Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3134 tentang Isra Miraj dan pohon Zaqqum sebagai ujian

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tafsir ayat QS. Al-Isra' [17]: 60 dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Beliau menegaskan bahwa "ru'ya" (penglihatan) yang disebut dalam ayat itu adalah penglihatan dengan mata secara langsung, yaitu peristiwa Isra' Mi'raj ke Baitul Maqdis, bukan mimpi. Sedangkan "pohon yang terkutuk dalam Al-Qur'an" adalah pohon Zaqqum, makanan penduduk neraka. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Isra' [17]: 60

وَإِذْ قُلْنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِالنَّاسِ ۚ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ ۚ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا

"Dan (ingatlah) ketika Kami katakan kepadamu, 'Sesungguhnya Tuhanmu meliputi manusia.' Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia, dan (begitu pula) pohon yang terkutuk dalam Al-Qur'an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanya menambah kedurhakaan mereka yang besar."

Hadits terkait:

  • Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir, Bab Tafsir Surah Bani Israil, no. 3134, dan beliau menilainya hasan shahih.
  • Hadits serupa juga diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Abbas tentang Isra' Mi'raj, sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Kaitan ulama dan kitab:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menukil penafsiran Ibnu Abbas ini dan menguatkannya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas perbedaan pendapat tentang makna "ru'ya" dalam ayat ini.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan keutamaan dan kedudukan peristiwa Isra' Mi'raj.

Penjelasan Rinci

Pertama: Makna "Ru'ya" dalam Ayat

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan bahwa "ar-ru'ya" (الرُّؤْيَا) dalam ayat ini adalah penglihatan dengan mata kepala yang Allah perlihatkan langsung kepada Nabi ﷺ pada malam Isra' Mi'raj menuju Baitul Maqdis. Jadi bukan mimpi, melainkan pengalaman nyata yang dialami Nabi ﷺ dengan jasad dan ruhnya.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pendapat ini adalah pendapat yang kuat, karena konteks ayat berbicara tentang peristiwa besar yang menjadi ujian keimanan bagi penduduk Makkah. Ketika Nabi ﷺ menceritakan perjalanan malam itu, sebagian orang beriman teguh dan sebagian lagi murtad karena tidak mempercayainya. Inilah yang dimaksud "fitnah" (ujian) bagi manusia.

Kedua: Makna "Pohon yang Terkutuk"

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa "asy-syajarah al-mal'unah" (الشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ) adalah pohon Zaqqum, yaitu pohon yang tumbuh di dasar neraka Jahim. Allah menyebutnya "terkutuk" karena ia adalah makanan orang-orang kafir dan pendurhaka.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa pendapat ini juga diriwayatkan dari Mujahid bin Jabr dan Qatadah bin Di'amah as-Sadusi. Mereka sepakat bahwa yang dimaksud adalah pohon Zaqqum, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ad-Dukhan [44]: 43-46 dan QS. Ash-Shaffat [37]: 62-66.

Ketiga: Hikmah "Fitnah" (Ujian)

Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa peristiwa Isra' Mi'raj menjadi ujian besar bagi keimanan. Bagi yang beriman, ia semakin yakin; bagi yang lemah, ia menjadi sebab kekufuran. Inilah sunnatullah: setiap kebenaran pasti diuji.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa Isra' Mi'raj adalah mukjizat agung yang meneguhkan kenabian Muhammad ﷺ, dan menjadi pembeda antara orang yang beriman dengan yang ragu.

Perbedaan Pendapat:

Sebagian ulama menafsirkan "ru'ya" sebagai mimpi yang dilihat Nabi ﷺ sebelum hijrah. Namun Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan Imam an-Nawawi menguatkan pendapat Ibnu Abbas bahwa itu adalah penglihatan langsung pada malam Isra'. Pendapat ini lebih kuat karena sesuai konteks ayat dan riwayat-riwayat shahih tentang Isra' Mi'raj.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj kepada penduduk Makkah, orang-orang Quraisy mengejek dan mendustakannya. Mereka bertanya kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, "Apakah engkau percaya bahwa Muhammad pergi ke Baitul Maqdis dalam satu malam?"

Abu Bakar menjawab dengan tegas, "Jika memang ia berkata demikian, maka aku membenarkannya."

Maka sejak itu beliau dijuluki Ash-Shiddiq (yang membenarkan). Kisah ini disebutkan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah.

Hikmah: Ujian keimanan akan selalu datang. Orang yang teguh akan semakin tinggi derajatnya, sedangkan yang ragu akan jatuh. Abu Bakar menjadi teladan dalam membenarkan kabar dari Nabi ﷺ tanpa ragu.

Kesimpulan Praktis

  1. Percayai peristiwa Isra' Mi'raj sebagai mukjizat nyata Nabi ﷺ, bukan sekadar mimpi.
  2. Yakini adanya pohon Zaqqum sebagai makanan penduduk neraka, dan jadikan itu motivasi untuk menjauhi dosa.
  3. Hadapi ujian keimanan dengan teguh, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.
  4. Rujuk tafsir para ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan Imam an-Nawawi ketika memahami ayat-ayat tentang hari akhir.
  5. Jauhi sikap meremehkan kabar dari Nabi ﷺ, karena itu tanda lemahnya iman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?