Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2845 tentang Sebagian puisi mengandung hikmah yang bermanfaat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ bahwa tidak semua syair (puisi) itu tercela. Ada sebagian syair yang mengandung hikmah, yaitu perkataan yang benar, bijak, dan bermanfaat, selaras dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Syair seperti ini dibolehkan bahkan bisa terpuji, selama isinya tidak bertentangan dengan agama dan tidak melalaikan dari kewajiban.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat At-Tirmidzi:

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنَ الشِّعْرِ لَحُكْمًا

"Sesungguhnya sebagian dari syair itu adalah hikmah." (HR. At-Tirmidzi no. 2845, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma; dinilai hasan shahih oleh At-Tirmidzi)

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman tentang para penyair yang beriman dan beramal shalih:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

QS. Asy-Syu'ara' [26]: 227

Artinya: "Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, banyak menyebut nama Allah, dan membela diri setelah dizalimi. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali."

Ayat ini menunjukkan bahwa ada pengecualian bagi penyair yang beriman dan beramal shalih, yang syairnya tidak tercela.

Kaitan dengan Ulama:

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya sebuah atsar dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa beliau berkata: "Jika syair itu baik, maka ia adalah hikmah." Ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ di atas.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa syair pada asalnya adalah perkataan yang indah dan bisa mempengaruhi hati. Karena itu, syair bisa menjadi baik atau buruk tergantung isi dan tujuannya.

1. Makna "Hikmah" dalam Hadits

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Syair yang disebut hikmah adalah syair yang mengandung kebenaran, nasihat, dan ajaran yang bermanfaat. Syair seperti ini tidak tercela, bahkan bisa menjadi sarana dakwah yang efektif.

2. Sikap Nabi ﷺ terhadap Syair

Nabi ﷺ sendiri pernah mendengarkan syair dan mempersilakan para sahabat untuk membacanya di hadapan beliau. Dalam Shahih Al-Bukhari, disebutkan bahwa Nabi ﷺ mendengarkan syair yang dibacakan oleh Al-Ash'a bin Qais, dan beliau tidak melarangnya. Bahkan, ada riwayat bahwa Nabi ﷺ pernah meminta sahabatnya untuk menyindir kaum musyrik dengan syair, seperti yang dilakukan oleh Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu.

3. Syair yang Tercela

Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan bahwa syair yang tercela adalah syair yang berisi:

  • Kebohongan dan pujian yang berlebihan
  • Perkataan yang sia-sia dan melalaikan dari dzikir kepada Allah
  • Menghina agama, ulama, atau kaum muslimin
  • Mengandung hal-hal yang diharamkan seperti pujian terhadap kemaksiatan

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata: "Syair itu adalah perkataan. Maka yang baik darinya adalah yang baik, dan yang buruk darinya adalah yang buruk." Beliau juga dikenal sebagai ulama yang menguasai syair dan menggunakannya untuk memperkaya bahasa Arab dalam memahami Al-Qur'an dan Hadits.

4. Syair yang Terpuji

Adapun syair yang terpuji adalah syair yang:

  • Mengandung nasihat dan peringatan
  • Mengajak kepada kebaikan dan menjauhi kemungkaran
  • Membela agama Islam dan kaum muslimin
  • Menggambarkan keindahan alam sebagai tanda kekuasaan Allah
  • Menguatkan semangat jihad dan keutamaan akhlak mulia

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang hukum syair, beliau menjawab: "Syair itu boleh, selama tidak berisi hal yang diharamkan." Beliau sendiri dikenal menyukai syair-syair hikmah dan zuhud.

5. Peringatan dari Ghuluw (Berlebihan)

Para ulama juga mengingatkan agar kita tidak berlebihan dalam menilai syair. Ada sebagian orang yang mengharamkan semua syair, dan ada pula yang membolehkan semua syair tanpa pandang isi. Kedua sikap ini keliru. Yang benar adalah sikap pertengahan: syair dinilai dari isinya. Jika isinya baik, maka baik; jika isinya buruk, maka buruk.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ masuk ke Masjid Nabawi, dan beliau mendapati Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu sedang membacakan syair di dalam masjid. Umar bin Al-Khaththab yang saat itu berada di dekat beliau berkata dengan nada agak keras. Maka Nabi ﷺ bersabda:

"Wahai Umar, sesungguhnya Hassan sedang membela (Islam) dengan syairnya, maka dukunglah dia." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda tentang Hassan:

"Wahai Allah, dukunglah dia dengan Ruhul Qudus (Jibril), karena dia membela Nabi-Mu." (HR. Al-Bukhari)

Kisah ini menunjukkan bahwa syair yang digunakan untuk membela Islam dan menolak serangan musuh-musuh Islam adalah syair yang terpuji dan mendapat dukungan dari Allah melalui malaikat Jibril.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menghakimi semua syair sebagai haram — karena Nabi ﷺ sendiri membolehkan dan bahkan memuji sebagian syair yang mengandung hikmah.
  2. Perhatikan isi syair — jika berisi kebaikan, nasihat, dan kebenaran, maka boleh didengarkan dan diamalkan. Jika berisi kemaksiatan atau kebatilan, maka wajib dijauhi.
  3. Gunakan syair untuk kebaikan — syair bisa menjadi sarana dakwah yang efektif, terutama di zaman sekarang melalui media sosial dan lagu-lagu nasyid yang syar'i.
  4. Jangan melalaikan kewajiban — syair atau seni apa pun tidak boleh membuat kita lalai dari shalat, dzikir, dan kewajiban agama lainnya.
  5. Teladani para sahabat dan salaf — mereka menggunakan syair untuk membela Islam, menasihati kaum muslimin, dan menggambarkan keindahan akhlak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.