Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3155 tentang Penamaan berdasarkan nabi dan orang saleh sebelumnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa sebutan "Yā ukhta Hārūn" (wahai saudara perempuan Harun) pada QS. Maryam [19]: 28 bukan berarti Maryam adalah saudara kandung Nabi Harun (Musa) yang hidup berabad-abad sebelumnya. Ini hanyalah kebiasaan penamaan di kalangan Bani Israil, di mana seseorang dinamai dengan nama para nabi dan orang shalih sebelum mereka. Jadi tidak ada pertentangan antara Al-Qur'an dan jarak zaman antara Musa dan Isa.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang menjadi pokok pembahasan:

QS. Maryam [19]: 28

يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

"Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu bukan seorang yang buruk dan ibumu bukan seorang pezina."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab Tafsir Surah Maryam, no. 3155, dari sahabat Al-Mughirah bin Syu'bah رضي الله عنه. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib.

Keterangan ulama:

  • Imam At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan shahih dan hanya dikenal melalui jalur Ibnu Idris.
  • Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa yang dimaksud "saudara perempuan Harun" adalah Harun yang lain, bukan Harun saudara Musa. Ini adalah pendapat yang dipilih dan dikuatkan oleh Ibnu Katsir berdasarkan hadits Al-Mughirah ini.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menguatkan bahwa penamaan dengan nama nabi-nabi sebelumnya adalah kebiasaan Bani Israil.

Penjelasan Rinci

Konteks hadits: Al-Mughirah bin Syu'bah رضي الله عنه diutus Nabi ﷺ ke Najran (wilayah Kristen di Yaman). Penduduk Najran berdebat dengannya: mereka menunjuk ayat "Yā ukhta Hārūn" dan berkata, "Bukankah Musa hidup jauh sebelum Isa? Bagaimana mungkin Maryam disebut saudara perempuan Harun?" Mereka bermaksud menjadikan ayat ini sebagai bukti bahwa Al-Qur'an keliru secara sejarah. Al-Mughirah tidak tahu jawabannya, lalu kembali kepada Nabi ﷺ.

Jawaban Nabi ﷺ: "Mengapa kamu tidak memberitahu mereka bahwa mereka (Bani Israil) biasa menamai (anak-anak mereka) dengan nama para nabi dan orang-orang shalih sebelum mereka."

Pemahaman ulama:

  1. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Bani Israil memiliki kebiasaan memberi nama anak dengan nama nabi dan orang shalih. Maryam dinamai "saudara perempuan Harun" karena ia berasal dari keturunan Harun, atau karena ada seorang shalih bernama Harun di masa itu, atau karena namanya diambil dari nama Harun nabi. Yang jelas, bukan Harun saudara Musa.
  2. Ibnu Hajar menambahkan bahwa dalam riwayat lain disebutkan Maryam memang keturunan Harun (dari sisi ibunya), sehingga disebut "saudara perempuan Harun" secara nasab, bukan secara langsung.
  3. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa ayat ini tidak menunjukkan Maryam hidup sezaman dengan Musa, karena penamaan dengan nama nabi sebelumnya adalah hal yang lumrah.

Kesimpulan ilmiah: Tidak ada pertentangan antara ayat dan fakta sejarah. Yang dimaksud "Harun" di sini bukan Harun nabi saudara Musa, melainkan nama yang dipakai karena kebiasaan penamaan Bani Israil.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Al-Mughirah bin Syu'bah رضي الله عنه — seorang sahabat yang terkenal cerdas dan tegas — berangkat ke Najran membawa misi dakwah. Penduduk Najran, yang saat itu beragama Kristen, menyambutnya dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menguji kebenaran Al-Qur'an. Mereka mengajukan ayat "Yā ukhta Hārūn" sebagai senjata. Al-Mughirah terdiam, karena memang tidak tahu jawabannya. Ia tidak memaksakan diri menjawab dengan spekulasi, tetapi memilih kembali kepada sumber ilmu, yaitu Rasulullah ﷺ.

Sikap Al-Mughirah ini mengajarkan adab penting: jika tidak tahu, tanyakan kepada ahlinya. Nabi ﷺ pun menjawab dengan ringkas namun tuntas, membuka jalan pemahaman yang selama ini tertutup bagi Al-Mughirah. Sejak itu, jawaban ini menjadi pedoman bagi para ulama dalam menafsirkan ayat tersebut.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan terburu-buru menyimpulkan pertentangan antara Al-Qur'an dan fakta sejarah sebelum memahami konteks dan penjelasan ulama.
  2. Kebiasaan penamaan dengan nama nabi dan orang shalih adalah hal yang baik dan telah dipraktikkan Bani Israil.
  3. Adab bertanya: jika tidak mengetahui jawaban, kembalikan kepada ahlinya — sebagaimana Al-Mughirah kembali kepada Nabi ﷺ.
  4. Ayat "Yā ukhta Hārūn" tidak menunjukkan Maryam sezaman dengan Musa, melainkan penamaan berdasarkan kebiasaan Bani Israil.
  5. Rujuklah tafsir para ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan An-Nawawi dalam memahami ayat-ayat yang tampak bertentangan dengan sejarah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?