Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2789 tentang Anjuran tidak menolak pemberian minyak wangi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab yang lembut dan indah: Nabi ﷺ tidak pernah menolak pemberian minyak wangi (parfum). Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meneladani hal itu sepanjang hidupnya. Ini menunjukkan keutamaan menerima pemberian yang baik, menghargai perhatian orang lain, dan menjaga hubungan sosial dengan akhlak mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Akhlak dari Rasulullah ﷺ, Bab Apa yang Dikatakan tentang Kebencian Menolak Minyak Wangi (no. 2789). Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Perawi: Muhammad bin Basysyar → Abdurrahman bin Mahdi → 'Azrah bin Tsabit → Tsumamah bin Abdullah, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini juga memiliki penguat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sebagaimana disebutkan At-Tirmidzi dalam bab yang sama.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab menerima pemberian dan akhlak mulia:

QS. Al-A'raf [7]: 199

وَخُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

"Jadilah engkau pemaaf, perintahkanlah kepada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh."

Imam Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini mengandung arahan akhlak yang agung, termasuk bersikap lembut dan menerima kebaikan dari orang lain.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menyentuh satu adab yang sering diabaikan, padahal sangat berkaitan dengan kelembutan hati dan keindahan muamalah.

Pertama: makna "tidak menolak minyak wangi."

Minyak wangi (الطِّيب) adalah pemberian yang ringan, murah, tidak memberatkan, dan menyenangkan. Menolaknya bisa menyakiti perasaan pemberi, sedangkan menerimanya menumbuhkan kasih sayang. Karena itulah Nabi ﷺ tidak menolaknya.

Kedua: keteladanan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Anas adalah sahabat yang lama melayani Nabi ﷺ (sekitar sepuluh tahun). Ia dikenal sangat meneladani sunnah Nabi ﷺ dalam perkara-perkara kecil sekalipun. Tsumamah bin Abdullah menyaksikan sendiri bahwa Anas tidak pernah menolak minyak wangi, dan Anas menyandarkan hal itu kepada Nabi ﷺ.

Ketiga: penilaian Imam At-Tirmidzi.

Beliau menyatakan hadits ini hasan shahih, artinya dapat diterima dan diamalkan. Imam At-Tirmidzi juga menyebut adanya riwayat penguat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, yang menguatkan bahwa makna hadits ini memang tsabit (tetap) dari Nabi ﷺ.

Keempat: bagaimana para ulama memahami hadits ini.

  • Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab-kitab beliau tentang adab menegaskan bahwa menerima pemberian yang ringan (seperti parfum) termasuk akhlak mulia dan sunnah, sedangkan menolaknya tanpa alasan syar'i termasuk menyelisihi kelembutan Nabi ﷺ.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa di antara hikmahnya adalah menjaga perasaan sesama Muslim, karena menolak pemberian bisa menimbulkan kekecewaan.
  • Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam pembahasan akhlak Nabi ﷺ menekankan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia paling lembut dan paling mudah menerima kebaikan orang lain.

Kelima: adab yang terkandung.

  1. Menerima pemberian baik dengan wajah ramah.
  2. Tidak memandang rendah pemberian yang kecil.
  3. Menjaga hubungan sosial dengan kelembutan.
  4. Meneladani Nabi ﷺ dalam perkara kecil, bukan hanya perkara besar.

Catatan penting: Hadits ini bukan berarti wajib menerima setiap pemberian. Jika ada alasan syar'i (misalnya pemberian haram, atau ada mudharat), maka menolak dengan cara yang baik dibolehkan. Yang ditekankan di sini adalah adab lembut dalam menerima kebaikan orang lain.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pelayan Nabi ﷺ yang setia, suatu hari didatangi seseorang yang menghadiahkan minyak wangi. Tanpa ragu, Anas menerimanya dengan senyum. Ketika ditanya mengapa beliau selalu menerima minyak wangi, beliau menjawab dengan tenang: "Sesungguhnya Nabi ﷺ tidak pernah menolak minyak wangi."

Begitu dalam penghormatan Anas kepada sunnah Nabi ﷺ, sampai perkara sekecil parfum pun beliau jaga dan teladani. Inilah buah kebersamaan dengan Nabi ﷺ: hati yang lembut, akhlak yang indah, dan kesetiaan pada sunnah hingga detail terkecil. (Kisah ini disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi dan kitab-kitab adab yang membahas akhlak Nabi ﷺ.)

Kesimpulan Praktis

  1. Terimalah pemberian baik dengan ramah, terutama yang ringan seperti parfum, makanan kecil, atau hadiah sederhana.
  2. Jangan memandang rendah pemberian orang lain, sekecil apa pun.
  3. Teladani Nabi ﷺ dalam perkara kecil, karena akhlak mulia terbangun dari hal-hal kecil.
  4. Jaga perasaan sesama Muslim dengan tidak menolak pemberian tanpa alasan syar'i.
  5. Gunakan parfum dan wangi-wangian sebagai bagian dari sunnah dan kebersihan diri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?