Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi dua pelajaran penting. Pertama, seorang yang membaca Al-Qur'an dianjurkan untuk meminta kepada Allah dengan perantara Al-Qur'an tersebut, yaitu memohon karunia dan kebaikan dari Allah karena telah membaca kitab-Nya. Kedua, Rasulullah ﷺ mengabarkan akan datang suatu kaum yang menjadikan Al-Qur'an sebagai alat untuk meminta-minta kepada manusia, dan ini adalah perbuatan yang tercela. Hadits ini mengajarkan kita untuk memuliakan Al-Qur'an dengan tidak menjadikannya sebagai alat mencari keuntungan duniawi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Pahala Al-Qur'an, Bab tentang keutamaan membaca Al-Qur'an, no. 2917. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan (baik) meskipun sanadnya tidak terlalu kuat.
Dalil lain yang memperkuat makna hadits ini adalah firman Allah ﷻ:
QS. Al-Baqarah [2]: 152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."
QS. Al-Fatihah [1]: 5
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan."
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hamba diperintahkan untuk meminta hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk.
Hadits lain yang senada, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ"
"Barangsiapa meminta-minta kepada manusia untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya ia meminta bara api. Maka silakan ia sedikitkan atau perbanyak." (HR. Muslim)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan hadits ini dari beberapa sudut pandang:
1. Makna "meminta kepada Allah dengan Al-Qur'an"
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an adalah ibadah yang agung. Ketika seseorang membaca Al-Qur'an, ia sedang berinteraksi dengan kalamullah. Maka sangat tepat jika ia memanfaatkan momen tersebut untuk memohon kepada Allah berbagai kebaikan, baik kebaikan dunia maupun akhirat. Ini adalah bentuk tawassul dengan amal shalih, yaitu menjadikan amal kebaikannya sebagai wasilah untuk memohon kepada Allah.
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya menjelaskan bahwa di antara adab membaca Al-Qur'an adalah ketika melewati ayat rahmat, seorang pembaca dianjurkan berdoa memohon rahmat Allah, dan ketika melewati ayat azab, ia dianjurkan berlindung kepada Allah dari azab tersebut. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an adalah momen yang sangat baik untuk berdoa kepada Allah.
2. Larangan menjadikan Al-Qur'an sebagai alat meminta kepada manusia
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mengandung peringatan keras terhadap orang-orang yang menjadikan Al-Qur'an sebagai profesi untuk mencari harta dari manusia. Mereka membaca Al-Qur'an dengan suara merdu di hadapan orang banyak, lalu meminta imbalan atau sedekah. Ini adalah perbuatan yang sangat tercela karena:
- Menjadikan kalamullah sebagai alat mencari keuntungan duniawi
- Menghinakan kedudukan Al-Qur'an yang seharusnya dibaca dengan ikhlas karena Allah
- Membuka pintu riya' dan sum'ah (ingin dipuji)
Imam Al-Barbahari dalam kitabnya Syarhus Sunnah menegaskan bahwa seorang muslim hendaknya tidak menjadikan ibadah sebagai alat untuk mencari dunia. Ibadah harus murni karena Allah.
3. Kisah Imran bin Husain
Dalam riwayat ini, Imran bin Husain radhiyallahu 'anhu melewati seseorang yang membaca Al-Qur'an lalu meminta-minta kepada orang-orang. Beliau mengucapkan istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) sebagai ekspresi keterkejutan dan kesedihan atas perilaku tersebut. Beliau kemudian menyampaikan sabda Nabi ﷺ untuk mengingatkan bahwa perbuatan itu keliru.
Imam Al-Hasan Al-Bashri, yang meriwayatkan hadits ini dari Imran bin Husain, dikenal sangat keras dalam masalah keikhlasan dan sangat membenci orang yang menjadikan ibadah sebagai alat mencari dunia.
4. Perbedaan antara meminta kepada Allah dan meminta kepada manusia
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa seorang hamba hendaknya selalu menggantungkan harapannya hanya kepada Allah. Jika ia membaca Al-Qur'an, maka ia memohon kepada Allah agar diberi pemahaman, amalan, dan pahala. Adapun meminta kepada manusia, maka itu adalah perbuatan yang dilarang kecuali dalam keadaan darurat yang dibenarkan syariat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf sangat menjaga keikhlasan mereka dalam membaca Al-Qur'an. Imam Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar yang terkenal dengan kezuhudannya, pernah berkata: "Dahulu orang-orang (salaf) membaca Al-Qur'an untuk Allah dan untuk kepentingan akhirat mereka. Adapun sekarang, orang-orang membacanya untuk kepentingan dunia mereka."
Beliau juga berkata: "Sesungguhnya seorang hamba itu diuji dengan dua hal: ketika ia diberi nikmat, apakah ia bersyukur; dan ketika diuji dengan musibah, apakah ia bersabar. Dan aku melihat kebanyakan manusia lebih bangga dengan banyaknya bacaan Al-Qur'an mereka daripada bangga dengan mengamalkannya."
Kisah ini menunjukkan betapa para ulama salaf sangat menjaga keikhlasan dalam beribadah, termasuk dalam membaca Al-Qur'an. Mereka tidak menjadikan ibadah sebagai alat untuk mencari pujian atau keuntungan duniawi.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak membaca Al-Qur'an dengan ikhlas karena Allah semata, bukan untuk pamer atau mencari keuntungan duniawi.
- Manfaatkan momen membaca Al-Qur'an untuk berdoa kepada Allah, memohon kebaikan dunia dan akhirat, karena ini adalah waktu yang mustajab.
- Jauhkan diri dari menjadikan Al-Qur'an sebagai alat mencari harta atau popularitas. Ini adalah perbuatan yang ditegur oleh Nabi ﷺ.
- Jika ingin memberi upah kepada pengajar Al-Qur'an, maka hal itu diperbolehkan dalam kaidah fiqih dengan syarat tidak menjadi tujuan utama. Namun yang terbaik adalah mengajarkan Al-Qur'an dengan ikhlas karena Allah.
- Teladani sikap para salaf yang sangat menjaga keikhlasan dan menjauhkan diri dari riya' dalam beribadah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.