Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita untuk menjauhi sikap berlebihan dalam berbicara, yaitu memaksakan diri untuk tampil fasih dengan gaya bahasa yang rumit, berbelit-belit, dan dibuat-buat. Allah ﷻ membenci orang yang "menjulurkan lidahnya" seperti sapi, yaitu berbicara dengan cara yang tidak wajar dan berlebihan. Islam mengajarkan kita untuk berbicara dengan jelas, ringkas, dan penuh makna, bukan sekadar pamer kepandaian berbahasa.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab "Apa yang Dikatakan tentang Fasih dan Jelas", nomor 2853. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dari jalur ini.
Teks Hadits (dengan harakat):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ الْمُقَدَّمِيُّ، حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ الْجُمَحِيُّ، عَنْ بِشْرِ بْنِ عَاصِمٍ، سَمِعَهُ يُحَدِّثُ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْبَلِيغَ مِنَ الرِّجَالِ الَّذِي يَتَخَلَّلُ بِلِسَانِهِ كَمَا تَتَخَلَّلُ الْبَقَرَةُ"
Makna Ringkas: Sesungguhnya Allah membenci orang yang berlebihan dalam berbicara (al-baliigh), yaitu orang yang menjulur-julurkan lidahnya (memaksakan diri berbicara dengan gaya yang rumit) seperti sapi yang menjulurkan lidahnya.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." (QS. Al-Isra' [17]: 37)
Ayat ini meskipun berbicara tentang cara berjalan, namun secara prinsip mengajarkan agar kita tidak berlebihan dalam segala hal, termasuk dalam berbicara.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan makna hadits ini dengan beberapa poin penting:
1. Makna "al-Baliigh" (البليغ)
Imam Al-Khattabi (dalam Ma'alim as-Sunan) menjelaskan bahwa yang dimaksud al-baliigh di sini bukanlah orang yang sekadar fasih, tetapi orang yang berlebihan dalam berbicara dan memaksakan diri untuk tampil dengan gaya bahasa yang rumit dan berbelit-belit. Ini berbeda dengan balaghah (kefasihan) yang terpuji, yaitu berbicara sesuai dengan situasi dan kondisi, ringkas namun padat makna.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa berbicara dengan fasih dan jelas adalah sesuatu yang terpuji, tetapi yang tercela adalah memaksakan diri dan berlebihan hingga keluar dari batas kewajaran. Beliau mencontohkan bahwa Nabi ﷺ sendiri berbicara dengan jelas dan ringkas, tidak bertele-tele.
2. Makna "Yatakhallalu bi Lisaanihi" (يتخلل بلسانه)
Imam Ibnu al-Atsir dalam an-Nihayah fi Gharib al-Hadits menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah kiasan bagi orang yang memutar-mutar lidahnya dalam berbicara, seperti sapi yang menjulurkan lidahnya ke kiri dan ke kanan. Ini menggambarkan seseorang yang berbicara dengan cara yang tidak wajar, berbelit-belit, dan dibuat-buat.
3. Hikmah Larangan Ini
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan agar seorang muslim berbicara dengan tawadhu' (rendah hati) dan tidak sombong dengan kepandaiannya. Berbicara dengan gaya yang rumit sering kali lahir dari keinginan untuk dipuji dan dianggap hebat, yang merupakan penyakit hati.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menambahkan bahwa hadits ini juga mengajarkan agar kita menjauhi sikap ghuluw (berlebihan) dalam segala hal, termasuk dalam cara berbicara. Beliau menekankan bahwa kesederhanaan dan kejelasan adalah ciri khas ajaran Islam.
4. Pengecualian: Kefasihan yang Terpuji
Perlu ditegaskan bahwa hadits ini tidak melarang kefasihan secara mutlak. Nabi ﷺ sendiri adalah orang yang paling fasih dan jelas dalam berbicara. Yang dilarang adalah memaksakan diri dan berlebihan hingga keluar dari batas kewajaran. Imam Asy-Syafi'i dikenal sangat fasih dalam berbahasa Arab, namun beliau tetap berbicara dengan sederhana dan tidak berlebihan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bernama Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang kaya hati (tidak butuh pada manusia), dan yang tersembunyi (tidak menonjolkan diri).'" (HR. Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kesederhanaan dan tidak menonjolkan diri, termasuk dalam hal berbicara. Sahabat yang paling dicintai Nabi ﷺ adalah mereka yang tidak suka pamer dan berlebihan dalam segala hal.
Kesimpulan Praktis
- Berbicaralah dengan jelas dan ringkas, sesuai kebutuhan, tanpa memaksakan gaya bahasa yang rumit.
- Jauhi sikap ghuluw (berlebihan) dalam berbicara, karena ini adalah tanda kesombongan dan keinginan untuk dipuji.
- Utamakan makna daripada gaya bahasa; yang terpenting adalah pesan yang tersampaikan dengan baik.
- Tawadhu' dalam berbicara; jangan merasa lebih hebat dari orang lain karena kepandaian berbahasa.
- Teladani Nabi ﷺ yang berbicara dengan jelas, ringkas, dan penuh hikmah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.