Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini (riwayat Tirmidzi no. 296) menyebut bahwa Nabi ﷺ pernah mengucapkan satu salam dalam shalat dengan sedikit menoleh ke kanan. Namun Imam Tirmidzi sendiri menjelaskan bahwa riwayat ini lemah dari sisi sanad, dan yang paling shahih dari Nabi ﷺ adalah dua salam (ke kanan dan ke kiri). Karena itu, yang utama dan dipegang mayoritas ulama adalah dua salam, sedangkan satu salam tetap ada dasarnya namun tidak lebih kuat.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Hadits dua salam (yang lebih shahih):
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ mengucapkan salam dua kali:
«السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ» يَلْتَفِتُ إِلَى يَمِينِهِ وَإِلَى شِمَالِهِ
(HR. Abu Dawud no. 996, Tirmidzi no. 295, Nasa'i, Ibnu Majah — dishahihkan oleh Tirmidzi dan al-Albani)
2. Ayat yang menjadi landasan umum tentang mengikuti sunnah:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
(QS. Al-Hasyr [59]: 7)
"Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah."
3. Penilaian Imam Tirmidzi dalam hadits ini sendiri:
Beliau berkata: "Hadits Aisyah ini tidak kami ketahui secara marfu' kecuali dari jalur ini." Lalu beliau mengutip penilaian Imam al-Bukhari (Muhammad bin Isma'il) bahwa Zuhair bin Muhammad — perawi dalam sanad ini — riwayat penduduk Syam darinya berisi manakir (riwayat-riwayat munkar), sedangkan riwayat penduduk Irak darinya lebih mirip dan lebih shahih. Imam Ahmad bin Hanbal juga menyatakan bahwa Zuhair bin Muhammad yang ada pada mereka seakan bukan Zuhair yang diriwayatkan di Irak, seakan-akan orang lain yang namanya tertukar.
4. Kesimpulan Imam Tirmidzi:
Beliau berkata: "Yang paling shahih dari riwayat-riwayat tentang Nabi ﷺ adalah dua salam, dan inilah yang dipegang mayoritas ahli ilmu dari sahabat Nabi ﷺ, tabi'in, dan orang-orang setelah mereka."
Penjelasan Rinci
Makna hadits: Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan satu salam sambil wajahnya menghadap ke depan lalu sedikit menoleh ke arah kanan.
Bagaimana ulama memahami hal ini:
- Imam Tirmidzi secara tegas menyatakan bahwa riwayat satu salam ini tidak kuat dari sisi sanad, karena kelemahan pada Zuhair bin Muhammad ketika diriwayatkan penduduk Syam. Beliau menegaskan bahwa yang ashah (paling shahih) adalah dua salam.
- Imam asy-Syafi'i — sebagaimana dikutip Tirmidzi di akhir hadits — memberi kelonggaran: "Jika mau, ia salam satu kali; jika mau, dua kali." Ini menunjukkan bahwa beliau membolehkan keduanya, meski yang lebih utama adalah dua salam sesuai hadits-hadits shahih.
- Imam Ahmad bin Hanbal (melalui penilaiannya tentang Zuhair) mengisyaratkan kelemahan jalur ini, sehingga tidak menjadikannya landasan utama.
- Mayoritas sahabat, tabi'in, dan ulama setelahnya — sebagaimana disebut Tirmidzi — berpegang pada dua salam. Ini juga pendapat yang dirajihkan oleh Syaikh al-Albani dan Syaikh al-Utsaimin dari kalangan ulama belakangan.
Catatan penting: Sebagian sahabat memang pernah mengamalkan satu salam dalam shalat wajib (sebagaimana disebut Tirmidzi: "dan segolongan sahabat Nabi ﷺ dan selain mereka berpendapat satu salam dalam shalat maktubah"). Namun ini dipahami sebagai rukhshah (keringanan) atau keadaan tertentu, bukan yang utama.
Kesimpulan ilmiah: Yang paling kuat menurut dalil adalah dua salam, karena hadits-haditsnya lebih shahih dan lebih banyak, serta menjadi pegangan mayoritas umat. Satu salam boleh secara fiqih menurut sebagian ulama (seperti Syafi'i), tetapi bukan yang paling utama.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Imam Tirmidzi (Abu Isa Muhammad bin Isa) dalam menyusun Jami'-nya sangat teliti: beliau tidak hanya meriwayatkan hadits, tetapi juga menyertakan penilaian sanad, menyebut pendapat Imam al-Bukhari dan Imam Ahmad, lalu menyimpulkan mana yang shahih. Dalam hadits ini beliau menunjukkan adab ilmiah: meski meriwayatkan hadits satu salam, beliau jujur menyatakan kelemahannya dan menegaskan bahwa dua salam lebih shahih. Ini mengajarkan kita sikap amanah dalam menyampaikan ilmu — tidak menyembunyikan kelemahan riwayat demi membela pendapat, dan tidak pula meninggalkan riwayat hanya karena berbeda. Hikmahnya: kebenaran ilmiah ditegakkan dengan kejujuran, bukan dengan fanatisme.
Kesimpulan Praktis
- Utamakan dua salam dalam shalat — ke kanan dan ke kiri — karena inilah yang paling shahih dari Nabi ﷺ dan dipegang mayoritas ulama.
- Ketahuilah bahwa riwayat satu salam ada, namun dinilai lemah oleh Imam Tirmidzi dan para imam hadits; sebagian ulama membolehkannya, tetapi bukan yang utama.
- Jangan mencela orang yang mengamalkan satu salam karena ada dasar pendapatnya, namun nasihatkan dengan lembut kepada yang lebih shahih.
- Teladani kejujuran ilmiah Imam Tirmidzi: sampaikan ilmu beserta kekuatannya, jangan mengarang atau menyembunyikan.
- Jika ragu tentang hukum rinci, kembalilah kepada ulama terpercaya dan pelajari dalilnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.