Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3002 tentang Kisah luka Nabi di Uhud dan turunnya ayat 3:128

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa Perang Uhud, ketika Nabi ﷺ terluka parah dan gigi beliau patah. Meskipun demikian, beliau tidak mendoakan kebinasaan bagi kaum yang menzalimi beliau, melainkan menyerahkan urusan kepada Allah. Lalu turunlah QS. Ali Imran [3]: 128 sebagai pengajaran bahwa keputusan akhir (ampunan atau hukuman) adalah hak Allah, bukan hak Nabi ﷺ maupun manusia.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Ali Imran [3]: 128:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Terjemahan: "Bukanlah urusanmu (sedikit pun) tentang keputusan itu, apakah Dia (Allah) menerima tobat mereka atau menyiksa mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (no. 3002) dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه, dan beliau menilai: "Hadits ini hasan shahih." Peristiwa serupa juga disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Anas dan Ibnu Mas'ud رضي الله عنهما.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai teguran halus (ta'dib) dari Allah kepada Nabi ﷺ, bahwa beliau tidak memiliki wewenang memutuskan ampunan atau azab bagi kaum musyrikin.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa Nabi ﷺ adalah makhluk yang tidak mengetahui perkara ghaib, dan urusan hidayah serta azab sepenuhnya milik Allah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa peristiwa Uhud menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi ﷺ, bahkan kepada musuhnya.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Pada Perang Uhud (tahun 3 H), kaum musyrikin Quraisy menyerang Nabi ﷺ secara langsung. Gigi seri beliau patah, dahi beliau terluka, dan darah mengalir di wajah beliau. Dalam kondisi demikian, sebagian sahabat seperti Anas bin Malik menyaksikan bahwa Nabi ﷺ tidak mengutuk, tetapi justru menunjukkan keheranan: "Bagaimana mungkin suatu kaum yang melakukan ini kepada Nabi mereka bisa beruntung, padahal beliau menyeru mereka kepada Allah?"

Bagaimana ulama memahami:

  • Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ucapan Nabi ﷺ ini bukanlah doa kebinasaan, melainkan bentuk pengaduan kepada Allah sekaligus cerminan akhlak beliau yang mulia. Allah kemudian menurunkan QS. Ali Imran [3]: 128 sebagai jawaban: urusan memberi ampunan atau azab bukan milik Nabi ﷺ, tetapi milik Allah.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa peristiwa ini mengajarkan bahwa seorang dai tidak boleh memaksakan hasil dakwahnya. Tugasnya hanya menyampaikan, sedangkan hidayah adalah hak Allah.
  • Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui perkara ghaib, termasuk siapa yang akan masuk Islam dan siapa yang akan binasa. Ini menolak keyakinan yang berlebihan terhadap makhluk.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran tauhid: hanya Allah yang berhak memutuskan ampunan dan azab. Nabi ﷺ hanya hamba dan rasul yang wajib ditaati, bukan tempat bergantungnya keputusan akhir.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah menyebutkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan doa Nabi ﷺ yang ingin mengutuk kaum musyrikin, lalu Allah melarangnya. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Katsir dan as-Sa'di — adalah bahwa ayat ini turun sebagai pengajaran bahwa keputusan ampunan dan azab adalah hak Allah, bukan hak Nabi ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa setelah Perang Uhud, para sahabat melihat Nabi ﷺ dalam keadaan terluka parah. Darah mengalir di wajah beliau, gigi beliau patah, dan tubuh beliau lemah. Sebagian sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, doakanlah kebinasaan bagi mereka!" Namun Nabi ﷺ justru mengangkat tangan dan berdoa: "Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه).

Dalam riwayat lain, ketika Nabi ﷺ ditanya mengapa beliau tidak membalas, beliau menjawab bahwa beliau diutus bukan sebagai pelaknat, tetapi sebagai rahmat bagi seluruh alam. Hikmahnya: akhlak Nabi ﷺ adalah akhlak Al-Qur'an. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi menyerahkan urusan kepada Allah dengan penuh tawakal.

Kesimpulan Praktis

  1. Tugas dai hanya menyampaikan, bukan memaksa hasil. Hidayah adalah hak Allah.
  2. Jangan membalas keburukan dengan keburukan, terutama dalam dakwah. Nabi ﷺ memberi contoh akhlak mulia bahkan kepada musuhnya.
  3. Tauhid yang benar mengajarkan bahwa hanya Allah yang memutuskan ampunan dan azab. Jangan menggantungkan harapan kepada makhluk, termasuk kepada Nabi ﷺ.
  4. Bersabar dalam ujian dakwah. Peristiwa Uhud mengajarkan bahwa perjuangan menegakkan agama pasti menghadapi rintangan.
  5. Perbanyak doa dan tawakal, bukan mengutuk. Nabi ﷺ mengajarkan doa kebaikan bahkan untuk orang yang menzalimi beliau.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?