Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2954 tentang Yahudi dimurkai Allah dan Nasrani sesat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menafsirkan tiga golongan dalam Surah Al-Fatihah: orang yang diberi nikmat, orang yang dimurkai (Yahudi), dan orang yang sesat (Nasrani). Ini adalah tafsir nabawi yang shahih, dan para ulama Ahlus Sunnah memahami bahwa penyebutan Yahudi dan Nasrani di sini adalah sebagai contoh utama dari dua sifat tercela: mengetahui kebenaran lalu meninggalkannya (ghadhab), dan beribadah tanpa ilmu (dhalal). Kita diperintahkan memohon kepada Allah agar dijauhkan dari kedua sifat itu.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Fatihah [1]: 7

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Terjemahan: "(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2954) dari Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu, dan beliau menyebutkan bahwa hadits ini juga diriwayatkan dari Abu Hurairah. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan. Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan hadits serupa dalam Musnad-nya.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini menafsirkan tiga golongan: orang yang diberi nikmat (para nabi, shiddiqin, syuhada, shalihin), orang yang dimurkai (Yahudi — karena mereka mengetahui kebenaran lalu menentangnya), dan orang yang sesat (Nasrani — karena mereka beribadah tanpa ilmu).
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa "ghadhab" (murka) berkaitan dengan rusaknya kehendak/niat, sedangkan "dhalal" (sesat) berkaitan dengan rusaknya ilmu/pengetahuan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang tafsir Al-Fatihah ini menunjukkan bolehnya menafsirkan ayat dengan menyebut contoh konkret.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ menafsirkan potongan ayat terakhir Surah Al-Fatihah. Beliau menjelaskan bahwa:

  1. الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ (orang yang dimurkai) = Yahudi
  2. الضَّالِّينَ (orang yang sesat) = Nasrani

Bagaimana para ulama memahami ini:

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Yahudi disebut "maghdhub 'alaihim" (yang dimurkai) karena mereka mengetahui kebenaran tetapi sengaja meninggalkannya dan menentangnya. Mereka memiliki ilmu tetapi rusak niat dan amalnya. Sedangkan Nasrani disebut "dhallin" (yang sesat) karena mereka beribadah kepada Allah tanpa ilmu yang benar, sehingga mereka tersesat dalam keyakinan seperti trinitas dan lainnya.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin memperjelas:

  • Penyakit Yahudi = rusaknya kehendak (iradah) — mereka tahu tapi tidak mau mengikuti.
  • Penyakit Nasrani = rusaknya ilmu ('ilm) — mereka beribadah tapi tidak tahu caranya yang benar.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa kedua sifat ini adalah dua penyakit hati yang harus dijauhi: (1) meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya, dan (2) beramal tanpa ilmu. Seorang mukmin harus selamat dari keduanya: ia berilmu dan mengamalkan ilmunya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menyebutkan hadits ini sebagai dalil bahwa tafsir Nabi ﷺ terhadap Al-Fatihah adalah tafsir yang paling shahih dan wajib diikuti.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama menjelaskan bahwa penyebutan Yahudi dan Nasrani di sini bersifat tamtsil (contoh), bukan hashr (pembatasan). Artinya, setiap orang yang memiliki sifat seperti mereka — baik dari umat Islam maupun lainnya — bisa masuk dalam kategori tersebut. Ini dikuatkan oleh Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa yang menyatakan bahwa sifat ghadhab dan dhalal bisa menimpa siapa saja yang mengikuti jalan mereka.

Namun yang paling kuat dan sesuai zhahir hadits adalah bahwa Yahudi dan Nasrani adalah contoh utama dan pertama dari kedua sifat tersebut, sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir dan as-Sa'di.

Story Telling

Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu — sahabat yang meriwayatkan hadits ini — adalah putra Hatim ath-Tha'i, tokoh Arab yang terkenal dermawan sebelum Islam. Adi bin Hatim sendiri awalnya seorang Nasrani, kemudian masuk Islam.

Dalam sebuah riwayat, ketika Adi bin Hatim bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ayat Al-Fatihah ini, beliau menjelaskan dengan gamblang siapa yang dimaksud "maghdhub 'alaihim" dan "dhallin". Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias memahami Al-Qur'an langsung dari lisan Nabi ﷺ.

Hikmah: Seorang mukmin tidak cukup hanya membaca Al-Fatihah berulang-ulang dalam shalat, tetapi harus memahami maknanya dan berusaha selamat dari kedua sifat tercela tersebut. Al-Fatihah adalah doa sekaligus pelajaran — kita memohon jalan yang lurus, bukan jalan orang yang dimurkai atau yang sesat.

Kesimpulan Praktis

  1. Pahami Al-Fatihah — jangan hanya membacanya, tetapi renungkan maknanya setiap kali shalat.
  2. Jauhi sifat Yahudi — yaitu mengetahui kebenaran lalu sengaja meninggalkannya karena hawa nafsu.
  3. Jauhi sifat Nasrani — yaitu beribadah tanpa ilmu yang benar, mengikuti tradisi tanpa dalil.
  4. Gabungkan ilmu dan amal — inilah jalan orang yang diberi nikmat: berilmu, mengamalkan, dan istiqamah.
  5. Belajarlah tafsir dari ulama yang terpercaya — sebagaimana Nabi ﷺ menafsirkan Al-Qur'an, para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan dengan dalil.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?