Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bagaimana Nabi ﷺ di musim haji menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah Arab agar ada yang mau melindungi dan membawanya kepada kaumnya, karena Quraisy menghalangi beliau menyampaikan wahyu Allah. Hadits ini menunjukkan kesabaran luar biasa Nabi ﷺ dalam berdakwah, kesungguhan beliau menyampaikan risalah meski ditolak dan dihalangi, serta menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak berputus asa dalam menyampaikan kebenaran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Pahala Al-Qur'an, no. 2925, dari sahabat Jabir bin 'Abdullah رضي الله عنه. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini gharib shahih.
Adapun ayat yang sangat relevan dengan semangat dakwah Nabi ﷺ dan kesabarannya:
QS. Al-Muddatstsir [74]: 1-7
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
Terjemahan ringkas: "Wahai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa, dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah."
Ayat ini memerintahkan Nabi ﷺ untuk bangkit berdakwah dan bersabar — sebagaimana tercermin dalam hadits Jabir ini.
QS. Al-Hijr [15]: 94
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
Terjemahan ringkas: "Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik."
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Hadits ini menggambarkan salah satu fase dakwah Nabi ﷺ di Makkah, di mana beliau mendatangi kabilah-kabilah Arab yang datang berhaji di Mina (di tempat yang disebut Mawqif, yaitu tempat wukuf/berkumpulnya jamaah haji). Nabi ﷺ menawarkan diri kepada mereka: "Siapakah yang mau membawaku kepada kaumnya?" — maksudnya, adakah yang mau melindungi dan menolong beliau agar bisa menyampaikan Islam dengan aman. Beliau menyebutkan alasannya: "Karena Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan firman Tuhanku."
Bagaimana ulama memahami hadits ini:
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits-hadits serupa tentang tawaran Nabi ﷺ kepada kabilah-kabilah, menjelaskan bahwa ini menunjukkan kesungguhan Nabi ﷺ dalam menyampaikan risalah dan kesabarannya menghadapi berbagai penolakan. Beliau tidak duduk diam menunggu, tetapi aktif mencari jalan agar dakwah sampai kepada manusia.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ menawarkan diri kepada kabilah-kabilah ini adalah bagian dari tawakkal dan ikhtiar — beliau berusaha semaksimal mungkin, lalu hasilnya diserahkan kepada Allah. Ini juga menunjukkan bahwa menyampaikan kebenaran membutuhkan perlindungan dan dukungan, bukan sekadar kemampuan pribadi.
Ibn Katsir dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat-ayat awal surah Al-Muddatstsir menegaskan bahwa perintah "qum fa andzir" (bangunlah lalu berilah peringatan) adalah titik awal kerasulan yang penuh tantangan. Nabi ﷺ menghadapi penolakan dari kaumnya sendiri, Quraisy, yang merasa terancam dengan dakwah tauhid. Namun beliau tetap sabar dan terus mencari cara agar risalah sampai kepada manusia.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pada musim haji mendatangi kabilah-kabilah seperti Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, dan lainnya. Beliau menawarkan Islam dan meminta perlindungan. Sebagian menolak dengan kasar, sebagian diam, hingga akhirnya Allah mempertemukan beliau dengan kaum Anshar dari Yatsrib (Madinah) yang menerima dan melindungi beliau. Ini menunjukkan bahwa kesabaran dan istiqamah akan berbuah manis pada waktunya.
Pelajaran penting:
- Dakwah membutuhkan kesabaran berlapis. Nabi ﷺ tidak hanya dihina, tetapi juga dihalangi secara fisik dan sosial. Namun beliau tidak berhenti.
- Aktif mencari jalan, bukan pasif menunggu. Nabi ﷺ mendatangi kabilah-kabilah, memanfaatkan momen haji — ini adalah strategi dakwah yang cerdas dan penuh tawakkal.
- Keikhlasan dalam menyampaikan. Nabi ﷺ berkata "firman Tuhanku" — menunjukkan bahwa motivasi beliau murni menyampaikan wahyu Allah, bukan mencari kekuasaan atau keuntungan pribadi.
