Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan mendasar. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa doa adalah inti dari ibadah itu sendiri. Bukan sekadar bagian dari ibadah, tetapi doa adalah esensi dan ruhnya. Hadits ini juga menegaskan bahwa orang yang sombong dan enggan berdoa kepada Allah akan masuk neraka dalam keadaan hina, sebagaimana disebutkan di akhir ayat yang dibaca beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Firman Allah ﷻ:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Dan Rabbmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.'" (QS. Ghafir [40]: 60)
Hadits:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dari Surah Al-Baqarah, nomor 2969, dari sahabat An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai dalil utama tentang kedudukan doa. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah membahas hadits ini secara panjang lebar dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam ketika menjelaskan hadits ke-49 tentang doa. Beliau menukil perkataan para ulama salaf tentang makna "doa adalah ibadah".
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa makna sabda Nabi ﷺ "الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ" (doa adalah ibadah) memiliki beberapa pemahaman penting:
1. Doa adalah Hakikat Ibadah
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa doa adalah ibadah itu sendiri, bahkan ia adalah otak dan inti dari ibadah. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa doa adalah "otaknya ibadah" (دماغ العبادة). Ini karena doa mengandung pengakuan bahwa hanya Allah yang mampu memberikan manfaat dan menolak mudharat, hanya Allah yang mengabulkan permintaan, dan hanya kepada-Nya seseorang merendahkan diri dan memohon.
2. Doa Mencakup Dua Macam
Para ulama membagi doa menjadi dua macam:
- Doa ibadah (دعاء العبادة): yaitu segala bentuk ibadah yang dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, seperti shalat, puasa, zakat, dan lainnya. Karena pada hakikatnya, orang yang beribadah sedang "memanggil" dan "memohon" kepada Allah melalui perbuatannya.
- Doa permintaan (دعاء المسألة): yaitu memohon dan meminta sesuatu kepada Allah dengan lisan, seperti meminta rezeki, kesehatan, ampunan, dan sebagainya.
Kedua macam doa ini termasuk dalam makna hadits di atas. Orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh berarti sedang merealisasikan ibadah yang paling agung.
3. Ayat yang Dibaca Nabi ﷺ
Nabi ﷺ membacakan firman Allah: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu" hingga akhir ayat. Ini menunjukkan bahwa Allah mengaitkan doa dengan ibadah, dan orang yang enggan berdoa termasuk orang yang sombong dari beribadah kepada Allah. Akibatnya, mereka akan masuk neraka dalam keadaan hina dan rendah.
4. Peringatan Keras bagi yang Meninggalkan Doa
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah dorongan yang sangat kuat untuk berdoa, sekaligus peringatan keras bagi yang meninggalkannya. Orang yang tidak mau berdoa kepada Allah berarti telah menyombongkan diri dari ibadah, dan balasannya adalah neraka Jahanam dalam keadaan hina.
5. Keutamaan Doa sebagai Ibadah yang Paling Utama
Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits ini dalam bab tafsir, dan para ulama menjadikannya sebagai dalil bahwa doa adalah ibadah yang paling utama. Karena dalam doa, seseorang mengumpulkan seluruh makna ibadah: cinta, harap, takut, tunduk, dan merendahkan diri di hadapan Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf sangat menjaga waktu-waktu mustajab untuk berdoa. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah dikenal sebagai ulama yang banyak berdoa dan menangis dalam doanya. Beliau sering kali memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan, karena beliau memahami bahwa doa adalah senjata orang beriman dan inti dari ibadah.
Ada kisah bahwa sebagian salaf apabila tertimpa musibah, mereka justru memperbanyak doa, bukan mengeluh. Karena mereka yakin bahwa doa adalah kunci segala kebaikan. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama: "Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi."
Kesimpulan Praktis
Poin-poin yang bisa kita amalkan:
- Perbanyaklah doa dalam segala keadaan — baik senang maupun susah, karena doa adalah ibadah yang paling agung.
- Jangan pernah merasa cukup dari berdoa — karena meninggalkan doa termasuk kesombongan yang diancam dengan neraka.
- Gabungkan antara doa permintaan dan doa ibadah — yaitu dengan memperbanyak ibadah-ibadah lain seperti shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur'an, karena semua itu hakikatnya adalah doa kepada Allah.
- Berdoalah dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan, serta merendahkan diri dan khusyuk di hadapan-Nya.
- Jadikan doa sebagai kebiasaan harian — di pagi, sore, dan setiap selesai shalat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.