Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3108 tentang Jibril mencegah Fir'aun mengucap syahadat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengisahkan tentang peristiwa tenggelamnya Fir'aun di Laut Merah. Saat sakaratul maut, Fir'aun hendak mengucapkan kalimat tauhid "La ilaha illallah" karena takut dengan azab Allah. Namun, Malaikat Jibril dengan izin Allah memasukkan tanah/lumpur ke dalam mulut Fir'aun agar ia tidak sempat mengucapkannya. Ini menunjukkan bahwa taubat dan iman seseorang tidak akan diterima jika dilakukan dalam keadaan terpaksa atau setelah azab benar-benar datang, sebagaimana firman Allah dalam QS. Yunus: 90-91.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, lalu Fir'aun dan bala tentaranya mengikuti mereka dengan tujuan menindas dan memusuhi. Hingga ketika Fir'aun hampir tenggelam, dia berkata, 'Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan selain yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'" (QS. Yunus [10]: 90)

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

"Apakah sekarang (baru kamu beriman), padahal sebelumnya kamu telah durhaka dan termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" (QS. Yunus [10]: 91)

Hadits:

Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dan dari Surah Yunus, nomor 3108. Beliau menilai hadits ini hasan shahih gharib dari jalur ini.

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim (4/282) ketika menafsirkan QS. Yunus: 90-91, beliau membawakan hadits ini dan beberapa riwayat lain dari para ulama salaf seperti Qatadah, Mujahid, dan lainnya. Beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Fir'aun tidak diberi kesempatan untuk bertaubat karena taubatnya terjadi setelah ia menyaksikan azab Allah secara langsung, yaitu saat tenggelam. Ini sesuai dengan firman Allah, "Apakah sekarang (baru kamu beriman)?"

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hlm. 344) menafsirkan ayat ini dengan menjelaskan bahwa taubat dan iman Fir'aun ditolak karena datang dalam keadaan terpaksa dan putus asa, bukan karena keimanan yang tulus. Beliau juga mengisyaratkan bahwa peristiwa ini adalah bentuk keadilan Allah dan pelajaran bagi umat manusia.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan gambaran yang sangat jelas tentang kondisi Fir'aun saat ajal menjemputnya. Ketika ia tenggelam dan merasakan dahsyatnya azab Allah, ia pun sadar dan ingin mengucapkan kalimat tauhid. Namun, Malaikat Jibril 'alaihis salam, dengan perintah Allah, memasukkan tanah atau lumpur ke dalam mulut Fir'aun sehingga ia tidak bisa mengucapkan kalimat tersebut.

Para ulama, seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir, memahami bahwa tindakan Jibril ini bukanlah bentuk kezaliman, melainkan bentuk keadilan dan hikmah Allah. Fir'aun telah bertahun-tahun hidup dalam kekufuran, kesombongan, dan kezaliman. Ia mengaku sebagai tuhan dan memerangi para nabi. Ketika azab datang, barulah ia beriman. Iman seperti ini tidak diterima oleh Allah.

Imam Qatadah rahimahullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, berkata: "Fir'aun tidaklah beriman hingga ia melihat azab yang pedih. Maka Allah tidak menerima keimanannya." Ini adalah pelajaran besar bahwa taubat yang diterima adalah taubat yang dilakukan sebelum seseorang melihat tanda-tanda kematian atau sebelum azab Allah benar-benar turun.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah menjelaskan bahwa hadits ini juga menunjukkan betapa besar rahmat Allah, namun juga betapa tegasnya keadilan-Nya. Rahmat Allah sangat luas, tetapi ada batas waktu penerimaannya. Jika seseorang menunda taubat hingga ajal tiba dalam keadaan terpaksa, maka taubatnya tidak akan berguna.

Story Telling

Kisah ini adalah pengingat yang sangat kuat. Fir'aun adalah seorang raja yang sangat sombong. Ia memiliki kekuasaan, harta, dan pasukan yang tak terhitung jumlahnya. Ia menindas Bani Israil dengan sangat kejam. Ketika Nabi Musa 'alaihis salam datang membawa kebenaran, Fir'aun menolak dan bahkan menantangnya.

Allah kemudian menunjukkan mukjizat-Nya melalui Nabi Musa. Fir'aun dan bala tentaranya tetap keras kepala. Hingga akhirnya, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Fir'aun pun mengejar mereka dengan pasukannya yang besar. Ketika mereka sampai di Laut Merah, Allah membelah laut untuk Bani Israil. Fir'aun dan pasukannya tetap mengejar. Saat mereka berada di tengah laut, Allah mengembalikan air laut sehingga mereka semua tenggelam.

Saat itulah, di tengah sakaratul maut, Fir'aun baru sadar dan ingin mengucapkan kalimat tauhid. Namun, Allah menolaknya. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Janganlah kita menunda-nunda taubat dan ketaatan, karena kematian bisa datang kapan saja tanpa diduga.

Kesimpulan Praktis

  1. Segera Bertaubat: Jangan pernah menunda taubat. Taubat yang diterima adalah taubat yang dilakukan sebelum ajal tiba atau sebelum matahari terbit dari barat (tanda kiamat besar).
  2. Ikhlas dalam Beriman: Keimanan dan ketaatan haruslah lahir dari kesadaran dan kecintaan kepada Allah, bukan karena terpaksa atau takut akan azab yang sudah di depan mata.
  3. Jangan Sombong: Kesombongan adalah sifat Fir'aun yang membinasakannya. Kita harus selalu rendah hati di hadapan Allah dan sesama manusia.
  4. Amalkan Ilmu: Ilmu tentang kisah-kisah dalam Al-Qur'an dan hadits harus mendorong kita untuk beramal saleh dan menjauhi larangan-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.