Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2873 tentang Perumpamaan manusia yang sedikit yang layak ditunggangi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan kondisi umat manusia secara umum: sangat banyak jumlahnya, namun yang benar-benar memiliki kualitas keimanan dan amal yang lurus—seperti unta yang layak ditunggangi—sangatlah sedikit. Ini adalah perumpamaan dari Nabi ﷺ agar kita tidak tertipu oleh banyaknya jumlah, tetapi justru berlomba-lomba memperbaiki kualitas diri agar termasuk yang "layak" di sisi Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Perumpamaan dari Rasulullah ﷺ, Bab "Perumpamaan Anak Adam dan Umurnya serta Harapannya", nomor 2873. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma.

Teks Hadits (sebagaimana dalam riwayat At-Tirmidzi):

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، بِهَذَا الإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَقَالَ: "لاَ تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً" أَوْ قَالَ: "لاَ تَجِدُ فِيهَا إِلاَّ رَاحِلَةً".

Terjemahan: Dari Salim, dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Manusia itu seperti seratus unta, kamu tidak akan menemukan unta yang dapat ditunggangi di antara mereka—atau beliau bersabda—kamu tidak akan menemukan kecuali satu unta yang dapat ditunggangi di antara mereka."

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya." (QS. Yusuf [12]: 103)

Ayat ini menunjukkan bahwa banyaknya manusia tidak otomatis berarti banyaknya yang beriman dengan benar. Ini sejalan dengan makna hadits di atas.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran besar tentang realitas manusia. Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya, dan para ulama menjelaskan maknanya sebagai berikut:

1. Makna "seratus unta" dan "satu unta yang layak ditunggangi"

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa unta yang "layak ditunggangi" (رَاحِلَة) adalah unta yang kuat, sehat, patuh, dan mampu diajak bepergian jauh. Sedangkan unta lainnya mungkin sehat tetapi tidak patuh, atau patuh tetapi lemah, atau kuat tetapi sakit, dan seterusnya. Demikian pula manusia: banyak yang mengaku beriman, tetapi yang benar-benar imannya kokoh, amalnya lurus, akhlaknya mulia, dan istiqamah di atas sunnah—itu sangat sedikit.

2. Pelajaran dari hadits ini menurut para ulama

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sedikitnya orang yang benar-benar berpegang teguh pada kebenaran secara sempurna. Beliau mengaitkannya dengan sabda Nabi ﷺ yang lain tentang umatnya yang terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya satu yang selamat.

Syaikh Al-Albani rahimahullah menilai hadits ini shahih dalam Shahih At-Tirmidzi dan Shahih Al-Jami'.

3. Perbedaan redaksi "لاَ تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً" atau "لاَ تَجِدُ فِيهَا إِلاَّ رَاحِلَةً"

Dalam riwayat At-Tirmidzi terdapat keraguan perawi tentang redaksi persisnya. Namun makna keduanya berdekatan: sangat sulit menemukan unta yang layak ditunggangi di antara seratus unta. Bahkan dalam riwayat lain yang lebih tegas, disebutkan "tidak engkau dapati kecuali satu". Ini menunjukkan betapa langkanya kualitas yang sempurna.

4. Konteks hadits

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam konteks pembahasan tentang sedikitnya orang yang benar-benar berilmu dan beramal. Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini bukan berarti manusia tidak berharga, tetapi justru memotivasi kita untuk menjadi yang terbaik di antara banyaknya manusia.

5. Pelajaran tentang kualitas vs kuantitas

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya sering menekankan bahwa Allah ﷻ tidak melihat banyaknya jumlah, tetapi melihat kualitas keimanan dan ketakwaan. Ini sejalan dengan firman Allah:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf sangat memperhatikan kualitas amal mereka dibanding kuantitasnya. Dikisahkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Bukanlah yang dimaksud dengan iman itu sekadar angan-angan dan perhiasan, tetapi iman adalah apa yang meresap dalam hati dan dibenarkan oleh amal perbuatan. Sesungguhnya suatu kaum telah menjadikan angan-angan sebagai pembicaraan mereka hingga mereka pergi tanpa membawa amal. Demi Allah, seseorang tidak akan mendapatkan kebaikan kecuali dengan amal yang benar."

Ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memperhatikan kualitas amal, bukan sekadar banyaknya pengakuan atau klaim keimanan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan tertipu oleh banyaknya manusia yang mungkin berada di atas kebatilan atau kelalaian. Yang penting adalah kebenaran, bukan kebanyakan.
  2. Perbaiki kualitas diri—keimanan, ibadah, akhlak, dan keistiqamahan—agar kita termasuk yang "layak" di sisi Allah, bukan sekadar "ada" di antara keramaian.
  3. Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu yang benar dan mengamalkannya, karena yang selamat hanyalah yang berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman salaf.
  4. Jadikan hadits ini sebagai motivasi, bukan keputusasaan. Karena meskipun yang layak hanya satu dari seratus, kita harus berusaha menjadi yang satu itu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?