Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan makna ayat QS. Maryam [19]: 71, yaitu bahwa setiap manusia akan melewati (melintasi) neraka. Orang-orang beriman akan melintas dengan selamat sesuai amal mereka, sedangkan orang kafir dan pelaku dosa akan tertahan atau binasa sesuai amal perbuatannya. Hadits ini diriwayatkan secara mauquf (perkataan Ibnu Mas'ud) dan ada versi marfu' (disandarkan kepada Nabi ﷺ), namun Syu'bah sendiri memilih meriwayatkannya secara mauquf.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Firman Allah ﷻ:
وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا
"Dan tidak ada seorang pun di antara kamu melainkan akan mendatangi (melewati) neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketetapan yang pasti."
(QS. Maryam [19]: 71)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab tentang Surah Maryam, nomor 3160. Sanadnya: Muhammad bin Basysyar → Yahya bin Sa'id → Syu'bah → As-Suddi → Murrah → Abdullah bin Mas'ud.
Dalam riwayat kedua, Abdurrahman bin Mahdi bertanya kepada Syu'bah: "Israil telah menceritakan kepadaku dari As-Suddi dari Murrah dari Abdullah, dari Nabi ﷺ (secara marfu')." Syu'bah menjawab: "Aku memang mendengarnya dari As-Suddi secara marfu', tetapi aku sengaja meninggalkannya (yakni meriwayatkannya secara mauquf)."*
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini secara panjang lebar, mencakup perbedaan pendapat tentang makna "wurud" (melewati) neraka.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits-hadits tentang wurud dan keselamatan orang beriman.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna wurud sebagai melewati, bukan masuk ke dalam neraka.
Penjelasan Rinci
Makna "Wariduhā" (وَارِدُهَا):
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "melewati neraka" dalam ayat ini:
- Pendapat Ibnu Mas'ud (sebagaimana dalam hadits ini): Manusia akan melewati neraka (bukan masuk ke dalamnya), kemudian mereka keluar/berpaling sesuai amal masing-masing. Ini yang disebutkan dalam hadits ini: "Yaridūnahā tsumma yashdurūna bi a'mālihim" — mereka melewatinya, kemudian mereka berpaling (keluar) berdasarkan amal-amal mereka.
- Pendapat Ibnu Abbas (dikutip oleh Ibnu Katsir): Wurud berarti masuk, tetapi orang beriman masuk ke neraka hanya sebentar atau tidak merasakan panasnya, sebagaimana Nabi Ibrahim yang masuk ke api dan api menjadi dingin.
- Pendapat Mujahid (dari tabi'in): Wurud berarti melewati di atas jembatan (shirath) yang dibentangkan di atas neraka.
Penjelasan Ibnu Katsir:
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini bersifat umum untuk semua manusia — mukmin maupun kafir — semuanya akan melewati neraka. Namun, orang mukmin akan selamat karena amal saleh mereka, sedangkan orang kafir akan jatuh ke dalamnya. Beliau menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa wurud di sini bermakna muruur (melewati), bukan dakhul (masuk).
Penjelasan Imam an-Nawawi:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang wurud menunjukkan bahwa orang beriman akan melewati neraka dengan cepat sesuai kadar amal mereka. Ada yang melewati seperti kilat, seperti angin, seperti kuda yang cepat, dan ada yang tertahan sesuai dosanya.
Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani:
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa wurud bukan berarti masuk ke dalam neraka, tetapi melewati di atasnya. Beliau juga menyebutkan bahwa Syu'bah sengaja meriwayatkan secara mauquf (perkataan Ibnu Mas'ud) meskipun beliau mendengarnya secara marfu' (dari Nabi ﷺ), karena kehati-hatian beliau dalam meriwayatkan.
Tentang status hadits (mauquf vs marfu'):
Dalam hadits ini, Syu'bah (seorang tabi'ut tabi'in yang termasuk dalam daftar ulama) menyatakan bahwa beliau mendengar riwayat ini secara marfu' (disandarkan kepada Nabi ﷺ) dari As-Suddi, tetapi beliau sengaja meriwayatkannya secara mauquf (hanya sampai Ibnu Mas'ud). Ini menunjukkan kehati-hatian Syu'bah dalam meriwayatkan hadits. Para ulama seperti Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi memuji sikap wara' (kehati-hatian) Syu'bah ini.
Pendapat yang paling kuat:
Menurut Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan an-Nawawi, makna yang paling kuat adalah bahwa wurud berarti melewati neraka, bukan masuk ke dalamnya. Dalilnya adalah hadits-hadits lain yang menyebutkan bahwa orang beriman melewati neraka seperti kilat, angin, dan kuda yang cepat. Ini juga sesuai dengan konteks ayat sebelumnya (QS. Maryam [19]: 70) yang menyebutkan bahwa Allah lebih mengetahui siapa yang paling berhak masuk neraka.
Story Telling
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mulia dan ahli tafsir Al-Qur'an, ketika menjelaskan ayat ini, beliau mengatakan: "Yaridūnahā tsumma yashdurūna bi a'mālihim" — "Mereka melewatinya, kemudian mereka berpaling (keluar) berdasarkan amal-amal mereka."
Syu'bah bin al-Hajjaj (wafat 160 H), seorang tabi'ut tabi'in yang dijuluki "Amirul Mukminin fil Hadits", ketika mendengar riwayat ini dari As-Suddi secara marfu', beliau tetap memilih meriwayatkannya secara mauquf. Ini menunjukkan betapa besar kehati-hatian beliau dalam menyandarkan suatu perkataan kepada Nabi ﷺ. Abdurrahman bin Mahdi (seorang ulama besar dari daftar tabi'ut tabi'in) bertanya langsung kepada Syu'bah tentang hal ini, dan Syu'bah menjawab dengan jujur: "Aku memang mendengarnya secara marfu', tetapi aku sengaja meninggalkannya."
Hikmah: Seorang ulama sejati tidak sembarangan menyandarkan perkataan kepada Nabi ﷺ. Mereka sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits, bahkan jika mereka mendengar sendiri secara marfu', mereka tetap mempertimbangkan aspek keilmuan dan kehati-hatian.
Kesimpulan Praktis
- Setiap manusia akan melewati neraka — ini adalah ketetapan Allah yang pasti (QS. Maryam [19]: 71). Tidak ada yang bisa menghindar dari wurud ini.
- Keselamatan tergantung amal — orang beriman akan melewati dengan cepat sesuai amal salehnya, sedangkan orang kafir dan pelaku dosa akan tertahan atau binasa.
- Perbanyak amal saleh — karena amal kita yang menentukan bagaimana kita melewati neraka nanti. Semakin banyak amal saleh, semakin cepat dan selamat kita melewatinya.
- Teladani kehati-hatian ulama — seperti Syu'bah yang sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Ini mengajarkan kita untuk tidak sembarangan menyebarkan riwayat tanpa ilmu.
- Jangan putus asa dari rahmat Allah — meskipun ayat ini menyebutkan neraka, tetapi orang beriman yang bertobat dan beramal saleh akan selamat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.