: Seorang mukmin hendaknya selalu rendah hati untuk menerima nasihat, tidak merasa paling benar, dan senantiasa belajar dari kesalahan.
---
Kesimpulan Praktis
- Pelajari Al-Qur'an dengan ilmu – Jangan memahami ayat hanya dari terjemahan, tetapi pelajari tafsir dari ulama yang terpercaya.
- Berhati-hati dalam berbicara – Jangan memastikan perkara yang belum jelas, apalagi yang berkaitan dengan kabar ghaib.
- Terima nasihat dengan lapang dada – Sebagaimana Abu Bakar menerima teguran Nabi ﷺ, kita pun hendaknya tidak gengsi menerima koreksi dari orang lain.
- Jauhi judi dan taruhan – Islam melarang segala bentuk perjudian, termasuk taruhan dalam bentuk apapun.
- Yakinlah pada kebenaran Al-Qur'an – Kabar tentang kemenangan Romawi adalah bukti bahwa Al-Qur'an benar-benar firman Allah yang Maha Mengetahui masa depan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.