Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tentang keberadaan Allah ﷻ sebelum seluruh makhluk diciptakan. Rasulullah ﷺ menjawab bahwa Allah berada di dalam "ama'" (عماء), yaitu awan atau kabut tebal, yang di atas dan di bawahnya tidak ada udara. Kemudian Allah menciptakan 'Arsy-Nya di atas air. Hadits ini termasuk hadits tentang sifat-sifat Allah yang wajib kita imani tanpa menanyakan "bagaimana" (kaifiyah)-nya, karena akal manusia tidak mampu menjangkaunya. Para ulama Ahlus Sunnah menetapkan makna lahiriahnya sesuai keagungan Allah, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tanpa menolak sifat tersebut.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah 'Arsy-Nya di atas air." (QS. Hud [11]: 7)
Hadits terkait:
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: "Dan dari Surah Hud", no. 3109. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan (baik). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 182) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Kaitan dengan ulama:
- Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) memasukkan hadits ini dalam kitab tafsirnya dan menilainya hasan.
- Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menukil hadits ini ketika menafsirkan QS. Hud [11]: 7, sebagai penjelasan bahwa 'Arsy Allah berada di atas air sebelum langit dan bumi diciptakan.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin (w. 1421 H) menjelaskan hadits ini dalam Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah dan kitab-kitab lainnya, bahwa "ama'" adalah istilah yang menunjukkan sesuatu yang menutupi, dan maknanya di sini adalah awan atau kabut tebal.
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dalam kerangka menetapkan sifat-sifat Allah tanpa ta'thil (menolak), tanpa tamtsil (menyerupakan), dan tanpa takyif (menanyakan bagaimana).
1. Makna "Ama'" (العماء)
Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari gurunya, Ahmad bin Mani', bahwa Yazid bin Harun (salah satu perawi hadits) menjelaskan: "Al-'Ama' artinya tidak ada sesuatu pun bersama-Nya." Ini menunjukkan bahwa sebelum Allah menciptakan makhluk, tidak ada apa pun selain Allah. Ini sejalan dengan hadits 'Imran bin Hushain bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada sesuatu pun selain-Mu sebelum Engkau menciptakan makhluk."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa "ama'" adalah awan tebal (sahab), dan Allah berada di atasnya. Ini adalah penetapan ketinggian (al-'uluw) bagi Allah ﷻ, bahwa Dia berada di atas seluruh makhluk-Nya.
2. "Tidak ada udara di bawahnya dan tidak ada udara di atasnya"
Kalimat ini menunjukkan bahwa "ama'" tersebut bukanlah langit atau bumi yang kita kenal, melainkan sesuatu yang Allah ciptakan sebagai tempat yang menunjukkan keagungan-Nya. Ini menegaskan bahwa Allah ﷻ tidak membutuhkan tempat, dan Dia ada sebelum tempat dan arah diciptakan.
3. "Dan Dia menciptakan 'Arsy-Nya di atas air"
Ini sejalan dengan QS. Hud [11]: 7. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menciptakan air terlebih dahulu, kemudian menciptakan 'Arsy di atas air, kemudian menciptakan langit dan bumi. Ini menunjukkan kekuasaan Allah yang Maha Besar dan bahwa 'Arsy adalah makhluk pertama yang diciptakan dari makhluk-makhluk yang agung.
4. Sikap Ahlus Sunnah terhadap hadits ini
Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dan para ulama salaf lainnya menetapkan hadits-hadits sifat sebagaimana datangnya, tanpa menolak, tanpa menyerupakan, dan tanpa menanyakan bagaimana. Imam Al-Barbahari (w. 329 H) dalam Syarh As-Sunnah menegaskan bahwa barangsiapa menetapkan sifat-sifat Allah sesuai yang datang dalam Al-Qur'an dan hadits, maka dia di atas sunnah.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil penetapan sifat al-'uluw (ketinggian) bagi Allah, namun kita tidak boleh bertanya "bagaimana" Allah berada di atas 'Arsy-Nya, karena itu di luar jangkauan akal manusia. Yang wajib adalah mengimani dan membenarkan, karena Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura [42]: 11)
5. Peringatan dari kesalahan pemahaman
Sebagian kelompok menyimpang menafsirkan hadits ini secara batil, seperti mengatakan bahwa Allah "berada dalam awan" sebagaimana makhluk berada dalam tempat. Ini adalah kesesatan. Yang benar adalah kita menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, dengan keyakinan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya sedikit pun.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas (w. 179 H) pernah ditanya tentang firman Allah:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
"Ar-Rahman bersemayam di atas 'Arsy." (QS. Thaha [20]: 5)
Maka Imam Malik menjawab dengan jawaban yang menjadi pegangan Ahlus Sunnah hingga hari ini: "Al-Istiwa' (bersemayam) itu diketahui maknanya, cara (kaifiyah)-nya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Beliau kemudian memerintahkan orang yang bertanya itu untuk dikeluarkan dari majelisnya.
Kisah ini menunjukkan adab para ulama salaf dalam menghadapi ayat-ayat dan hadits-hadits sifat. Mereka tidak menolak, tidak menyerupakan, dan tidak memperdalam pertanyaan yang tidak bermanfaat. Mereka cukup mengimani dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah ﷻ.
Kesimpulan Praktis
- Imani hadits ini sebagaimana datangnya dari Rasulullah ﷺ, bahwa Allah berada di atas "ama'" sebelum menciptakan makhluk, dan 'Arsy-Nya di atas air.
- Jangan bertanya "bagaimana" tentang sifat Allah, karena itu di luar kemampuan akal manusia dan termasuk perkara ghaib yang wajib diimani.
- Tetapkan sifat ketinggian (al-'uluw) bagi Allah sesuai keagungan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.
- Jauhi perdebatan yang tidak bermanfaat tentang sifat-sifat Allah, karena para salaf tidak pernah memperdebatkannya.
- Rujuklah ulama Ahlus Sunnah yang memahami dalil-dalil dengan pemahaman salaf, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Al-'Utsaimin, dan ulama lainnya yang disebutkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.