Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2865 tentang Perumpamaan mukmin dan munafik terkait membaca Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memberikan empat perumpamaan tentang manusia berdasarkan dua hal: iman atau kemunafikan, dan membaca atau tidak membaca Al-Qur'an. Orang beriman yang membaca Al-Qur'an paling sempurna manfaatnya, sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an paling buruk keadaannya. Intinya, Al-Qur'an menambah cahaya pada hati yang beriman, tetapi tidak bermanfaat bagi hati yang munafik.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Perumpamaan dari Rasulullah ﷺ, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, dan dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dalam kitab shahih mereka dari Abu Musa Al-Asy'ari.

Ayat yang berkaitan dengan keadaan orang beriman dan munafik ketika mendengar Al-Qur'an:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

QS. Al-Baqarah [2]: 8

"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,' padahal mereka sebenarnya bukan orang beriman."

Ayat lain:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

QS. Al-Anfal [8]: 2

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka mereka bertawakal."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggunakan empat perumpamaan yang sangat indah dan mudah dipahami:

Pertama: Mukmin yang membaca Al-Qur'an seperti buah utrujjah (sitrun/jeruk besar). Baunya harum dan rasanya enak. Ini menggambarkan mukmin yang menggabungkan dua kebaikan: amal lahir (membaca dan mengamalkan Al-Qur'an) dan amal batin (hati yang bersih dan beriman). Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa buah ini sempurna dari segala sisi, sebagaimana mukmin yang membaca Al-Qur'an sempurna manfaatnya untuk dirinya dan orang lain.

Kedua: Mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an seperti buah tamr (kurma). Tidak berbau, tetapi rasanya manis. Ini menggambarkan mukmin yang hatinya bersih dan beriman, tetapi tidak memiliki keutamaan membaca Al-Qur'an. Ia tetap bermanfaat, tetapi tidak selengkap yang pertama. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ini menunjukkan iman tetap ada meski tanpa tilawah, namun tilawah menambah keutamaan.

Ketiga: Munafik yang membaca Al-Qur'an seperti raihanah (basil/selada). Baunya harum tetapi rasanya pahit. Ini menggambarkan orang yang secara lahir tampak baik karena membaca Al-Qur'an, tetapi hatinya rusak karena kemunafikan. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kemunafikan merusak hakikat amal, sehingga yang tampak indah di luar tidak menyelamatkan dari keburukan batin.

Keempat: Munafik yang tidak membaca Al-Qur'an seperti handzalah (buah harung/labu pahit). Baunya pahit dan rasanya pahit. Ini adalah keadaan paling buruk: lahir dan batinnya rusak. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa hati yang kosong dari iman dan Al-Qur'an akan menjadi tempat tumbuhnya kemunafikan dan kekeringan ruhani.

Para ulama dari daftar yang disebutkan, seperti Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibn Katsir, dan Ibnu Qayyim, sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur'an dan bahaya kemunafikan. Perbedaan pendapat tidak signifikan di kalangan mereka; yang paling kuat adalah bahwa iman dan tilawah adalah dua cahaya yang saling menguatkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah seorang yang sangat mencintai Al-Qur'an dan suaranya indah dalam membaca. Rasulullah ﷺ pernah memuji bacaan beliau. Suatu ketika, beliau membacakan Al-Qur'an di malam hari, dan Rasulullah ﷺ mendengarkan sambil berkata bahwa beliau telah diberi salah satu seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an dengan iman akan memancarkan keindahan lahir dan batin, seperti buah sitrun yang harum dan manis. Sebaliknya, orang munafik yang membaca Al-Qur'an hanya mengambil kulitnya, bukan intinya, sehingga pahit rasanya di hadapan Allah. Kisah ini disebutkan dalam hadits-hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah membaca Al-Qur'an dengan hati yang hadir, karena ia menambah iman dan menjadikan kita seperti buah sitrun yang bermanfaat bagi diri dan orang lain.
  2. Jangan merasa cukup hanya dengan iman tanpa tilawah; iman yang tidak disertai Al-Qur'an tetap baik, tetapi kurang sempurna.
  3. Jauhilah kemunafikan, karena ia merusak amal meskipun lahirnya tampak baik.
  4. Berusahalah menjadi mukmin yang membaca dan mengamalkan Al-Qur'an, bukan hanya membacanya tanpa mengamalkan.
  5. Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?