Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3158 tentang Alasan malaikat turun hanya dengan perintah Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ bertanya kepada Malaikat Jibril mengapa ia tidak lebih sering mengunjungi beliau. Jibril menjawab bahwa ia tidak bisa datang kecuali dengan perintah Allah, dan turunlah ayat QS. Maryam [19]: 64 sebagai penjelasan. Hadits ini mengajarkan bahwa para malaikat sepenuhnya tunduk kepada perintah Allah, tidak memiliki kehendak bebas untuk datang atau pergi sesuka mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Maryam [19]: 64:

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ ۖ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

"Dan kami (para malaikat) tidak turun melainkan dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya apa yang ada di hadapan kami, apa yang di belakang kami, dan apa yang ada di antara keduanya. Dan Tuhanmu tidak pernah lupa."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab Tafsir Surah Maryam, nomor 3158. Perawi sahabat: Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan ayat ini secara panjang lebar ketika menafsirkan Surah Maryam.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits-hadits tentang keterlambatan Jibril menemui Nabi ﷺ.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan konteks turunnya ayat ini.

Penjelasan Rinci

Latar belakang turunnya ayat (asbabun nuzul):

Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah bertanya kepada Jibril mengapa ia tidak lebih sering datang menemui beliau. Dalam sebagian riwayat dijelaskan bahwa Jibril sempat lama tidak datang, sehingga Nabi ﷺ merindukan kedatangannya. Maka Jibril pun menjawab dengan turunnya ayat ini: bahwa ia tidak turun kecuali dengan perintah Allah.

Makna ayat menurut para ulama:

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pengakuan Jibril dan para malaikat bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang diperintah, bukan yang memerintah. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk turun atau naik kecuali dengan izin Allah. Makna "لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَٰلِكَ" (Kepunyaan-Nya apa yang ada di hadapan kami, apa yang di belakang kami, dan apa yang ada di antara keduanya) adalah bahwa seluruh urusan — masa lalu, masa depan, dan masa kini — berada dalam kekuasaan dan pengetahuan Allah.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kesempurnaan tunduknya para malaikat kepada Allah. Mereka tidak bergerak kecuali dengan perintah, berbeda dengan manusia yang diberi kehendak dan pilihan.

Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pun merindukan kedatangan Jibril, dan bahwa Jibril memiliki keterbatasan karena ia hamba yang diperintah. Ini sekaligus membantah anggapan bahwa malaikat memiliki sifat ketuhanan.

Pelajaran aqidah:

  1. Malaikat adalah makhluk yang tunduk sepenuhnya kepada Allah. Mereka tidak memiliki kehendak bebas sebagaimana manusia. Ini ditegaskan dalam QS. At-Tahrim [66]: 6 dan QS. Al-Anbiya [21]: 19-20.
  2. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Penutup ayat "وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا" (dan Tuhanmu tidak pernah lupa) menegaskan bahwa keterlambatan Jibril bukan karena Allah lupa, melainkan karena hikmah dan ketentuan yang Allah kehendaki.
  3. Kedudukan Nabi ﷺ. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki kedudukan mulia di sisi Allah, sampai-sampai beliau merindukan Jibril dan Jibril pun diperintahkan untuk sering menemuinya.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ayat ini turun dalam konteks ketika Jibril terlambat datang selama beberapa waktu, dan Nabi ﷺ menanyakan sebabnya. Tidak ada perbedaan mendasar di antara ulama daftar tentang makna ayat ini; mereka sepakat bahwa ayat ini menegaskan ketundukan mutlak malaikat kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Jibril tidak datang menemui Nabi ﷺ selama beberapa waktu. Nabi ﷺ yang mulia merasa rindu dan bertanya: "Apa yang menghalangimu untuk mengunjungi kami lebih sering?"

Jibril عليه السلام — makhluk mulia yang diciptakan dari cahaya, yang pernah membelah dada Nabi ﷺ, yang menyampaikan wahyu — menjawab dengan penuh adab: "Aku tidak turun kecuali dengan perintah Tuhanmu."

Bayangkan, Jibril yang begitu dekat dengan Allah pun tidak bisa datang sesuka hatinya. Ia menunggu perintah. Ini mengajarkan kepada kita bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin besar pula ketundukannya kepada perintah Allah.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini juga menjadi penghibur bagi Nabi ﷺ: bahwa keterlambatan Jibril bukan karena Allah melupakan beliau, sebab "وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا" — Tuhanmu tidak pernah lupa.

Kesimpulan Praktis

  1. Tunduk kepada perintah Allah — Para malaikat yang mulia pun tidak bergerak tanpa perintah Allah. Kita sebagai manusia lebih pantas untuk tunduk kepada syariat-Nya.
  2. Jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya — Dalam beribadah dan bermuamalah, kita menunggu dalil, bukan mengikuti hawa nafsu.
  3. Allah tidak pernah lupa — Jika kita merasa doa belum dikabulkan atau pertolongan belum datang, ingatlah bahwa Allah tidak lupa. Ada hikmah dan waktu yang terbaik menurut-Nya.
  4. Rindu kepada kebaikan — Nabi ﷺ merindukan kedatangan Jibril yang membawa wahyu. Kita pun hendaknya merindukan majelis ilmu, Al-Qur'an, dan amal shalih.
  5. Mengenal kedudukan malaikat — Malaikat adalah hamba Allah yang mulia, bukan sekutu Allah. Kita mencintai mereka karena ketaatan mereka, namun tidak menyembah mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?