Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3089 tentang Hari Haji Akbar adalah hari Nahr

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa "Yaumul Hajjil Akbar" (Hari Haji yang Besar) adalah hari Nahr, yaitu hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah), hari penyembelihan kurban. Ini adalah pendapat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dan Imam At-Tirmidzi menilai riwayat ini lebih shahih dibanding riwayat Muhammad bin Ishaq, karena ia diriwayatkan dari banyak jalur secara mauquf (perkataan sahabat), bukan marfu' (sabda Nabi ﷺ).

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat yang berkaitan dengan "Hari Haji Akbar" adalah firman Allah:

وَأَذَانٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ

Terjemahan: "Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar." (QS. At-Taubah [9]: 3)

Hadits terkait:

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Nabi ﷺ bersabda tentang hari Nahr:

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ

"Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari Nahr." (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya menilai riwayat Ali ini mauquf dan lebih shahih.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa mayoritas ulama (termasuk Ali, Ibnu Abbas, dan lainnya) berpendapat "Yaumul Hajjil Akbar" adalah hari Nahr (10 Dzulhijjah).
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan perbedaan pendapat: sebagian mengatakan hari Arafah, sebagian hari Nahr, dan yang rajih adalah hari Nahr.

Penjelasan Rinci

Makna "Yaumul Hajjil Akbar":

Para ulama berbeda pendapat tentang makna "hari haji akbar":

  1. Hari Nahr (10 Dzulhijjah) — pendapat Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, dan jumhur ulama. Ini yang dikuatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Katsir.
  2. Hari Arafah (9 Dzulhijjah) — pendapat sebagian ulama.
  3. Hari pertama dari hari-hari haji — pendapat lain yang lemah.

Mengapa disebut "Akbar"?

Karena pada hari Nahr berkumpul amalan-amalan agung: thawaf ifadhah, melempar jumrah, menyembelih kurban, dan mencukur rambut. Hari itu juga bertepatan dengan hari raya umat Islam sedunia.

Status riwayat:

Imam At-Tirmidzi menjelaskan bahwa riwayat ini mauquf (perkataan Ali, bukan sabda Nabi ﷺ). Beliau juga menyebutkan bahwa Syu'bah meriwayatkan dari jalur lain (Abu Ishaq → Abdullah bin Murrah → Al-Harits → Ali) secara mauquf. Ini menunjukkan riwayat ini kuat sebagai perkataan Ali, bukan hadits marfu'.

Pandangan ulama daftar:

  • Ibnu Katsir (dalam Tafsir-nya): menguatkan bahwa hari haji akbar adalah hari Nahr, berdasarkan riwayat Ali dan Ibnu Umar.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari): menyebutkan bahwa pendapat yang rajih adalah hari Nahr, karena itulah hari yang paling agung dan padanya berkumpul banyak amalan.
  • Imam An-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim): menyebutkan perbedaan pendapat dan menguatkan hari Nahr.
  • As-Sa'di (dalam Tafsir-nya): menjelaskan bahwa "hari haji akbar" adalah hari Nahr, karena pada hari itu manusia berkumpul untuk menunaikan manasik haji yang paling agung.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah ditanya tentang "Yaumul Hajjil Akbar". Beliau menjawab dengan tegas: "Hari Nahr." Jawaban ini beliau sampaikan karena beliau sendiri adalah salah satu sahabat yang ditugaskan Nabi ﷺ untuk membacakan permakluman (ayat At-Taubah) kepada manusia pada musim haji. Dalam peristiwa itu, Abu Bakar memimpin haji, dan Ali membacakan surat At-Taubah di hadapan manusia pada hari Nahr. Maka beliau adalah orang yang paling mengetahui konteks ayat tersebut.

Hikmah: Seorang sahabat yang terlibat langsung dalam peristiwa lebih memahami makna ayat daripada yang hanya mendengar. Ini menunjukkan pentingnya merujuk kepada ahlinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Hari Haji Akbar adalah hari Nahr (10 Dzulhijjah) — pendapat yang dikuatkan oleh Ali bin Abi Thalib, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan An-Nawawi.
  2. Hadits ini mauquf — perkataan Ali, bukan sabda Nabi ﷺ, namun tetap menjadi hujjah karena disepakati oleh banyak sahabat.
  3. Amalan hari Nahr — perbanyak takbir, berkurban, dan syukuri nikmat Allah pada hari agung ini.
  4. Jangan ghuluw — terimalah perbedaan pendapat ulama dengan lapang dada, dan ikuti yang paling kuat dalilnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?