Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2837 tentang Larangan memberi nama Raja Segala Raja

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa seburuk-buruk dan paling hina nama di sisi Allah pada Hari Kiamat adalah seseorang yang menamai dirinya "Malikul Amlak" (Raja segala raja), karena nama ini menyerupai sifat khusus milik Allah. Sufyan bin 'Uyainah menjelaskan bahwa maknanya dalam bahasa Persia adalah "Syahan Syah", dan "akhna'" berarti "paling buruk". Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (perawi: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu):

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «أَخْنَعُ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ تَسَمَّى بِمَلِكِ الأَمْلَاكِ»

"Nama yang paling hina di sisi Allah pada Hari Kiamat adalah seorang laki-laki yang menamai dirinya dengan Malikul Amlak (Raja segala raja)." (HR. At-Tirmidzi no. 2837, Kitab Al-Adab, Bab Nama-nama yang Dibenci; beliau berkata: hasan shahih)

Hadits pendukung dari Al-Bukhari dan Muslim (makna senada):

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ أَخْنَعَ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلَاكِ

"Sesungguhnya nama yang paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang menamai dirinya Malikul Amlak." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, sebagaimana disebutkan dalam pembahasan para ulama)

Ayat yang berkaitan dengan keagungan nama Allah:

لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

"Milik-Nya nama-nama yang terbaik." (QS. Al-A'raf [7]: 180)

Dan firman Allah:

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

"Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?" (QS. Maryam [19]: 65)

Keterangan ulama:

  • Sufyan bin 'Uyainah (guru Imam Asy-Syafi'i, wafat 198 H) — beliau adalah perawi langsung hadits ini — menjelaskan: "Syahan Syah" (nama Persia untuk "raja segala raja"), dan "akhna'" artinya "aqbah" (paling buruk/hina).
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini karena nama tersebut mengandung keserupaan dengan nama Allah yang khusus bagi-Nya, yaitu "Malikul Muluk" (Raja segala raja).
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa yang dimaksud adalah nama yang mengandung pengagungan diri melebihi batas, menyerupai sifat rububiyah Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menyoroti satu dosa lisan dan hati yang tampak sepele, namun berat di sisi Allah: menamai diri dengan nama yang hanya layak bagi Allah.

Pertama: makna "Malikul Amlak".

Secara bahasa, Malikul Amlak berarti "Raja dari segala raja" atau "Penguasa atas semua penguasa". Ini adalah sifat yang hanya milik Allah ﷻ. Allah adalah Malikul Muluk (Raja segala raja), sebagaimana disebutkan dalam hadits lain yang shahih. Maka siapa pun yang menamai dirinya dengan nama ini, ia telah menempatkan dirinya pada kedudukan yang bukan haknya.

Kedua: mengapa disebut "akhna'"?

Kata akhna' (أَخْنَع) berarti paling hina, paling rendah, paling buruk. Sufyan bin 'Uyainah menjelaskan maknanya sebagai aqbah (paling buruk). Imam At-Tirmidzi meriwayatkan penjelasan ini langsung dari Sufyan. Jadi bukan sekadar "nama yang tidak baik", tetapi seburuk-buruk nama di hadapan Allah pada Hari Kiamat — hari ketika semua hakikat terungkap.

Ketiga: mengapa demikian berat?

Karena nama adalah cerminan pengakuan. Ketika seseorang menamai dirinya "Raja segala raja", ia secara tidak langsung mengklaim keagungan yang hanya milik Allah. Ini termasuk syirik dalam sifat (menyerupakan diri dengan Allah dalam sifat rububiyah), meskipun tidak sampai menyembah dirinya sendiri. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kesombongan dalam nama dan gelar adalah pintu menuju kesombongan hati, dan kesombongan hati adalah penyakit yang menghalangi seseorang dari surga.

Keempat: apakah larangan ini hanya untuk nama "Malikul Amlak" secara spesifik?

Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini mencakup semua nama yang mengandung pengagungan berlebihan yang menyerupai sifat Allah, seperti "Syahinsyah" (raja segala raja dalam bahasa Persia), "Raja diraja", atau gelar-gelar lain yang mengklaim kekuasaan mutlak. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa ini termasuk bab adab dalam memberi nama, dan seorang Muslim hendaknya memilih nama yang baik, yang mengandung penghambaan kepada Allah (seperti Abdullah, Abdurrahman) atau nama-nama para nabi dan orang shalih.

Kelima: adab dalam memberi nama.

Islam mengajarkan agar kita memberi nama yang baik, karena nama adalah doa dan identitas. Nabi ﷺ pernah mengganti beberapa nama yang buruk menjadi baik. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa memberi nama dengan nama yang mengandung penghambaan kepada selain Allah, atau mengklaim sifat ketuhanan, adalah perbuatan yang dilarang.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama memandang larangan ini haram (karena mengandung tasyabbuh dengan sifat Allah), dan sebagian memandangnya makruh tahrim (sangat dibenci). Namun yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi — adalah haram, karena hadits ini menggunakan kata akhna' (paling hina), yang menunjukkan dosa besar. Adapun jika seseorang sudah terlanjur memiliki nama demikian, hendaknya ia segera menggantinya dengan nama yang baik.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki pada masa Nabi ﷺ bernama "Syahinsyah" (raja segala raja). Ketika hal ini sampai kepada Nabi ﷺ, beliau menyatakan bahwa nama itu adalah seburuk-buruk nama di sisi Allah. Para sahabat pun memahami bahwa gelar-gelar kebesaran yang menyerupai sifat Allah harus dijauhi.

Dalam kisah lain, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Sesungguhnya kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam. Jika kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, Allah akan menghinakan kami." (HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh Adz-Dzahabi). Ini menunjukkan bahwa kemuliaan sejati bukan dari gelar, tetapi dari ketakwaan.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang menamai anaknya dengan nama yang mengandung pengagungan berlebihan. Beliau menjawab dengan tegas bahwa itu tidak boleh, dan hendaknya diganti dengan nama yang baik. Sikap ini menunjukkan bagaimana salaf menjaga tauhid hingga dalam hal nama.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi memberi nama atau gelar yang menyerupai sifat Allah, seperti "Malikul Amlak", "Syahinsyah", "Raja segala raja", atau sejenisnya.
  2. Pilih nama yang baik — yang mengandung penghambaan kepada Allah (Abdullah, Abdurrahman), nama para nabi, atau nama orang shalih.
  3. Jika sudah terlanjur memiliki nama demikian, segera ganti dengan nama yang lebih baik, karena nama adalah doa dan identitas.
  4. Renungkan: betapa beratnya dosa lisan dan hati yang tampak kecil, namun di sisi Allah sangat besar. Ini mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam berkata dan memberi gelar.
  5. Tanamkan tawadhu — kemuliaan bukan dari nama atau gelar, tetapi dari ketakwaan dan amal shalih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?