Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memberikan empat perumpamaan tentang manusia berdasarkan dua hal: iman atau kemunafikan, dan membaca atau tidak membaca Al-Qur'an. Orang beriman yang membaca Al-Qur'an paling sempurna manfaatnya, sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an paling buruk keadaannya. Intinya, Al-Qur'an menambah cahaya pada hati yang beriman, tetapi tidak bermanfaat bagi hati yang munafik.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Perumpamaan dari Rasulullah ﷺ, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, dan dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dalam kitab shahih mereka dari Abu Musa Al-Asy'ari.
Ayat yang berkaitan dengan keadaan orang beriman dan munafik ketika mendengar Al-Qur'an:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
QS. Al-Baqarah [2]: 8
"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,' padahal mereka sebenarnya bukan orang beriman."
Ayat lain:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
QS. Al-Anfal [8]: 2
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka mereka bertawakal."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggunakan empat perumpamaan yang sangat indah dan mudah dipahami:
Pertama: Mukmin yang membaca Al-Qur'an seperti buah utrujjah (sitrun/jeruk besar). Baunya harum dan rasanya enak. Ini menggambarkan mukmin yang menggabungkan dua kebaikan: amal lahir (membaca dan mengamalkan Al-Qur'an) dan amal batin (hati yang bersih dan beriman). Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa buah ini sempurna dari segala sisi, sebagaimana mukmin yang membaca Al-Qur'an sempurna manfaatnya untuk dirinya dan orang lain.
Kedua: Mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an seperti buah tamr (kurma). Tidak berbau, tetapi rasanya manis. Ini menggambarkan mukmin yang hatinya bersih dan beriman, tetapi tidak memiliki keutamaan membaca Al-Qur'an. Ia tetap bermanfaat, tetapi tidak selengkap yang pertama. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ini menunjukkan iman tetap ada meski tanpa tilawah, namun tilawah menambah keutamaan.
Ketiga: Munafik yang membaca Al-Qur'an seperti raihanah (basil/selada). Baunya harum tetapi rasanya pahit. Ini menggambarkan orang yang secara lahir tampak baik karena membaca Al-Qur'an, tetapi hatinya rusak karena kemunafikan. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kemunafikan merusak hakikat amal, sehingga yang tampak indah di luar tidak menyelamatkan dari keburukan batin.
Keempat: Munafik yang tidak membaca Al-Qur'an seperti handzalah (buah harung/labu pahit). Baunya pahit dan rasanya pahit. Ini adalah keadaan paling buruk: lahir dan batinnya rusak. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa hati yang kosong dari iman dan Al-Qur'an akan menjadi tempat tumbuhnya kemunafikan dan kekeringan ruhani.
Para ulama dari daftar yang disebutkan, seperti Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibn Katsir, dan Ibnu Qayyim, sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur'an dan bahaya kemunafikan. Perbedaan pendapat tidak signifikan di kalangan mereka; yang paling kuat adalah bahwa iman dan tilawah adalah dua cahaya yang saling menguatkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah seorang yang sangat mencintai Al-Qur'an dan suaranya indah dalam membaca. Rasulullah ﷺ pernah memuji bacaan beliau. Suatu ketika, beliau membacakan Al-Qur'an di malam hari, dan Rasulullah ﷺ mendengarkan sambil berkata bahwa beliau telah diberi salah satu seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an dengan iman akan memancarkan keindahan lahir dan batin, seperti buah sitrun yang harum dan manis. Sebaliknya, orang munafik yang membaca Al-Qur'an hanya mengambil kulitnya, bukan intinya, sehingga pahit rasanya di hadapan Allah. Kisah ini disebutkan dalam hadits-hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyaklah membaca Al-Qur'an dengan hati yang hadir, karena ia menambah iman dan menjadikan kita seperti buah sitrun yang bermanfaat bagi diri dan orang lain.
- Jangan merasa cukup hanya dengan iman tanpa tilawah; iman yang tidak disertai Al-Qur'an tetap baik, tetapi kurang sempurna.
- Jauhilah kemunafikan, karena ia merusak amal meskipun lahirnya tampak baik.
- Berusahalah menjadi mukmin yang membaca dan mengamalkan Al-Qur'an, bukan hanya membacanya tanpa mengamalkan.
- Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.