Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa ketika turun ayat yang menyebutkan bahwa siapa yang berbuat keburukan akan dibalas, kaum Muslim merasa berat dan khawatir. Nabi ﷺ menenangkan mereka dengan mengajarkan untuk berusaha mendekat kepada kebenaran dan bersikap teguh, serta menjelaskan bahwa setiap musibah yang menimpa seorang mukmin—bahkan duri yang menusuk—menjadi penghapus dosa. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dan bahwa ujian hidup bukan semata hukuman, tetapi sarana pengampunan dan peningkatan derajat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Tafsir, Bab tentang Surah An-Nisa, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib.
Teks hadits yang disebutkan:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ أَبِي عُمَرَ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ الْمَعْنَى، وَاحِدٌ، قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ ابْنِ مُحَيْصِنٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ قَيْسِ بْنِ مَخْرَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ: (مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ) شَقَّ ذَلِكَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فَشَكَوْا ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: "قَارِبُوا وَسَدِّدُوا وَفِي كُلِّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ كَفَّارَةٌ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا أَوِ النَّكْبَةِ يُنْكَبُهَا."
Ayat yang menjadi sebab turunnya hadits ini adalah firman Allah dalam Surah An-Nisa:
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
QS. An-Nisa [4]: 123
Terjemahan: "Dan barangsiapa mengerjakan keburukan, niscaya ia akan mendapat balasannya, dan ia tidak akan mendapat pelindung dan penolong selain Allah."
Hadits terkait lainnya yang shahih dan semakna, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
HR. Muslim
Terjemahan: "Tidaklah menimpa seorang Muslim berupa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan—bahkan duri yang menusuknya—melainkan Allah menghapus dosa-dosanya dengan sebab itu."
Penjelasan Rinci
Konteks turunnya ayat dan kekhawatiran para sahabat
Imam At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa ketika ayat QS. An-Nisa [4]: 123 turun, para sahabat merasa berat. Mereka memahami ayat ini secara umum: setiap keburukan—sekecil apa pun—pasti dibalas. Padahal manusia tidak lepas dari dosa dan kesalahan. Kekhawatiran mereka bukan karena menolak keadilan Allah, tetapi karena khawatir tidak ada ampunan dan tidak ada jalan keluar.
Bimbingan Nabi ﷺ: "قَارِبُوا وَسَدِّدُوا"
Nabi ﷺ memberikan dua nasihat utama:
- قَارِبُوا (qāribū) — "dekatkanlah" atau "berusahalah mendekati kebenaran." Yakni jangan menuntut diri untuk sempurna mutlak, tetapi berusahalah sedekat mungkin dengan perintah Allah.
- سَدِّدُوا (saddidū) — "bersikaplah teguh/lurus." Yakni tetap istiqamah di jalan yang benar, meskipun tidak sempurna.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "saddidū" adalah mengerjakan amal dengan sebaik-baiknya dan tidak menyimpang dari sunnah. Sedangkan "qāribū" berarti jangan berlebihan dalam menuntut kesempurnaan yang bisa membuat putus asa, tetapi teruslah berusaha mendekat.
Setiap musibah menjadi penghapus dosa
Nabi ﷺ kemudian menjelaskan prinsip besar: وَفِي كُلِّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ كَفَّارَةٌ — "dan dalam segala sesuatu yang menimpa seorang mukmin terdapat penghapus dosa." Bahkan الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا (duri yang menusuk) atau النَّكْبَةِ يُنْكَبُهَا (kesulitan yang menimpa).
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa musibah yang menimpa mukmin—baik besar maupun kecil—menjadi sebab pengampunan dosa, selama ia bersabar dan tidak berkeluh kesah yang dilarang. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang beriman.
Kaitan dengan ayat: balasan di dunia dan akhirat
Para ulama menjelaskan bahwa ayat QS. An-Nisa [4]: 123 tidak berarti setiap dosa langsung dihukum di dunia. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa balasan bisa berupa:
- Musibah di dunia sebagai penghapus dosa,
- Atau hukuman di akhirat yang bisa diampuni dengan taubat, istighfar, atau syafaat.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keadilan Allah, namun juga diimbangi dengan rahmat-Nya. Seorang mukmin yang jatuh dalam dosa lalu bertaubat, maka dosanya dihapus. Jika tidak bertaubat, maka musibah dunia bisa menjadi kafarat.
Pemahaman salaf
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, sebagaimana dinukil dalam kitab-kitab tafsir, mengatakan bahwa seorang mukmin senantiasa berada di antara dua kebaikan: jika diberi nikmat ia bersyukur, dan jika ditimpa musibah ia bersabar. Maka musibah itu menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajat.
Sufyan bin 'Uyainah rahimahullah—yang menjadi perawi dalam sanad hadits ini—mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh menganggap musibah sebagai hukuman semata, tetapi sebagai tanda cinta Allah yang ingin membersihkan hamba-Nya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang salaf—sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab zuhud—pernah sakit keras hingga tidak mampu bangun. Ketika ditanya tentang keadaannya, ia berkata: "Aku sedang dicintai oleh Tuhanku." Ia memahami bahwa sakitnya adalah cara Allah menghapus dosa-dosanya.
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah—meskipun tidak termasuk dalam daftar ulama rujukan kita, namun kisah ini disebutkan oleh Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif—mengatakan: "Tidaklah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba, lalu hamba itu memuji Allah, melainkan pujian itu lebih baik dari nikmat itu sendiri. Dan tidaklah Allah menguji seorang hamba, lalu hamba itu bersabar, melainkan kesabaran itu lebih baik dari ujian itu sendiri."
Hikmahnya: musibah bukan tanda Allah membenci hamba, tetapi bisa jadi tanda Allah ingin membersihkan dan mengangkat derajatnya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan putus asa dari rahmat Allah. Ayat yang tampak menakutkan selalu diimbangi dengan penjelasan Nabi ﷺ tentang luasnya ampunan.
- Berusaha mendekat kepada kebenaran (qāribū) dan tetap teguh (saddidū). Jangan menuntut diri sempurna, tetapi jangan pula meninggalkan usaha.
- Yakini bahwa setiap musibah—sekecil apa pun—menghapus dosa bagi mukmin yang bersabar.
- Perbanyak istighfar dan taubat agar dosa-dosa dihapus sebelum datang musibah.
- Jangan menganggap musibah sebagai hukuman semata, tetapi sebagai sarana tarbiyah (pendidikan) dari Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.