Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3161 tentang Cinta dan benci Allah kepada hamba tercermin di bumi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa cinta dan benci Allah kepada seorang hamba memiliki dampak nyata: bila Allah mencintai seorang hamba, Dia memberitahukan kepada Jibril, lalu Jibril menyerukan di langit, sehingga hati penduduk bumi pun cenderung mencintainya. Sebaliknya, bila Allah membenci seorang hamba, kebencian itu pun menyebar di bumi. Ayat yang dikutip Nabi ﷺ adalah QS. Maryam [19]: 96, yang menjadi dalil bahwa iman dan amal saleh adalah sebab turunnya cinta Allah dan cinta manusia.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Maryam [19]: 96

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (kepada mereka) di hati makhluk-Nya."

Hadits terkait:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Jami' at-Tirmidzi, Kitab Tafsir, Bab Surah Maryam, no. 3161, dari Abu Hurairah رضي الله عنه. At-Tirmidzi menilai: hasan shahih.
  • Hadits semakna juga diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dengan lafaz: "إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ..." (Bukhari no. 3209; Muslim no. 2637).

Kaitan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan ayat 96 Surah Maryam dengan hadits ini sebagai tafsir utama.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari membahas hadits ini dalam bab al-Mahabbah (cinta) dan al-Bughdh (benci) karena Allah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna "turunnya cinta di bumi" sebagai kecenderungan hati manusia untuk mencintai hamba tersebut.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa cinta Allah kepada hamba-Nya bukanlah perkara abstrak, tetapi memiliki konsekuensi nyata di alam malaikat dan di bumi. Ketika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril عليه السلام dan menyatakan cinta-Nya kepada hamba itu. Jibril lalu menyerukan di langit kepada para malaikat, sehingga mereka pun mencintainya. Kemudian Allah menanamkan rasa cinta kepada hamba itu di hati penduduk bumi.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  • Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat "sayaj'alu lahumur-Rahmanu wudda" berarti Allah akan menanamkan cinta kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh, baik di langit maupun di bumi. Beliau mengutip hadits ini sebagai penjelas langsung dari Nabi ﷺ.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa al-mahabbah (cinta) dan al-bughdh (benci) karena Allah adalah perkara yang ditetapkan (qadari), dan dampaknya bisa dirasakan di dunia. Beliau juga menjelaskan bahwa "turunnya cinta di bumi" berarti Allah menjadikan hamba tersebut dicintai oleh orang-orang beriman.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan iman dan amal saleh, karena keduanya adalah sebab utama turunnya cinta Allah. Beliau juga menegaskan bahwa cinta Allah kepada hamba-Nya adalah sifat yang hakiki sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa cinta Allah kepada hamba-Nya adalah puncak kebahagiaan, dan tanda cinta Allah kepada hamba adalah ketika hamba tersebut dicintai oleh penduduk langit dan bumi.
  • Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan ayat 96 Surah Maryam: Allah menjadikan hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh dicintai oleh-Nya, lalu cinta itu menyebar kepada para malaikat dan manusia. Ini adalah karunia besar yang tidak bisa dibeli dengan harta.

Poin penting:

  1. Iman dan amal saleh adalah sebab utama turunnya cinta Allah.
  2. Cinta Allah berdampak pada cinta para malaikat dan manusia.
  3. Kebencian Allah juga berdampak, yaitu kebencian yang menyebar di bumi.
  4. Hadits ini menunjukkan bahwa hati manusia berada di tangan Allah; Dia-lah yang membolak-balikkannya.

Perbedaan pendapat:

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama yang tercantum dalam daftar mengenai makna hadits ini. Semua sepakat bahwa cinta dan benci Allah adalah hakiki, dan dampaknya nyata di langit dan bumi.

Story Telling

Kisah Umar bin al-Khaththab dan seorang hamba yang dicintai Allah:

Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه pernah mendengar seorang pria memuji dirinya sendiri. Umar berkata: "Apakah kamu memuji dirimu sendiri? Demi Allah, jika kamu benar-benar dicintai Allah, maka Jibril telah menyerukan namamu di langit." Lalu Umar membaca ayat: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta kepada mereka."

Hikmah: Cinta Allah bukanlah klaim, tetapi buah dari iman dan amal saleh. Siapa yang ingin dicintai Allah, hendaklah ia memperbaiki iman dan amalnya, bukan memuji dirinya sendiri.

Kisah lain — dari Al-Hasan al-Bashri رحمه الله:

Beliau berkata: "Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dicintai-Nya. Jika seorang hamba dicintai Allah, maka Allah menjadikan hatinya penuh cinta kepada-Nya, dan menjadikan manusia mencintainya. Itulah karunia yang tidak bisa diraih dengan harta, tetapi dengan iman dan amal saleh."

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak iman dan amal saleh — keduanya adalah sebab utama turunnya cinta Allah.
  2. Jangan mengejar pujian manusia — kejarlah cinta Allah, maka cinta manusia akan mengikuti.
  3. Jaga hati dari kebencian yang dibenci Allah — karena kebencian Allah juga berdampak di bumi.
  4. Berdoalah agar Allah menanamkan cinta kepada kita di hati penduduk langit dan bumi.
  5. Renungkan ayat QS. Maryam [19]: 96 — jadikan ia motivasi untuk memperbaiki diri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?