Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2984 tentang Bab Dan Dari Surah Al-Baqarah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Nabi ﷺ dan para sahabat terhadap salat, khususnya salat Ashar (yang disebut salat al-wustā – salat tengah). Ketika orang-orang musyrik menghalangi mereka dari menunaikan salat Ashar hingga matahari terbenam saat Perang Ahzab, Nabi ﷺ berdoa kepada Allah agar musuh-musuh itu mendapat balasan berupa api di kubur dan rumah mereka. Ini mengajarkan kita bahwa meninggalkan salat karena kesibukan duniawi adalah perkara besar, namun apabila terpaksa karena jihad atau udzur syar’i, maka Allah Maha Mengetahui.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat terkait

Allah berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

(QS. Al-Baqarah [2]: 238)

“Peliharalah semua salat (fardhu) dan (khususnya) salat al-wustā, dan berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk.”

Hadits (teks yang disebutkan)

Hadits riwayat Jāmi‘ at-Tirmidzī no. 2984, dari ‘Alī bin Abī Ṭālib, beliau berkata: “Nabi ﷺ pada hari (Perang) al-Aḥzāb bersabda: ‘Allāhumma imla’ qubūrahum wa buyūtahum nāran kamā syaghalūnā ‘an ṣalātil wusṭā ḥattā ghābat asy-syams’ (Ya Allah, penuhilah kubur mereka dan rumah mereka dengan api, sebagaimana mereka membuat kami sibuk dari salat al-wustā hingga matahari terbenam).”

Tirmidzī berkata: “Hadits hasan ṣaḥīḥ.”

Penjelasan ulama

  • Imam Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī (dalam Fatḥ al-Bārī) menegaskan bahwa ṣalāt al-wusṭā menurut jumhur sahabat dan tabi’in adalah salat Ashar, dan hadits ini menjadi dalil kuat.
  • Imam an-Nawawī (dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim) menjelaskan bahwa doa Nabi ﷺ ini menunjukkan kemurkaan beliau karena musyrik menghalangi salat yang sangat ditekankan.
  • Imam Ibn Katsīr (dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm) mengutip Qatādah dan Mujāhid bahwa al-wusṭā berarti salat Ashar, berdasarkan hadits ini dan riwayat lain.
  • Imam Aḥmad bin Ḥanbal meriwayatkan hadits serupa, dan Imam al-Bukhārī juga memuatnya dalam Ṣaḥīḥ-nya dari jalur lain.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa sahabat, termasuk ‘Alī, Ibnu Mas‘ūd, dan Jābir. Peristiwa ini terjadi pada Perang al-Aḥzāb (Perang Khandaq), ketika kaum muslimin dikepung oleh gabungan suku Quraisy, Ghatafan, dan Bani Quraizhah. Mereka sangat sibuk mempertahankan kota Madinah sehingga tidak sempat menunaikan salat Ashar pada waktunya. Setelah selesai pertempuran, Matahari telah tenggelam. Nabi ﷺ sangat sedih dan marah, lalu berdoa dengan doa di atas.

Yang dimaksud ṣalāt al-wusṭā adalah salat Ashar. Pendapat ini disepakati oleh mayoritas ulama dari kalangan sahabat seperti ‘Alī, Ibnu ‘Abbās, dan Jābir, serta para tabi‘in seperti Qatādah, Mujāhid, dan Sa‘īd bin al-Musayyib. Imam asy-Syāfi‘ī dan Imam Aḥmad juga memegang pendapat ini. Adapun beberapa riwayat lain menyebutnya salat Subuh, namun yang lebih kuat – sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Ḥajar dan an-Nawawī – adalah salat Ashar karena konteks hadits ini dan ayat 238 Al-Baqarah.

Doa Nabi ﷺ bukanlah doa yang kejam tanpa hikmah, melainkan ungkapan rasa cinta beliau terhadap salat dan kebencian terhadap orang yang menghalangi ketaatan kepada Allah. Para ulama seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim menjelaskan bahwa doa ini sesuai dengan keadilan Allah: mereka yang menghalangi manusia dari salat layak mendapat azab, apalagi mereka adalah musuh Islam. Namun, perlu diingat bahwa doa ini khusus untuk musuh yang memerangi, bukan untuk orang awam yang lalai.

Story Telling

Imam Ibn Rajab al-Ḥanbalī dalam Fatḥ al-Bārī (syarh hadits) menceritakan bahwa pada suatu hari, ‘Umar bin al-Khaṭṭāb radhiyallahu ‘anhu sangat marah karena seseorang meninggalkan salat Ashar berjamaah. Beliau berkata: “Orang yang meninggalkan salat Ashar, seakan-akan kehilangan keluarga dan hartanya.” (HR. Bukhari). Ini menunjukkan betapa besar perhatian para salaf terhadap salat ini. Kisah Perang Ahzab mengingatkan kita bahwa jihad yang paling besar sekalipun tidak boleh membuat kita lalai dari kewajiban salat, namun jika terpaksa, Allah Maha Pengampun.

Kesimpulan Praktis

  1. Salat Ashar adalah salat yang sangat ditekankan – disebut al-wusṭā (tengah) karena letaknya di antara salat malam dan siang, dan memiliki keutamaan khusus.
  2. Jangan mudah meninggalkan salat karena kesibukan dunia – doa Nabi ﷺ mengajarkan bahwa urusan duniawi tidak boleh lebih penting dari salat.
  3. Jika terpaksa meninggalkan salat karena udzur syar’i (jihad, sakit, dll), segera qadha’ – para sahabat mengqadha’ salat Ashar setelah matahari terbenam di hari itu.
  4. Balasan bagi yang meremehkan salat sangat berat, namun rahmat Allah lebih luas bagi yang bertaubat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk menjaga salat tepat waktu dan menjadikan kita hamba yang selalu ingat kepada-Nya.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.