- Allah akan menolong agama-Nya. Meski Quraisy menghalangi, Allah akhirnya membuka jalan melalui kaum Anshar. Ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah datang pada waktu yang tepat.
Catatan tentang status hadits:
Imam At-Tirmidzi menyebut hadits ini gharib shahih. Gharib berarti ada keanehan pada sanad (misalnya hanya diriwayatkan melalui satu jalur tertentu), namun shahih berarti sanadnya memenuhi syarat keshahihan. Para ulama hadits seperti Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi menerima hadits-hadits serupa tentang tawaran Nabi ﷺ kepada kabilah-kabilah sebagai bagian dari sirah yang shahih, karena didukung riwayat-riwayat lain.
Story Telling
Kisah Nabi ﷺ di Musim Haji — Mengetuk Pintu-Pintu Kabilah
Bayangkan suasana Mina pada musim haji, beberapa tahun sebelum hijrah. Di tengah keramaian jamaah haji dari berbagai kabilah Arab, berdiri seorang pria yang wajahnya bersinar — Nabi Muhammad ﷺ. Beliau mendatangi kemah demi kemah, kabilah demi kabilah.
Kepada Bani Kindah, beliau berkata: "Maukah kalian menerima Islam dan melindungiku?" Mereka menolak.
Kepada Bani Hanifah, beliau menawarkan hal yang sama. Mereka bahkan menjawab dengan kata-kata yang kasar.
Kepada Bani Amir bin Sha'sha'ah, beliau menawarkan Islam. Mereka tertarik, tetapi mengajukan syarat: "Kami akan masuk Islam asalkan setelah kamu wafat, kepemimpinan jatuh kepada kami." Nabi ﷺ menolak tegas, karena beliau tidak menjual agama Allah dengan tawaran dunia.
Di tengah penolakan demi penolakan, beliau tetap berdiri, tetap menawarkan, tetap berharap. Beliau berkata: "Siapakah orang yang akan membawa saya kepada kaumnya? Karena sesungguhnya Quraisy telah menghalangi saya untuk menyampaikan firman Tuhanku."
Hingga akhirnya, Allah mempertemukan beliau dengan enam orang dari Yatsrib (suku Khazraj) yang sedang berhaji. Mereka mendengarkan, mereka berpikir, dan mereka menerima. Mereka berkata: "Kami akan kembali kepada kaum kami dan akan mengajak mereka masuk Islam."
Beberapa tahun kemudian, kaum Anshar dari Madinah datang, berbai'at kepada Nabi ﷺ di Aqabah, dan berjanji melindungi beliau dengan jiwa dan harta mereka. Dari sinilah cahaya Islam bersinar terang, dan hijrah pun terjadi.
Hikmah: Setiap penolakan bukan akhir, tetapi bagian dari perjalanan menuju pertolongan Allah. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa pintu yang tertutup bukan alasan untuk berhenti mengetuk pintu yang lain.
Kesimpulan Praktis
- Jangan berputus asa dalam menyampaikan kebaikan. Nabi ﷺ ditolak berkali-kali, tetapi tetap berdakwah. Kita pun jangan berhenti mengajak kepada kebaikan meski ditolak.
- Bersabarlah menghadapi rintangan. Quraisy menghalangi Nabi ﷺ, tetapi beliau tidak membalas dengan kekerasan. Beliau tetap lembut dan sabar.
- Carilah jalan dan kesempatan. Nabi ﷺ memanfaatkan momen haji untuk berdakwah. Kita pun hendaknya mencari cara yang tepat untuk menyampaikan kebaikan sesuai kemampuan.
- Ikhlaslah karena Allah. Motivasi Nabi ﷺ adalah menyampaikan firman Allah, bukan mencari keuntungan pribadi.
- Yakinlah pertolongan Allah akan datang. Setelah bertahun-tahun ditolak, Allah membuka jalan melalui kaum Anshar. Pertolongan Allah pasti datang bagi orang yang sabar dan istiqamah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.