Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2943 tentang Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf bacaan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf (sab'atu ahruf), yaitu keringanan dari Allah agar umat ini mudah membaca dan menghafal Al-Qur'an. Perbedaan bacaan yang terjadi antara Umar bin Al-Khattab dan Hisyam bin Hakim bukanlah kesalahan, karena Nabi ﷺ membenarkan keduanya. Yang wajib bagi kita adalah membaca Al-Qur'an sesuai riwayat yang sahih dan dipelajari dari guru yang terpercaya.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil Al-Qur'an:

Firman Allah ﷻ:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

QS. Al-Qamar [54]: 17

"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"

Dalil Hadits:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi no. 2943, dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Az-Zuhri dari Urwah bin Az-Zubair, dari Al-Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman bin Abd Al-Qari. Imam At-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini hasan sahih." Imam Malik juga meriwayatkan hadits serupa dari Az-Zuhri dengan sanad ini, hanya saja tidak menyebut Al-Miswar bin Makhramah.

Hadits ini juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

Makna "Tujuh Huruf" (Sab'atu Ahruf):

Para ulama dari daftar yang disebutkan berbeda pendapat dalam memaknai "tujuh huruf". Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan beberapa pendapat ulama, di antaranya:

  1. Tujuh huruf berarti tujuh bahasa (lughat) dari bahasa-bahasa Arab yang berbeda, seperti Quraisy, Hudzail, Tamim, dan lainnya.
  2. Tujuh huruf berarti tujuh macam bacaan yang berbeda dalam hal i'rab, tashrif, taqdim, ta'khir, dan ibdal (penggantian huruf).
  3. Tujuh huruf adalah keringanan (rukhshah) dari Allah agar setiap kabilah Arab dapat membaca Al-Qur'an dengan dialeknya masing-masing.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa hikmah dari tujuh huruf adalah kemudahan bagi umat, karena bangsa Arab memiliki berbagai dialek dan logat. Allah ﷻ dengan rahmat-Nya mengizinkan Al-Qur'an dibaca dengan beberapa cara yang semuanya benar, selama tidak mengubah makna secara fundamental.

Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa menegaskan bahwa perbedaan bacaan yang termasuk dalam tujuh huruf adalah perbedaan yang diizinkan syariat, bukan perbedaan yang saling bertentangan. Semuanya adalah wahyu dari Allah ﷻ.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Umar bin Al-Khattab dalam semangatnya menjaga Al-Qur'an, namun juga menunjukkan bahwa ijtihadnya dalam mengingkari bacaan Hisyam tidaklah tepat, karena Nabi ﷺ membenarkan keduanya. Ini mengajarkan adab bahwa seseorang tidak boleh tergesa-gesa mengingkari sesuatu yang belum ia ketahui.

Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam An-Nubala menyebutkan bahwa Umar bin Al-Khattab adalah sahabat yang sangat teliti dalam masalah Al-Qur'an, namun beliau juga manusia yang bisa keliru dalam ijtihad, dan beliau segera menerima kebenaran ketika Nabi ﷺ menjelaskannya.

Pelajaran Penting:

  • Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf sebagai keringanan (taysir) dari Allah ﷻ.
  • Perbedaan bacaan yang sahih bukanlah pertentangan, melainkan variasi yang diizinkan.
  • Wajib bagi kita mengikuti bacaan yang mutawatir dan dipelajari dari guru yang sahih sanadnya.
  • Tidak boleh mengingkari bacaan yang sahih hanya karena kita tidak mengetahuinya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu — yang dikenal sangat tegas dalam membela kebenaran — mendengar Hisyam bin Hakim membaca Surat Al-Furqan dengan bacaan yang berbeda dari yang ia pelajari. Umar hampir saja memotong shalatnya karena begitu kuatnya rasa penasaran dan keinginan membela Al-Qur'an. Namun beliau menahan diri, menunggu sampai Hisyam selesai shalat, lalu memegang pakaiannya dan bertanya dengan tegas.

Ketika keduanya menghadap Nabi ﷺ, betapa indahnya jawaban Nabi ﷺ: "Lepaskan dia, wahai Umar. Bacalah, wahai Hisyam." Setelah Hisyam membaca, Nabi ﷺ bersabda: "Inilah cara diturunkannya." Lalu Umar membaca, dan Nabi ﷺ juga bersabda: "Inilah cara diturunkannya."

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menyebutkan bahwa kisah ini mengajarkan adab dalam berbeda pendapat: Umar tidak langsung menghukum, tetapi membawa perkara kepada Nabi ﷺ. Dan Nabi ﷺ tidak mencela salah satu dari mereka, tetapi membenarkan keduanya.

Hikmah: Betapa luasnya rahmat Allah ﷻ kepada umat ini. Al-Qur'an tidak hanya satu cara bacanya, tetapi Allah ﷻ memberikan keringanan dengan tujuh huruf agar setiap orang dapat membaca dan menghafalnya dengan mudah.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah Al-Qur'an sesuai riwayat yang sahih dan dipelajari dari guru yang sanadnya bersambung.
  2. Jangan mengingkari bacaan orang lain yang sahih hanya karena kita tidak mengetahuinya — pelajari dulu, tanyakan kepada ahli ilmu.
  3. Renungkan hikmah tujuh huruf: Allah ﷻ ingin memudahkan umat-Nya dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an.
  4. Tumbuhkan adab dalam berbeda pendapat, seperti yang dicontohkan Umar dan Hisyam: kembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
  5. Perbanyak membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang benar, karena ia adalah kalam Allah yang penuh berkah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?