Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah membaca potongan ayat dari Surah Al-Waqi'ah, yaitu firman Allah: "Farūḥun wa raiḥānun wa jannatu na'īm" (QS. Al-Waqi'ah [56]: 89). Ayat ini menggambarkan nikmat besar bagi orang-orang yang dekat kepada Allah di akhirat: ketenangan, rezeki yang harum dan baik, serta surga yang penuh kenikmatan. Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib, dan para ulama memahaminya sebagai dalil bahwa Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dengan tartil dan kadang menampakkan bacaan pada ayat tertentu untuk mengajarkan umatnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Waqi'ah [56]: 89
فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ
Terjemahan ringkas: "Maka (baginya) ketenangan, rezeki yang harum/baik, dan surga yang penuh kenikmatan."
Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian QS. Al-Waqi'ah [56]: 88–89, yang berbicara tentang keadaan orang-orang yang muqarrabīn (orang-orang yang didekatkan kepada Allah) ketika ruh mereka dicabut dan saat mereka memasuki kehidupan akhirat.
Hadits terkait:
- Hadits riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha, dari Jami' at-Tirmidzi no. 2938, Kitab Bacaan Rasulullah ﷺ, Bab tentang Surah Al-Waqi'ah. Imam at-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Harun al-A'war."
- Hadits ini juga menunjukkan kebiasaan Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dengan suara yang jelas saat mengajar, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab as-Sunan dan dipahami oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari serta Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim bahwa Nabi ﷺ kadang mengeraskan bacaan untuk tujuan pengajaran.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "farūḥ" bermakna rāḥah (ketenangan) dan isti'rāḥ (istirahat dari segala kesusahan), sedangkan "raiḥān" bermakna rezeki yang baik dan harum, dan "jannatu na'īm" adalah surga yang penuh kenikmatan yang tidak pernah habis.
- As-Sa'di dalam Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān menegaskan bahwa tiga nikmat ini mencakup nikmat batin (ketenangan hati), nikmat jasmani (rezeki), dan nikmat tempat (surga).
- Imam an-Nawawi dalam at-Tibyān fī Ādāb Ḥamalatil Qur'ān menekankan adab membaca Al-Qur'an dengan tartil dan tadabbur, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Makna ayat dan konteksnya
Surah Al-Waqi'ah [56] membagi manusia pada hari kiamat menjadi tiga golongan:
- As-Sābiqūn al-Muqarrabūn — orang-orang yang paling dahulu beriman dan didekatkan kepada Allah.
- Aṣḥāb al-Yamīn — golongan kanan.
- Aṣḥāb asy-Syamāl — golongan kiri (celaka).
Ayat 88–89 berbicara tentang golongan pertama. Allah berfirman:
فَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ
"Adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka (baginya) ketenangan, rezeki yang harum, dan surga yang penuh kenikmatan."
Penjelasan ulama daftar:
- Mujahid bin Jabr (tabi'in, ahli tafsir) menafsirkan "farūḥ" sebagai rāḥah — ketenangan dan istirahat dari segala kepayahan dunia.
- Qatadah bin Di'amah as-Sadusi menjelaskan "raiḥān" sebagai rezeki yang baik dan berkah, ada pula yang memahami sebagai tumbuhan harum di surga.
- Al-Hasan al-Bashri menyebutkan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang beriman yang taat: begitu ruhnya dicabut, ia langsung merasakan ketenangan, bukan kengerian.
- Ibnu Katsir dalam Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm merangkum: "Farūḥ" adalah rahmat dan ketenangan, "raiḥān" adalah rezeki yang mulia, dan "jannatu na'īm" adalah surga yang penuh kenikmatan abadi.
- As-Sa'di menambahkan bahwa penyebutan tiga hal ini secara berurutan menunjukkan kesempurnaan nikmat: nikmat ruhani, nikmat jasmani, dan nikmat tempat tinggal.
Kaitan dengan hadits Aisyah
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membaca ayat ini secara jelas di hadapan Aisyah radhiyallahu 'anha. Ini mengandung beberapa pelajaran:
- Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dengan tartil dan memperhatikan makna.
- Beliau kadang mengeraskan bacaan tertentu untuk mengajarkan kepada keluarga dan sahabat.
- Aisyah radhiyallahu 'anha adalah salah satu ummul mu'minīn yang paling banyak meriwayatkan bacaan dan sifat shalat Nabi ﷺ.
Status hadits
Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib — hasan dari sisi sanad, tetapi gharib karena hanya dikenal melalui jalur Harun al-A'war. Para ulama hadits seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Tahdzīb at-Tahdzīb menyebut Harun al-A'war sebagai perawi yang layyin (tidak kuat), namun hadits ini tetap diterima karena didukung makna ayat yang jelas dan tidak bertentangan dengan riwayat lain.
Perbedaan pendapat
Sebagian ulama berbeda dalam memahami apakah Nabi ﷺ membaca ayat ini dalam shalat atau di luar shalat. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa riwayat-riwayat seperti ini menunjukkan kebiasaan Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an di berbagai keadaan, baik dalam shalat maupun di luar shalat, dan tidak ada pertentangan di antara keduanya. Yang paling kuat: hadits ini menunjukkan bacaan Nabi ﷺ secara umum, dan menjadi dalil keutamaan Surah Al-Waqi'ah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha suatu ketika mendengar Nabi ﷺ membaca ayat "Farūḥun wa raiḥānun wa jannatu na'īm" dengan suara yang lembut dan penuh penghayatan. Aisyah pun merenungkan maknanya: betapa besar kabar gembira yang Allah siapkan bagi orang-orang yang dekat kepada-Nya — ketenangan yang tidak pernah terusik, rezeki yang tidak pernah habis, dan surga yang penuh kenikmatan.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata kepada murid-muridnya: "Barangsiapa ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, hendaklah ia melihat bagaimana ia membaca Al-Qur'an dan bagaimana ia mengamalkannya." Kisah ini mengajarkan bahwa membaca Al-Qur'an bukan sekadar melafalkan huruf, tetapi menghadirkan hati untuk merenungi janji-janji Allah.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Laṭā'if al-Ma'ārif menyebutkan bahwa para salaf sangat mencintai Surah Al-Waqi'ah dan sering membacanya, karena di dalamnya terdapat gambaran jelas tentang hari kiamat dan balasan bagi orang beriman.
Kesimpulan Praktis
- Rutinkan membaca Surah Al-Waqi'ah, terutama pada waktu malam, karena di dalamnya terdapat kabar gembira bagi orang beriman.
- Bacalah Al-Qur'an dengan tartil dan tadabbur, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ — tidak terburu-buru, dan berusaha memahami maknanya.
- Renungkan ayat 88–89 Surah Al-Waqi'ah: bahwa ketenangan, rezeki baik, dan surga adalah janji Allah bagi orang yang taat.
- Ajarkan Al-Qur'an kepada keluarga, sebagaimana Nabi ﷺ membacakan di hadapan Aisyah radhiyallahu 'anha.
- Jangan meremehkan hadits hasan, karena para ulama seperti at-Tirmidzi, Ibnu Hajar, dan an-Nawawi tetap menerimanya sebagai dalil selama tidak bertentangan dengan yang lebih kuat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.