Penjelasan Hadits: "Sebaik-baik Kalian adalah yang Belajar Al-Qur'an dan Mengajarkannya"
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang Muslim diukur dari kedekatannya dengan Al-Qur'an, yaitu dengan mempelajarinya dengan benar lalu mengajarkannya kepada orang lain. Belajar saja belum cukup jika tidak diamalkan dan diajarkan, dan mengajar saja tidak sah jika tanpa ilmu. Inilah jalan para salafus shalih, sebagaimana dicontohkan oleh Abu Abdur-Rahman as-Sulami yang mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan Al-Qur'an selama puluhan tahun.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Pahala Al-Qur'an, Bab Apa yang Diriwayatkan tentang Mengajarkan Al-Qur'an (no. 2907), dari Utsman bin Affan رضي الله عنه. At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari (Kitab Fadhail Al-Qur'an), dari jalur yang sama.
Ayat Al-Qur'an yang relevan — QS. Al-Qamar [54]: 17:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"
Kaitan dengan ulama: Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memudahkan lafaz dan makna Al-Qur'an untuk dihafal dan dipahami, sehingga tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk meninggalkan belajar dan mengajarkannya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu dan pengajaran Al-Qur'an, dan bahwa keutamaan ini mencakup semua yang terlibat dalam khidmat Al-Qur'an — baik guru maupun murid.
Penjelasan Rinci
Makna "khairukum" (sebaik-baik kalian): Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "khairukum" menunjukkan puncak keutamaan, bukan sekadar keutamaan biasa. Artinya, orang yang menggabungkan dua sifat ini — belajar dan mengajar — berada pada derajat tertinggi di antara manusia.
Makna "ta'allama" (belajar): Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa belajar di sini mencakup belajar bacaan (tajwid), hafalan, makna, tafsir, dan pengamalannya. Belajar yang benar adalah yang menghasilkan amal, bukan sekadar pengetahuan.
Makna "wa 'allamahu" (dan mengajarkannya): Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menyebutkan bahwa mengajarkan Al-Qur'an adalah bentuk sedekah ilmu yang pahalanya terus mengalir. Beliau berkata bahwa seorang guru Al-Qur'an adalah orang yang paling dekat dengan sumber cahaya kenabian.
Urutan "belajar lalu mengajar": Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menekankan bahwa urutan ini penting — seseorang harus berilmu sebelum berbicara. Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya membuat bab khusus "Al-'Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-'Amal" (ilmu sebelum berkata dan beramal), yang menunjukkan bahwa mengajar tanpa belajar adalah kesalahan.
Perkataan Abu Abdur-Rahman as-Sulami: "Itulah yang membuatku duduk di tempat ini" — beliau mengajarkan Al-Qur'an sejak masa Utsman bin Affan hingga masa Al-Hajjaj bin Yusuf, sekitar 40 tahun lebih. Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala mencatat bahwa Abu Abdur-Rahman as-Sulami adalah tabi'in yang dikenal sebagai guru Al-Qur'an di Kufah, dan muridnya yang terkenal adalah Imam Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri dalam hal qira'ah.
Perbedaan pendapat ulama: Sebagian ulama seperti Ibnul Mubarak dan Fudhail bin 'Iyadh memahami "belajar dan mengajar" mencakup seluruh ilmu syar'i, bukan hanya Al-Qur'an, karena Al-Qur'an adalah sumber segala ilmu. Namun Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menegaskan keutamaan khusus bagi pengajar Al-Qur'an karena nash hadits menyebutkan Al-Qur'an secara spesifik. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat kedua, karena zahir hadits menyebut Al-Qur'an secara khusus, dan inilah yang dipegang oleh Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan jumhur ulama.
Story Telling
Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya meriwayatkan bahwa Utsman bin Affan رضي الله عنه — khalifah yang mulia, pemilik dua cahaya — tidak hanya menyampaikan hadits ini, tetapi beliau sendiri adalah teladan dalam mengamalkannya. Beliau mengumpulkan umat untuk satu mushaf, memerintahkan penulisan Al-Qur'an, dan mengirim para qari ke berbagai wilayah. Inilah wujud nyata dari "belajar dan mengajar" pada level kepemimpinan.
Adz-Dzahabi juga menceritakan tentang Abu Abdur-Rahman as-Sulami yang ketika ditanya mengapa beliau tetap duduk mengajar meski usia telah senja, beliau menjawab dengan hadits ini. Beliau berkata: "Hadits inilah yang membuatku duduk di tempat ini." Beliau mengajar dari pagi hingga sore, dan tidak pernah bosan meski murid-muridnya berganti generasi. Hikmahnya: seorang guru Al-Qur'an menjadikan hadits ini sebagai niat hidupnya, bukan sekadar hafalan.
Kesimpulan Praktis
- Belajarlah Al-Qur'an dengan benar — bacaan, tajwid, makna, dan tafsir — melalui guru yang terpercaya, bukan hanya dari buku atau aplikasi.
- Ajarkanlah apa yang telah engkau pelajari, meski sedikit, kepada keluarga, anak, atau masyarakat sekitar.
- Jadikan niat mengajar sebagai ibadah yang pahalanya mengalir, sebagaimana dicontohkan Abu Abdur-Rahman as-Sulami.
- Jangan mengajar tanpa ilmu, karena mengajar Al-Qur'an adalah amanah yang berat dan membutuhkan kesiapan ilmu serta adab.
- Muliakan para pengajar Al-Qur'an, karena mereka adalah orang-orang yang disebut Nabi ﷺ sebagai "sebaik-baik manusia."
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.