Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2914 tentang Pahala membaca Al-Qur'an dan ketinggian derajat penghafalnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi para penghafal dan pembaca Al-Qur'an. Ia menjelaskan bahwa di surga kelak, seorang hamba yang tekun membaca Al-Qur'an di dunia akan terus dinaikkan derajatnya sesuai dengan hafalan dan bacaannya. Semakin banyak ia hafal dan semakin baik ia membacanya, semakin tinggi pula kedudukannya di surga. Ini adalah dorongan agar kita bersungguh-sungguh dalam membaca, menghafal, dan mentadabburi Al-Qur'an.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab Fada'il Al-Qur'an (Buku Pahala Al-Qur'an), bab tentang keutamaan membaca Al-Qur'an, nomor 2914. Beliau menilai hadits ini hasan shahih.

Teks Hadits (Arab berharakat):

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِيُّ وَأَبُو نُعَيْمٍ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ، عَنْ زِرٍّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "يُقَالُ يَعْنِي لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا". قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Terjemahan: Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Akan dikatakan -yaitu kepada orang yang membaca (menghafal) Al-Qur'an-: 'Bacalah, dan naiklah, serta bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia. Karena sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.'" Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Firman Allah ﷻ tentang tingginya derajat orang-orang yang berilmu dan beramal, yang di antaranya adalah para pembaca dan pengamal Al-Qur'an:

QS. Al-Mujadilah [58]: 11

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."

Kaitan dengan Ulama:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dan beliau adalah salah satu imam hadits dalam daftar rujukan kita.
  • Para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar dan Al-Mubarakfuri (yang menulis Tuhfatul Ahwadzi, syarah Sunan At-Tirmidzi) menjelaskan makna hadits ini. Namun, karena Al-Mubarakfuri tidak termasuk dalam daftar rujukan, kita akan merujuk pada penjelasan yang sejalan dengan pemahaman ulama dalam daftar, seperti Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya tentang keutamaan ilmu dan Al-Qur'an, serta Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya yang menekankan bahwa derajat di surga sesuai dengan amal.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. "Shahibul Qur'an" yang dimaksud dalam hadits ini adalah orang yang membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur'an. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Fadhl 'Ilm As-Salaf 'ala Al-Khalaf atau pembahasannya tentang keutamaan Al-Qur'an menekankan bahwa keutamaan ini tidak hanya untuk sekadar menghafal, tetapi juga bagi mereka yang tekun membacanya dengan tartil dan mengamalkannya.
  2. Perintah "Iqra' wa irtaqi" (Bacalah dan naiklah) menunjukkan bahwa naiknya derajat seorang mukmin di surga seiring dengan bacaannya. Semakin banyak ayat yang ia baca dan hafal, semakin tinggi kedudukan yang ia capai. Ini adalah bentuk kemuliaan yang Allah berikan khusus kepada ahli Al-Qur'an.
  3. "Wa rattil kama kunta turattilu fid-dunya" (dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia). Ini menunjukkan bahwa cara membaca di surga kelak akan disesuaikan dengan kualitas bacaan di dunia. Orang yang membiasakan diri membaca dengan tartil, perlahan, dan merenungkan maknanya di dunia, maka dia akan diberi kenikmatan membaca yang sempurna di surga. Ini adalah dorongan untuk tidak terburu-buru dalam membaca Al-Qur'an, tetapi memperhatikan tajwid dan maknanya.
  4. "Fa inna manzilataka 'inda akhiri ayatin taqra'u biha" (Sesungguhnya kedudukanmu berada pada akhir ayat yang engkau baca). Ini adalah puncak kabar gembira. Derajat seseorang di surga sangat terkait dengan sejauh mana ia menghafal dan membaca Al-Qur'an. Imam As-Sa'di dalam menjelaskan ayat-ayat tentang balasan surga sering menekankan bahwa kenikmatan surga itu beragam dan bertingkat, sesuai dengan amal dan ilmu seseorang. Maka, orang yang hafalannya banyak, derajatnya lebih tinggi.

Catatan Penting: Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah pahala ini khusus bagi penghafal Al-Qur'an atau juga bagi pembaca yang tekun. Pendapat yang lebih kuat dan mencakup adalah bahwa hadits ini berlaku umum bagi siapa saja yang serius dengan Al-Qur'an, baik menghafal maupun membaca dengan tartil. Karena pada hakikatnya, menghafal adalah bagian dari "membaca" yang berulang-ulang. Yang terpenting adalah kesungguhan dan kualitas bacaan serta amalannya.

Story Telling

Dahulu, Imam Sufyan Ats-Tsauri - salah satu ulama besar dalam daftar rujukan kita - dikenal sangat zuhud dan takut kepada Allah. Suatu ketika, beliau ditanya tentang amalan yang paling utama. Beliau tidak serta-merta menjawab dengan panjang lebar, tetapi menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah sebaik-baiknya teman dan amalan. Para salaf sangat menjaga hubungan mereka dengan Al-Qur'an. Mereka membaca, mentadabburi, dan mengamalkannya. Mereka yakin bahwa setiap huruf yang mereka baca adalah cahaya dan setiap ayat yang mereka hafal adalah tangga menuju surga.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa para ulama terdahulu tidak hanya mengejar banyaknya hafalan, tetapi juga kualitas bacaan dan pengamalan. Mereka memahami bahwa Al-Qur'an adalah "hujjah" (pembela) bagi pembacanya di hari kiamat, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim. Maka, mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai jalan hidup, bukan sekadar bacaan ritual.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak membaca dan menghafal Al-Qur'an dengan niat ikhlas karena Allah, bukan untuk pamer atau riya'.
  2. Bacalah dengan tartil, yaitu perlahan, memperhatikan tajwid, dan merenungkan maknanya. Jangan terburu-buru.
  3. Jadwalkan waktu khusus setiap hari untuk membaca Al-Qur'an, walaupun hanya beberapa ayat, agar hubungan kita dengan Al-Qur'an terus terjaga.
  4. Amalkan isi kandungannya. Karena Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dijadikan petunjuk hidup.
  5. Jangan pernah berhenti untuk meningkatkan hafalan dan kualitas bacaan, karena semakin tinggi amal kita, semakin tinggi pula derajat kita di sisi Allah kelak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi